Najib al-Kilani: Seorang Pelopor Sastra Islam

0
115

Dalam paradigma sastra dan Islam, konsep baku sastra dalam perspektif Islam belum disepakati secara menyeluruh. Belum matangnya paradigma sastra dalam perspektif Islam disebabkan karena adanya perdebatan dan kontroversi yang tidak pernah tuntas tentang sastra dalam perspektif Islam. Ada yang berpendapat bahwa Islam tidak sama sekali bertentangan dengan sastra, bahkan melarang perkembangannya. Menurut Sayyed Hosen Nasr, sastra bisa dijadikan kajian penting untuk memahami hubungan antara seni dan spiritualitas Islam.

Orang-orang yang menerima sastra dengan penuh semangat, akan menunjukkan dalil aqliyah bahwa Al-Qur’an sendiri mengandung nilai estetika yang sangat tinggi. Jika dilihat dari segi historis, hingga kini tilawah Al-Qur’an dan kaligrafi yang memiliki nilai artistik sudah tersebar luas. Sedangkan, secara naqliyah Allah swt itu indah dan menyukai keindahan. Akan tetapi, sampai saat ini, umat Islam belum memiliki kajian secara formal dan sistematis tentang seni dan sastra secara utuh. Akibatnya adalah di dunia Islam, seni dan sastra seakan terkucilkan dari perkembangan di masyarakat karena tidak adanya instrumen untuk dikomunikasikan.

Al-Kilani merupakan salah satu sastrawan yang menggagas sastra Islam. Dia menuliskan berbagai problematika yang bersinggungan langsung dengan pengalaman manusia terkait potensi spiritualnya. Karena seperti yang diketahui bahwa sastra Islam harus memiliki kualitas yang bersinggungan langsung dengan budaya, nilai, dan filosofi Islam. Sastra Islam mencerminkan simbol-simbol ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan ajaran Nabi saw, serta sejarah para sahabat Nabi. Selama Al-Kilani hidup, dia telah melahirkan banyak karya yang membutuhkan diskusi dan analisis dari perspektif Islam, banyak pula kritikus Islam yang mengungkapkan keprihatinan mereka tentang pembentukan sastra dan kritik Islam pada saat itu.

Al-Kilani adalah salah satu orang yang memantapkan dasar-dasar kokoh terhadap sastra Islam, baik dalam penulisan Novel Islami atau buku lain yang membahasa tentang sastra Islam, seperti Madkhel ela Aladab Al Islami (An Approach to Islamic literature), Afaq Al adab Al Islami (Horizons of Islamic Literature), Tagribati Al Thatiyah fi Al Qissah Al Qasseerah (Self –Experience in Short Story) Rihlati Ma’a Al Adab Al Islami (My journey with Islamic Literature), and Hawl Al Masrah Al Islami (Around Islamic Theater) (Areqi, 2016). Al-Kilani memperkaya perpustakaan Islam dengan banyak tulisan sastra khususnya di bidang naratif, seperti novel dan cerpen. Menurut Al-Kilani, makna dari sastra Islam sendiri adalah sastra Islam bukanlah aturan yang tidak fleksibel atau potongan tulisan yang terpisah dari kenyataan. Sastra ini juga bukan hanya wacana atau khotbah yang diliputi oleh aturan dan teks, tetapi lebih dari itu, sastra Islam merupakan gambar berharga yang dihiasi hal-hal yang meningkatkan nilai keestetikaannya. Sastra Islam adalah ekspresi indah, artistik, dan efektif. Ekspresi tersebut menjadi gambaran asli kehidupan, kemanusiaan, dan alam semesta (al-Kilani, 1987).

Al-Kilani membahas banyak ciri dalam definisnya tentang sastra Islam, seperti pengungkapan keyakinan dan prinsip Muslim, memperkenalkan ekspresi artistic dan efektif. Baginya, sastra Islam seperti menerjemahkan alam semesta, kehidupan, dan kemanusiaan. Sastra Islam menunjukkan stabilitas dan akurasi. Hal ini merupakan istilah komprehensif, mencakup analisis yang meyakinkan tentang tindakan manusia dan manifestasi universal; sementara teori Barat tampak tumpang tindih.

