Quo Vadis Debat Berbahasa Arab di Tanah Air?

0
337
google.com

Ajang debat ilmiah berbahasa Arab di tanah air saat ini belum memperoleh tempat yang tinggi di dunia internasional. Bisa dikatakan, kekurangannya terutama terletak pada minimalnya dukungan pemerintah dan institusi pendidikan di tanah air. Jika dukungan besar diberikan oleh institusi pemerintah atau kampus misalnya, penulis sangat yakin ajang debat di tanah air akan sangat disegani di dunia internasional. Dan, yang lebih penting hal itu akan membantu mengerek postur akademik kita di dunia Islam.

Indonesia sebagai negeri muslim demokratis terbesar di dunia pantas berupaya menempatkan diri sebagai pemimpin dunia Islam. Potensi kepemimpinan Indonesia di dunia Islam sudah lama sekali terdengar, bahkan hingga sempat jadi diskusi panas di media-media besar di Timur Tengah dan Eropa. Kita memang layak dan memiliki potensi besar untuk jadi sentrum dalam pergaulan dunia Islam, termasuk dalam ajang debat ilmiah berbahasa Arab. Kita pernah memimpin dan menggalang negara-negara dunia ketiga dalam Organisasi Non Blok yang cukup disegani pada zamannya, dan sederet peran penting lainnya. Kita tak boleh lagi hanya jadi peserta pinggiran dalam pergaulan di dunia Islam. Namun, sejauh ini belum tampak adanya upaya besar yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan untuk mengerek postur kita di dunia Islam. Debat ilmiah berbahasa Arab yang sudah menjamur di tanah air selama satu dekade terakhir merupakan salah satu sarana strategis untuk membantu mewujudkan cita-cita itu. Bahasa Arab merupakan bahasa yang secara umum dikenal dengan baik di negara-negara Muslim, mulai Asia Tenggara hingga bantaran Timur Samudera Atlantik, sehingga masuk akal jika jadi bahasa komunikasi antarnegara berpenduduk mayoritas muslim.

Saat ini, institus/forum debat Qatar (munadzarat Qatar)  dianggap sebagai barometer debat ilmiah berbahasa Arab di dunia. Kemakmuran negeri itu memang memungkinkan mereka menghelat ajang debat ilmiah mahasiswa skala besar dengan mengundang mahasiswa-mahasiswa brelian dari berbagai penjuru negeri muslim dan membiayai semua akomodasinya. Debat Ihtifal USIM, Malasyia, pada tingkat Asia Tenggara diakui paling menonjol hingga saat ini. Ajang debat ilmiah berbahasa Arab yang diselenggrakan oleh banyak sekali kampus di tanah air dengan intensitas yang sangat tinggi rata-rata berskala kecil dan dukungan pembiayaan dan manajemen yang sangat minimal.

Meski demikian, penulis mencermati bahwa kualitas tim-tim debat kita sering dijumpai tidak kalah dari kualitas debat internasional itu terutama dalam membangun argument, keluasan wawasan dan bacaan, kemampuan merespon isu-isu aktual terkait politik, sosial, kebudayaan dan lainnya, dan juga kelancaran berbahasa Arabnya. Sayang, penyelenggaraan debat ilmiah berbahasa Arab di tanah air kebanyakan diserahkan begitu saja kepada organisasi mahasiswa tanpa dukungan yang memadai. Keterlibatan pihak kampus dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menghelat event-event akbar skala dunia, syukur jika jadi agenda rutin tahunan atau dua tahunan.

