Naguib Mahfouz dan Mesir yang Sedang Bertransformasi: Sebuah Ulasan atas Novel al-Qāhirah al-Jadīdah

0
281
“Kebahagiaan tak melekat pada kehidupan,
sebaliknya ia tumbuh subur di setiap iklim.
Kebahagiaan lahir dari kemauan.
Siapapun yang benar-benar menginginkan kebahagiaan ia akan mendapatkannya,
dengan sukarela atau paksaan!”

Demikian ujar Mahgoub Abd el-Dayim, seorang pemuda dua puluh tahunan yang sedang terombang-ambing dalam gelombang transformasi sosial dan politik di Mesir tahun 1930-an.

Mahgoub adalah tokoh utama novel al-Qāhira al-Jadīdah (Kairo Modern) karya peraih nobel sastra asal Mesir, Naguib Mahfouz yang terbit tahun 1945. Buku ini baru diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Philippe Vigreux pada tahun 2000 dengan judul La belle du Caire, lalu diterbitkan oleh Gallimard Folio. Mahfouz yang terkenal sebagai sastrawan realis ini, dengan apik memotret kehidupan Mesir yang sedang bertransformasi melalui tokoh Mahgoub Abd el-Dayim yang berjuang mendaki tangga sosial dalam hierarki sosial sekuler saat itu.

Mahgoub lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang pegawai swasta berpenghasilan enam geneh (mata uang Pound Mesir) perbulan. Masa kecilnya dihabiskan di Qantara, sebuah pemukiman miskin di tepi Kanal Suez. Ia terdaftar sebagai mahasiswa sastra di salah satu kampus di Kairo. Bersama tiga kawannya: Ali Taha, Ma’moun Radwan, dan Ahmed Badir, ia terlibat dalam sebuah pergolakan intelektual yang tumbuh subur di Mesir.

Empat sekawan tersebut merepresentasikan pandangan yang saling berkompetisi di Mesir pada masa itu. Ali Taha merupakan potret pemuda dari kalangan menengah yang gigih memperjuangkan sosialisme dan kesetaraan gender. Ia dengan keras mengkritik penguasa yang dianggap korup dan tak bermoral. Tentu saja, moral yang dimaksud Ali bukan moral religius, melainkan kemanusiaan. Pada sisi lain, Ma’moun menggambarkan kelompok intelektual Mesir yang “religius”. Ia mengadvokasi pentingnya agama bagi kehidupan sosial Mesir. Sementara Mahgoub, ia tak tertarik dengan dua pandangan sahabatnya itu. Latar belakang sosialnya yang tidak semoncer dua kawannya membuatnya sangat sinis. Terinspirasi dari “Je pense donc je suis” milik Descartes, Mahgoub melihat kehidupan adalah tentang “je”, tentang diri sendiri yang harus berjibaku melawan kerasnya hidup. Kehidupan adalah tentang kebahagiaan individu. Semua energi harus dicurahkan untuk tujuan itu.

Konflik dalam novel ini bermula ketika Mahgoub yang sejak awal menjalani kehidupan yang sulit mendapat kabar bahwa ayahnya terkena stroke, tepat empat bulan menjelang ujian akhir kelulusannya. Di tengah kehidupan yang masygul, ia bertemu dengan dengan Salim al-Ihkshidi, tetangga lamanya di Qantara yang sekarang menjabat sebagai tangan kanan menteri Qasim bey Fahmi.

Singkat cerita, melalui “ketebelece” al-Ikhshidi, Mahgoub berhasil menamatkan kuliahnya dan mendapat tawaran menggiurkan sebagai sekretaris Qasim bey Fahmi dengan satu syarat: Menikahi Ihsane, gadis cantik yang menjadi gundiknya. Mahgoub yang tak punya privilese apa pun dalam tatanan sosial melihat tawaran ini sebagai sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Namun di waktu yang sama ia sadar, menerima tawaran itu artinya mengubur persahabatan lamanya dengan Ali Taha sekaligus Ma’moun, karena Ihsane adalah mantan pacar Ali Taha yang putus akibat tergiur oleh harta Qasim bey Fahmi.

Tak mau terus-menerus dirundung kemiskinan, Mahgoub memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan tawaran itu, lengkap dengan konsekuensinya: kehilangan sahabat sekaligus merelakan “istri sah” -nya tidur dengan Qasim bey Fahmi tiap akhir pekan. Ia pun harus terjerembab dalam pencarian kebahagiaan duniawi tiada akhir, yang pada akhirnya hancur termakan oleh filsafat hidupnya sendiri.

Mahfouz melalui Mahgoub Abd el-Dayim mengkritik dalamnya jurang pemisah antara kehidupan miskin pinggiran dan kehidupan glamor pejabat perkotaan; antara moral religius dan moral sekuler; dan antara idealisme dan oportunisme. Mahgoub adalah Mesir itu sendiri. Ia adalah representasi sempurna dari oportunisme, hipokrisi, sekaligus ketidakberdayaan dalam menghadapi arus besar yang melahapnya. Ketidakberdayaan yang dengan sempurna dirangkum Mahfouz dalam kalimat penutupnya: “Mādha Tukhbiʾu lanā ayyuha l-ghadd?” Apa gerangan yang kau simpan untuk kami wahai hari esok?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.