BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA DUNIA

0
699
Sumber: https://pin.it/1VP5Otd

Nasib suatu bahasa sepertinya amat bergantung pada nasib para penutur dan orang-orang yang peduli kepadanya. Hal ini terjadi pula pada bahasa Arab yang pada setiap tanggal 18 Desember diperingati hari internasionalnya. Dahulu, ketika penutur Arab dan umat Islam memiliki kekuasaan politik dan ekonomi yang besar, bahasa Arab hampir bisa dikatakan sebagai bahasa lingua franca, bahasa utama dunia.

Status itu memberikan prestise dan kebanggaan yang besar bagi para penutur dan orang-orang yang mempelajarinya baik itu orang Arab maupun non-Arab. Umat Islam di berbagai wilayah pun juga memiliki kebanggaan tersendiri atas hal itu sebab bahasa kitab suci dan ritus agama mereka juga berbahasa Arab.

Faktanya, bahasa Arab saat itu memang tak hanya untuk kegiatan keagamaan. Tetapi juga digunakan untuk kepentingan politik dan pemerintahan, perdagangan, negosiasi dan kerjasama antar”bangsa”, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan seterusnya. Situasi itu terjadi terutama pada masa-masa puncak “kerajaan” Muslim pada abad 7-12 M. Bahkan di wilayah kerajaan Mughal India, Turki Ustmani yang membentang sangat luas di Timur Tengah dan sekitarnya, dan Syafawi di Persia kejayaan bahasa Arab menembus hingga masa-masa penjajahan Eropa.

Dengan demikian, waktu kejayaan Arab-Islam membentang sangat panjang. Dan tak diragukan lagi, kontribusi bahasa Arab bagi pengembangan keilmuan, pemerintahan, dan peradaban umat manusia saat itu sangatlah besar. Bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan peradaban di masa itu bahkan kemudian diserap oleh bahasa-bahasa lain mulai Turki, negara-negara Eropa Mediteranian, Iran, Afghanistan, dan negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim lain di Afrika hingga Indonesia. Konon, jejak pengaruh itu masih sangat jelas sekarang dalam berbagai kosa kata bahasa Urdu, Kurdi, Turki, Persia, Melayu, Indonesia, Albania, Spanyol, Portugal, Malata, bahasa-bahasa Afrika, dan masih banyak lainnya. Konon, “suplai” bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dahulu mencapai 13 persen. Kosa kata Arab begitu akrab dengan lidah kita. Itu tak hanya terjadi dalam bidang ritual ibadah tetapi juga di bidang-bidang lain secara sangat masif dan luas. Ambillah sejumlah contoh, musyawarah, dewan, majlis, salat, doa, pikir, akal, sebab, nafas, soal, jawab, jenis, amal, tadarus, wali, mimbar, khotbah, akad, dan seterusnya.

Karena prestasi dan peran dalam pegembangan keilmuan dan peradaban yang pernah dicapai para penutur dan pecinta bahasa Arab pada masa lalu itulah dan juga alasan lain tentunya, bahasa Arab kemudian berhasil didudukkan sebagai bahasa internasional yaitu bahasa resmi dan kerja PBB dan badan-badan di bawahnya sejak tanggal 18 Desember 1973 dengan keputusan Majlis Umum PBB No. 3190. Bahasa Arab adalah bahasa satu-satunya yang dimasukkan sebagai bahasa resmi PBB jauh setelah PBB berdiri. Dan pada tahun 2012, Majlis Umum PBB menetapkan tanggal 18 Desember itu sebagai hari internasional Bahasa Arab yang diperingati hingga sekarang.

Nasibmu Kini

Ketika kiblat dunia berubah dan nasib penutur dan pecinta bahasa Arab juga berubah maka berubah pula nasib bahasa Arab secara perlahan. Dunia Arab dan Muslim pada abad 18 dan 19 dapat dikatakan praktis sudah dalam dekapan penjajah Eropa baik Inggris, Perancis, Belanda, maupun Spanyol. Mereka memiliki bahasa masing-masing dan mendesakkan penggunaannya kepada orang-orang yang mereka jajah dalam berbagai bidang terutama sektor-sektor strategis seperti birokrasi, negosiasi, perdagangan, dan semacamnya.

Dan pada paruh awal abad ke-20, sejarah dunia adalah sejarah dua perang yaitu perang Dunia Pertama (1914-18) dan Perang Dunia II (1939-45). PBB adalah institusi yang lahir dari “rahim” kedua perang itu. PBB adalah organisasi internasional milik “para pemenang” perang itu. Mereka adalah Amerika Serikat, Rusia (baca Uni Soviet), China, Inggris dan Perancis. Bahasa mereka pun bernasib jadi “pemenang”, menjadi bahasa resmi organisasi itu sejak berdirinya. Bahkan bahasa Inggris dan Perancis juga menjadi bahasa pengantar , status paling strategis dalam organisasi PBB.