Meski dengan segala keterbatasan, ajang debat yang begitu massif di tanah air ini telah memberikan banyak sekali manfaat khususnya bagi para mahasiswa. Manfaat itu tentunya tidak terkait dengan pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah kongkrit sebagaimana debat di parlemen sesungguhnya. Manfaat itu terkait dengan pengembangan wawasan keilmuan mahasiswa, peningkatan skill berbahasa Arab baik aktif maupun pasif, penguatan sensitifitas mahasiswa terhadap perkembangan masalah-masalah sosial, politik, kultural, dan keagamaan  yang aktual, baik di ranah lokal, nasional, regional, maupun internasional. Sebagai pelatih, pembimbing, dan juga juri debat ilmiah berbahasa Arab di tanah air, penulis sungguh merasakan manfaat kegiatan itu untuk mengupgrade skill berbahasa Arab aktif mahasiswa, memperluas wawasan, serta mengasah daya kritis dan sensitifitas mahasiswa terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan.

Menuju World Class

Sekali lagi, menilik potensi dan event debat yang telah diselenggarakan, maka ajang debat di tanah air sesungguhnya bisa jadi medium untuk mengerek postur akademik kita di dunia Islam. Taruhlah kita membuat forum/ajang debat internasional dengan kalender rutin yang melibatkan sejumlah negara Muslim. Taruhlah namanya Indonesian Arabic Debate (IAD/ Indunisia li al munadzaraat al-dawliiyah). Kita misalnya mengundang perwakilan sekitar 10 negara Muslim  dengan komposisi 4 peserta (tiga personel utama dan satu cadangan), satu pelatih sekaligus ofisial, yang berarti kita menghost sekitar 50 tamu, plus beberapa wasit yang bisa kita ambil dari tanah air, Malasyia, dan Brunei, dan para doktor asal negara Arab yang mengajar di tanah air.

Daftar yang kita undang misalnya, dari Arab Barat kita mengundang perwakilan Kerajaan Maroko dan Tunisia, dari Arab aliran Nil dan Tanduk Afrika kita mengundang Mesir dan Sudan, dari Arab Levant kita mengundang perwakilan dari Lebanon dan Palestina, dari Asia Selatan kita mengundang perwakilan dari Afghanistan dan Pakitan, dari Arab Teluk kita mengundang delegasi Qatar, Oman,  atau Arab Saudi, dari “Asia Tengah” dan sekitarnya kita mengundang Turki atau Iran, kemudian perwakilan-perwakilan lain dari negara-negara Balkan, dari kampus muslim di China dan lainnya, sisanya diambil dari Tim di Asia Tenggara dan Indonesia khususnya, sesuai kebutuhan.

Dalam perkiraan saya, Kemenag RI, Kemendikbud RI, Kemlu RI, atau gabungan beberapa kampus dalam satu kota  sangat mampu untuk mensponsori/menyelenggarakan hajatan yang bisa jadi agenda rutin ini. Tentu setelah situasi membaik pasca Corona nanti.  Dalam ajang ini, yang paling penting bukan hanya postur akademik kita di dunia Islam yang berpotensi terkerek naik, tetapi juga untuk mempromosikan Indonesia kepada kalangan terdidik di dunia Islam, termasuk kepada masyarakat Arab yang masih saja ada yang memandang Indonesia identik dengan keterbelakangan dan pekerjaan (maaf) pembantu rumah tangga dan pekerja kasar.

Distingsi

Kita bisa mengembangkan sistem debat bahasa Arab yang telah ada untuk merancang sistem atau forum perhelatan itu. Sejauh ini sistem yang ada biasanya mengacu kepada debat bahasa Inggris dan Arab, yaitu debat parlementer Australia, Debat Asia (Qatar dan USIM), dan debat parlementer Bristish. Sistem yang pertama biasanya terdiri dari dua regu debat yang masing-masing terdiri dari tiga orang tanpa ada interupsi. Sistem yang kedua memiliki komposisi yang sama dengan membolehkan interupsi. Sistem yang terakhir dengan komposisi empat regu setiap pertandingan, dua pro dan dua kontra, yang masing-masing regu terdiri dari dua orang. Pada praktiknya, event debat di tanah air menggunakan sistem Asia. Sebagian besar kampus di tanah air yang menyelenggarakan menggunakan sistem tersebut. Namun, Kemenag RI memiliki event nasional PIONIR yang biasanya menggunakan sistem British yang sudah berlangsung beberapa kali. Dengan berbagai pertimbangan, kita bisa mengembangkan sistem yang lebih efektif dengan misalnya menggunakan sistem Qatar tetapi dengan dua peserta. Ini tentu akan lebih menghemat jumlah peserta dan implikasi biaya.

