Umm Kulthum: Nyanyian Perlawanan Sang Diva Arab

0
369

Musim gugur tahun 1967, di jantung kota Paris, Amfiteater Olympia penuh sesak. Ratusan pasang mata tertuju pada panggung. Mereka tidak sabar menyaksikan langsung sang diva yang selama ini hanya dikenal melalui radio. Panggung telah siap. sang bintang berdiri dengan ketenangan sempurna. Rambutnya digelung rapi tanpa penutup kepala. Di tangannya, sapu tangan yang menjadi ciri khasnya menggelayut begitu saja. Kali ini warnanya merah, senada dengan baju yang ia kenakan. Barisan pemain orkestra bersiap dengan oud, biola, qanun, nay dan daff mereka. Sejurus kemudian, irama instrumen terdengar bertalu-talu di ruangan. Penonton menyambut dengan gemuruh tepuk tangan. Tak lama setelah itu, sang idola mulai menghipnotis para penonton dengan suara emasnya. “Ragaouni aynayk el ayyam illi rahu …”

Namanya Umm Kulthum, orang menjulukinya “Kawkab el-Sharq”, Kejora dari Timur. Ia dianggap sebagai penyanyi Arab terbesar sepanjang masa. Cantik, bertalenta dan penuh kharisma, tiga modal yang mengantarkan Umm Kulthum ke puncak kejayaan. Ia selalu tampil mencolok dan sempurna, bersuara lantang, bahkan di tengah-tengah dominasi budaya patriarki yang mengakar kuat di Mesir. Lihat saja panggung konsernya! Tak ada satu pun perempuan di panggung kecuali ia seorang. Di restoran, di kafe, juga di rumah, orang menantikan konsernya mengudara melalui saluran radio setiap hari Kamis awal bulan. Ia membuat pendengarnya merindu, mencinta, dan merapuh, tanpa tahu kepada siapa rindu dan cintanya bermuara dan tanpa tahu sebab musabab rapuh hatinya.

Kehidupan di luar panggungnya tidak banyak diketahui, kecuali sedikit tentang asal usul dan pernikahannya saat ia memasuki masa paruh baya. Ia lahir dan tumbuh di Tamay al-Zahayra, sebuah distrik kecil di delta sungai Nil. Ayahnya seorang Imam masjid kampung. Dialah yang mendorong Umm Kulthum kecil untuk menyanyikan lagu-lagu religi dalam acara-acara keagamaan. Ia mendobrak tradisi saat itu di mana perempuan menyanyi dianggap tabu. Awalnya, Umm Kulthum berpakaian laiknya anak lelaki. Namun, semua berubah ketika ia memutuskan untuk mengadu nasib di Kairo pada tahun 1923. Baginya, hanya dengan berpenampilan “modern” ia bisa bersinar. Ia pun meninggalkan lagu-lagu religi dan mulai menyanyikan lagu pop.

Saat itu, Kairo sedang mengalami transformasi politik, sosial, dan budaya. Aktivisme anti imperialisme sedang tumbuh subur di kalangan intelektual Mesir. Di saat yang bersamaan, para aktivis perempuan yang lahir dari kalangan borjuis Mesir seperti Houda Sharawi dan Safia Zaghloul turut turun ke jalan menyuarakan kesetaraan hak bagi perempuan. Kedua gerakan tersebut berkelindan menolak kolonialisme Inggris dan menuntut sebuah identitas bangsa Arab baru yang termotivasi dari mimpi akan modernitas. Selain itu, mereka juga ingin melepaskan diri dari citra bangsa Arab masa lalu yang dianggap kolot, anti-rasional dan terbelakang. Meskipun gagasan-gagasan tersebut lahir di kalangan elit borjuis, dengan cepat ia menjalar liar di tengah-tengah masyarakat.

Diberkati dengan kecerdasan serta iklim intelektual dan kultural di Kairo yang mendukung, karir Umm Kulthum melejit. Ia juga punya otoritas yang terus meningkat dalam setiap pengerjaan lagu. Mengutip Viriginia Danielson dalam bukunya Umm Kulthum, Arabic Song, and Egyptian Society in Twentieth Century, Umm Kulthum meminta sendiri teks dari seorang penyair, mengedit teks itu dengan bantuan kawannya, Ahmad Rami, lalu memilih sendiri komposernya. Dalam standar Umm Kulthum, sebuah teks “harus bermakna tinggi, bertujuan mulia, dan bernada indah.” Ia tak mau menyanyikan lagu yang tak membuatnya tergerak. Virginia menambahkan bahwa dalam setiap penciptaan lagu, Umm Kulthum sangat penuntut. Tak jarang ia terlibat konflik dengan komposer karena dianggap tidak memuaskan kehendak sang diva.

Di tengah arus besar sekularisme, nasionalisme, dan bahkan puritanisme, Umm Kulthum tidak hanyut. Sebaliknya, ia memanfaatkan arus tersebut untuk menciptakan arusnya sendiri. Ia tidak mengeksploitasi kecantikan dan erotisme sebagaimana banyak dilakukan penyanyi perempuan saat itu. Lirik-lirik lagunya selalu memiliki karakter yang kuat dan pesan yang dalam. Dalam lagu Alf Layla wa Layla (Seribu Satu Malam) misalnya, ia menyebut bahwa “kollina fil hubbi sawā”, “dalam cinta, kita setara”.