Al-Kilani menulis sejumlah novel Islam dan buku lainnya, yang semuanya menjadi patokan para penulis Islam dan kritikus lain. Dia menulis lebih dari empat puluh novel yang meninggalkan banyak pengaruh di bidang novel Islam khususnya dan sastra Islam pada umumnya. Beberapa dari novel tersebut adalah قاتل حمزة (Hamza’s Killer), نور الله (Allah’s Light), ليل وقضبان (Night and Bars), رجال وذئاب (Men and Wolves), حكاية جاد الله (Gaddala’s Story),  عمر يظهر في القدس (Omer Appears in Jerusalem), عمالقة الشمال (North Giants),dan ليالي تركستان (Turkestan Nights). Karya sastra Islam menyajikan budaya dan nilai-nilai Islam yang mengambil konsep dari prinsip dan ajaran Islam, tanpa mengabaikan atau merendahkan nilai seni sebuah karya. Sastra semacam ini, tidak menawarkan konsesi atau menunjukkan kebingungan tentang dasar-dasar keyakinan Muslim.

Madkhal ila al-Adab al-Islami li al-Duktur Najib al-KilaIni merupakan karya Al-Kilani yang membahas secara detail posisi dan pandangannya tentang Sastra Islam. Dia menyubutkan tujug kriteria tentang sastra Islam, yaitu pertama, ungkapan seni yang indah dan mengesankan. Sastra Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai keindahan dan kesenian. Bahkan, nilai-nilai itu sangatlah diperhatikan dan diutamakan, baik di dalam puisi, novel maupun drama. Kedua, bersumber dari diri/individu yang beriman. Dengan kata lain, senantiasa terkait erat dengan nilai-nilai kejujuran dan amanah. Sastra Islam memberi perhatian lebih kepada kandungan isi dari sebuah karya yang tumbuh dari nilai-nilai Islam yang mengakar. Sastra Islami hanya akan lahir dari seorang yang memiliki keimanan teguh dan kepuasan batin dalam menempuh jalan Allah swt (al-Kilani, tt).

Ketiga, menerjemahkan kehidupan, manusia dan alam. Sastra Islami secara komprehensif merengkuh kehidupan, meliputi berbagai fenomena, kasus per kasus, dan segala macam persoalannya. Sastra Islam mengabarkan kebaikan, cinta, kebenaran dan keindahan. Serta, tentang cita-cita kemanusiaan dengan semua kelebihan dan kelemahannya. Ketika beranjak kepada berbagai kerusakan, kedzaliman, dan bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia, sastra Islam selalu dalam sikap optimistis akan adanya perbaikan, bahkan menawarkan solusi. Keempat, sesuai dengan dasar-dasar aqidah Islam. Sastra Islam menolak adanya infiltrasi nilai-nilai filsafat; khususnya filsafat barat yang bertentangan dengan dasar-dasar keimanan. Sebab, sastra Islam tidak dibangun di atas prasangka, melainkan keyakinan yang senantiasa mendekati kebenaran. Senjata pamungkas sastra Islam adalah kalimat thayyibah, seperti La Ilaha illallah. Kelima, motifnya untuk memberikan hiburan dan manfaat. Sesuai dengan tanggung jawabnya, karya sastra Islam harus mengandung pesan yang jelas. Sastra Islam tidak bermain-main dalam kesia-siaan, Keenam, menggerakkan kreatifitas dan pemikiran. Sastra Islam bukanlah setumpuk kaidah yang beku. Sebaliknya, dia senantiasa bersifat dinamis dan berkembang mengikuti perubahan dalam kehidupan. Sudah sepatutnya sastra Islam mendorong para sastrawan muslim mengejar ketertinggalannya dari para sastrawan Barat – dan juga Timur – dalam melahirkan pemikiran dan karya sastra yang dapat diterima secara universal. Ketujuh, mempersiapkan diri untuk menentukan posisi dan melaksanakannya dengan aktifitas yang hidup. Dengan lain perkataan, sastra Islam merupakan sebuah identitas yang menuntut kerja-kerja nyata untuk memperkokoh keberadaannya di tengah berbagai genre sastra yang sudah dikenal selama ini. Tentunya, dengan modal keunggulan yang telah dimiliki, yaitu nilai spiritualitas dan religiusitas yang berdampingan dengan nilai kemanusiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.