Di samping itu, kita bisa membuat distingsi lain dari sistem debat kita, misalnya, mengenai kedalaman pembahasan dan kualifikasi pesertanya. Sejauh ini, peserta debat adalah mahasiswa-mahasiswi  S1 dan isu-isu yang diperdebatkan benar-benar isu yang masih “panas” dan kadang masih jadi pemberitaan luas di media. Kita bisa memilih misalnya meningkatkan level dengan peserta mahasiswa pascasarjana. Pembahasan yang diperdebatkan tetaplah isu-isu actual dan relevan dengan situasi dunia dan dunia Islam khususnya, tetapi tidak harus yang sedang jadi pemberitaan terkini untuk memperoleh kedalaman. Taruhlah misalnya kita mengangkat isu demokratisasi, konflik dan perdamaian, kemiskinan, pengungsi, dampak media sosial terhadap kehidupan, radikalisme, dan seterusnya. Contoh mosi untuk diperdebatkan misalnya: a. Demokratisasi di dunia Islam cenderung gagal karena Islam tidak cocok dengan demokrasi, b. Arab springs membawa dampak buruk bagi negara-negara lain di dunia Muslim, c. Nasib buruk para pengungsi Timur Tengah adalah akibat rendahnya solidaritas negara-negara Arab dan Muslim. d. media sosial merusak sendi-sendi negara-bangsa, dan banyak lagi isu-isu actual di dunia Islam.

Tentu rencana semacam ini harus dibahas secara lebih rinci lagi. Ini hanya sebuah letupan angan-angan dari orang yang kebetulan sering menemani mahasiswa belajar melalui debat dan menulis. Mungkin saja suatu saat nanti akan ada pihak-pihak yang  mendorong terwujudnya harapan ini. amiin. (Paper ini disampaikan dalam acara seminar “Lomba Debat Bahasa Arab di Indonesia, Mau Dibawa Ke Mana?”, yang diselenggarakan oleh ADC 2020 UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 24 November 2020).

 

Daftar Pustaka

  1. Abdul Jabar al-Syarqi, Dr, Qamus musthalahaat al-Munadzarah: Araby-Injiliziy,Doha: Muassasah Qatar li al-Nasyr, 2012.
  2. Burdah, Ibnu, Melejitkan Kemampuan Bahasa Arab Aktif Melalui Strategi Debat, diterbitkan oleh Lisan Arabi Malang, Cetakan I, Oktober 2016, 105 halaman, ISBN: 978-602-74486-4-3.
  3. Burdah, Ibnu, “Bahasa Arab Sebagai Bahasa Dunia”. Tulisan dalam Prosiding Seminar Nasional Masa Depan Bahasa Arab tanggal 7 Oktober 2015 di Surakarta, diterbitkan oleh Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, hal. v-xii.
  4. Burdah, Ibnu, Bahasa Arab Internasional: Perang, Konflik, dan Perdamaian, Diplomasi, Politik Luar Negeri, Institusi Internasional, dan Kerjasama Internasional (Arabic for International Relations: War, Conflict, Peace, Foreign Policy, International Institution and Cooperation ), Foreword by N. Hassan Wirajuda (Minister of Foreign Affairs), ISBN: 978-979-1262-23-1, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008

 

 

 

***

Dibawakan pada webinar “Debata Bahasa Arab: Mau Dibawa Kemana?” yang diselenggarakan oleh Abqary Debate Club, Fakultas Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 23 November 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.