Selain gemar mengangkat tema kesetaraan, sang diva juga gemar menggunakan bahasa Arab populer, ‘aammiyah di kebanyakan lagu yang ia nyanyikan. Saat itu, bahasa Arab ‘ammiyah dianggap sebagai bahasa kelas dua. Para elit politik nyaris hanya menggunakan bahasa Perancis dan bahasa Arab klasik. Menurut Selim Samah dalam bukunya The Novel and The Rural Imaginary in Egypt 1880 – 1985, meningkatnya hegemoni wacana nasionalisme membuat bahasa Arab ʿammiyah sebagai “bahasa kelas bawah yang yang dituturkan oleh wanita tak terdidik dan para petani. Pemilihan bahasa ‘aamiyah ini secara tidak langsung menyentuh kelompok-kelompok yang terpinggirkan secara politik dan sosial. Itu menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa Umm Kulthum tidak hanya populer di kalangan masyarakat perkotaan tetapi juga di desa-desa.

Sang “Nyonya” di Rezim Nasser

Setelah rezim Raja Faruk I tumbang oleh revolusi militer yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser, lagu-lagu Umm Kulthum sempat dilarang mengudara. Alasannya, Umm Kulthum dianggap bagian dari rezim Raja Faruk I karena ia adalah penyanyi yang paling sering diundang untuk menghibur keluarga kerajaan.

Dalam periode transisi ini, baik Nasser maupun Umm Kulthum menunjukkan kelihaiannya dalam beradaptasi. Beberapa minggu setelah naiknya rezim Nasser, Umm Kulthum mendatangi sendiri radio nasional. Dengan disaksikan para wartawan ia menghapus rekaman lagu-lagunya untuk menegaskan bahwa ia tidak memiliki ikatan sama sekali dengan Raja Faruk I. Di waktu yang sama, Nasser juga memahami betul bahwa melarang lagu-lagu Umm Kulthum adalah sama artinya mengobarkan api perlawanan kepada rakyat Mesir. Alih-alih melarang, ia justru memanfaatkan Umm Kulthum dan lagu-lagunya sebagai senjata kultural untuk menancapkan hegemoni dan kekuasaannya di Mesir dan di negara-negara Arab secara umum.

Di masa itu, Umm Kulthum adalah il-sitt (Sang Nyonya), wanita yang paling berpengaruh di Mesir. Saking berpengaruhnya, banyak foto menggambarkan ia sedang dikelilingi para serdadu lelaki, sedang ia menampakkan gestur dominan lengkap dengan kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya. Ia dan Nasser bak dua wajah dari sekeping mata uang yang sama. Mengutip dari buku Andrew Hammoud (2004), Pop Culture Arab World!, Umm Kulthum adalah cermin dari gerakan nasionalisme Arab saat itu. Ia mengangkat budaya berpuisi yang telah lama mengakar dalam masyarakat Arab ke dalam lagu populer sebagai ekspresi kultural yang baru. Ia menjadi ikon kultural dalam mimpi negara pan-Arab Nasser. Lagu Umm Kulthum Wallāhi Zamān Yā Ṣilāḥī bahkan diadopsi menjadi lagu kebangsaan Mesir antara tahun 1960 hingga 1979. Namun, kekalahan Mesir dari Israel dalam perang lima hari pada tahun 1967 menggulung mimpi-mimpi Nasser sekaligus menjadi titik awal meredupnya sinar sang bintang. Sebagian bahkan mengkritik lagu Umm Kulthum yang dianggap justru meninabobokkan orang-orang Arab alih-alih mengobarkan semangat meraka.

Kembali ke konser di Paris, pasca kekalahan dalam perang enam hari itu, Umm Kulthum berinisiatif untuk menggalang dana dengan melakukan tour ke beberapa negara, termasuk ke Prancis. Konser di negeri Eiffel itu dianggap sebagai salah satu konser yang paling bersejarah bagi Umm Kulthum. Sang diva yang saat itu sudah berusia enam puluh empat tahun menyanyikan beberapa lagu hingga subuh menjelang, salah satunya adalah Al-Athlāl (Reruntuhan). Judulnya tanpa diragukan lagi terinspirasi dari tema utama puisi Arab pra-Islam, “al-bukāʾ ‘alā al-athlāl” (menangisi reruntuhan). Seperti puisi Arab pra-Islam, lagu ini juga menceritakan tentang kisah cinta dan kenangan indah masa lalu yang kini telah tiada:

Wahai hatiku, jangan engkau tanya ke mana perginya cinta

Ia adalah benteng imajinasiku yang telah runtuh

Tuangkanlah minuman, biarkan aku minum dari reruntuhannya

Ceritakanlah tentang ku selama menetes air mata

Ceritakan bagaimana cinta menjelma menjadi kabar yang menyakitkan belaka

Tahun 1975 sang kejora dari Timur tutup usia. Di hari kematiannya, jutaan orang memadati jalanan Kairo untuk memberikan penghormatan terakhir. Bagi pejuang hak-hak perempuan, ia dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarki. Bagi para seniman, ia menjadi sumber inspirasi. Setiap tahun, banyak konser digelar untuk mengenang jasa besarnya. Dan bagi orang Mesir pada umumnya, Umm Kulthum adalah representasi dari mimpi dan harapan akan kejayaan yang–-seperti judul lagunya–-telah runtuh menjadi puing-puing. Ia adalah cinta dan masa lalu yang indah dan akan terus diratapi kepergiannya, sekarang, esok, dan mungkin selamanya.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.