Jika pidato-pidato dalam konferensi atau pertemuan resmi lain disampaikan dalam bahasa Inggris maka itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa pengantar lain yaitu Perancis. Demikian pula sebaliknya. Dan jika pidato itu disampikan dalam bahasa resmi lain seperti Arab, Inggris, Rusia, atau Mandarin maka harus diterjemahkan ke dalam bahasa Pengantar (Inggris-Perancis). Dari ketentuan semacam itu semakin membuktikan kesimpulan bahwa dunia sekarang adalah milik para pemenang perang itu.

Dan di lapangan pun faktanya tak terlalu jauh dari hal itu. Bahasa Arab secara dratis dikalahkan oleh penggunaan bahasa Inggris dan Perancis dalam berbagai bidang baik pemerintahan, ekonomi, diplomasi, perdagangan, sosial, budaya, dan lain-lain. Penetrasi bahasa dan budaya dari penutur kedua bahasa itu begitu kuat termasuk ke dunia Arab dan Muslim. Bahasa Arab yang dulu memengaruhi dan diserap bahasa lain kini menjadi sebaliknya. Ia terpaksa menyerap banyak sekali kosa kata dari dua bahasa itu terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintahan, bahkan hingga masalah budaya dan agama. Penetrasi bahasa para pemenang ini begitu kuatnya seiring dengan percepatan, perluasan, dan intensifikasi interaksi global. Dan, Itu sangat sulit dielakkan.

Yang sedikit “melegakan” adalah fanatisme orang Arab terhadap bahasanya begitu besar. Fanatisme orang Arab terhadap bahasanya sangat sulit ditandingi bangsa-bangsa lain kendati itu juga tak bisa dipandang secara berlebihan sekarang ini terutama di masyarakat atas di kota-kota Metropolis Arab. Orang Arab pada umumnya begitu terkagum dan terpukau dengan bahasanya sendiri. Karena itu, mereka berupaya keras mempertahankan bahasa Arab dari serbuan kosa kata Inggris dan Perancis ini dengan berbagai upaya sistematis. Salah satu upaya itu adalah pembentukan lembaga-lembaga bahasa di negara-negara Arab yang disebut dengan Majma’ al-Lufghah. Tugasnya antara lain adalah mengontrol perkembangan dan serapan bahasa asing ke dalam bahasa Arab.

Contohnya, istilah al-kumbuter, al-Radiyu, al-tilifiziyun yang telah diserap ke dalam bahasa Arab dan digunakan oleh masyarakat Arab secara luas. Namun, dengan pertimbangan dan kajian morfologis Majma’ al-Lughah bahwa serapan itu berpotensi merusak “struktur kata” bahasa Arab, maka kemudian Mama’ al-Lugha mencari padanannya dalam bahasa Arab dan itu kemudian didesakkan penggunannnya lewat organ-organ negara, pendidikan, dan pers untuk mengganti kata serapan itu. Istilah di atas diganti dengan al-Hasub (dulu al-Hasib al-ali), al-Idza’ah, dan al-Tilfaz. Dan beruntungnya, mereka berhasil melakukan itu dengan baik berkat fanatisme orang Arab terhadap bahasanya masih cukup tinggi, kendati lembaga itu selalu kalah cepat dengan perkembangan di lapangan.

Pengaruh bahasa Arab di dunia Islam di luar dunia Arab pun juga memudar. Umat Islam dari Turki, Afghanistan, Balkan, hingga Indonesia sudah tak sebangga dahulu terhadap bahasa Arab. Sebab bahasa Arab cenderung menjadi bahasa ritual dan keislaman saja, tak menonjol lagi sebagai bahasa pemerintahan, diplomasi, ilmu pengetahuan apalagi teknologi. Bahasa Arab belakangan ini tak banyak memberikan kontribusi bagi pengkayaan istilah ilmu pengetahuan dan peradaban baru bagi bahasa-bahasa lain di dunia Islam termasuk Indonesia. Penyerapan bahasa-bahasa lain dari bahasa Arab menjadi sangat terbatas. Bahkan sebaliknya, bahasa Arab menghadapi gempuran kosa kata asing dari “para pemenang”.

Namun, kemampuan bahasa ini berkembang masih cukup kuat termasuk di Indonesia. Hal ini terutama bertumpu pada alasan keagamaan. Yakni untuk kegiatan dan studi keislaman termasuk kegiatan haji dan umrah. Alasan ini, kendati tak begitukeren, akan membuat ketahanan dan survival bahasa Arab begitu kokoh di wilayah yang luas di luar dunia Arab. Penduduk mayoritas sekitar 70 negara menggunakan bahasa Arab untuk kepentingan itu. Alasan lain adalah penguatan ekonomi Sebagian kawasan ini sejak tahun 1970-an dengan mulai diproduksinya minyak dalam skala besar. Kerja sama dengan wilayah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia mana pun saat ini. Tentu untuk kepentingan ini, bahasa Arab yang diperlukan adalah bahas Arab yang lebih komunikatif baik tulis maupun lisan, serta bahasa Arab di bidang yang khusus misalnya bahasa Arab diplomasi, bahasa Arab perminyakan, bahasa Arab untuk pelayanan kesehatan, dan sebagainya.

Jelas kepentingan bangsa Indonesia terhadap bahasa Arab melampau aspek pengamalan keislaman saja, tetapi juga aspek-aspek yang lain seperti di atas. Oleh karena itu, perluasan pengajaran bahasa Arab ke arah yang lebih praktis dan strategis bagi pemenuhan kepentingan bangsa Indonesia ini lah yang saya kira akan turut membantu untuk mengangkat posisi bahasa Arab dari sebatas bahasa agama menjadi bahasa yang lebih luas.

Meski menurun drastis jika dibandingkan pada masa klasik, status dan wibawa bahasa Arab di dunia internasional sebenarnya masih sangat tinggi. Ini antara lain dibuktikan dengan status bahasa Arab sebagai bahasa resmi di PBB dan seluruh badan-badan yang ada di dalamnya. Ini artinya status bahasa Arab dalam konteks bahasa-bahasa dunia masih mengungguli bahasa-bahasa keren lain seperti bahasa Jerman, Belanda, Italia, Jepang, Korea, dan lain-lain. Bahasa-bahasa yang baru saja disebut itu masih jauh dari memperoleh status bahasa resmi di PBB.

Hanya saja tantangan yang sangat berat saat ini adalah situasi sosial politik di dunia Arab. Paska “Arab Springs”, dunia Arab seolah menjadi “rimba” tempat aktor- aktor kawasan dan internasional bertarung memperebutkan kepentingan dengan melibatkan kekerasan yang kemudian diiringi tragedi kemanusiaan dalam skala luas dan dalam waktu yang lama. Hal ini masih diperparah oleh penguatan ekstremisme dan kekerasan yang terjadi di sejumlah sub kawasan dunia Arab terutama dengan lahirnya Daisy (ISIS). Mau tidak mau, bahasa Arab terkena imbas dari situasi ini.

Imajinasi orang terhadap bahasa Arab bagaimanapun akan terpengaruh oleh perkembangan buruk itu sebab mereka, para aktor di kawasan itu, sebagian besar adalah penutur bahasa Arab. Imej tentang bahasa Arab sekarang ini adalah tantangan yang benar-benar tak ringan bagi para pelajar dan pengajar bahasa Arab. Munculnya imajinasi sebagian orang yang mengaitkan bahasa Arab dengan ektremisme bahkan kekerasan menjadi sulit dihindari. Padahal di masa lalu, bahasa Arab dipandang sangat identik dengan ketinggian ilmu pengetahuan, kemajuan, dan keagungan peradaban. Waallu a’lam.


Sumber Bacaan Lanjutan Terkait Tema Tulisan

Ibnu Burdah, Bahasa Arab Internasional: Diplomasi, Politik Luar Negeri, Konflik dan Perdamaian, Tiara Wacana.

Ibnu Burdah, Konflik Timur Tengah: Aktor, Isu dan Dimensi Konflik, Tiara Wacana.

Ibnu Burdah, Islam Kontemporer: Revolusi dan Demokratisasi, Intrans Malang.

Ibnu Burdah, Kamus Global Arab-Indonesia (naskah belum diterbitkan).


Abdullah al-As’al. 1988. Ushul al-Tandzim al-Islamy al-Dawly. Kairo: Dar al-Nahdhah al-Arabiyyah.

Aliuddin Hilal. 1994. Mu’jam al-Mushthalahat al-Siyasiyah. Kairo: Jamiah al-Qahirah.

Mausu’ah al-Siyasah. Lebanon: Al-Muassasah al-Arabiyah li al-Dirasaat wa al-Nasr.

Frank Bealey. 1999. The Blackwell Dictionary of Political Science: A User’s Guide to its Terms.

G.R. Berridge. 2002. Diplomacy: Theory and Practice. New York: Palgrave.


Naskah ini telah diupload di Proseding Nasional, Seminar Nasional “Masa Depan Bahasa Arab: Antara Prospek dan Tantangan” oleh Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, 2015.

Download here

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.