Angin Perubahan di Arab Saudi

0
794

Dalam sebuah wawancara, Muhammad bin Salman, putra mahkota dan penguasa riil Arab Saudi menyatakan negara itu akan bergerak menjadi negara muslim moderat yang terbuka bagi keragaman dan dunia. Itu pengakuan jujur bahwa negara itu selama ini hidup dengan model Islam yang sangat konservatif dan tertutup dari perubahan. Namun, beberapa tahun terakhir, sang putra mahkota menggencarkan serangkaian perubahan.

Perubahan-perubahan itu hampir semua diperuntukkan bagi masyarakat, bukan sebaliknya. Mulai pembangunan destinasi wisata dan gedung bioskop, konser musik di sejumlah kota, hingga pembolehan perempuan mengendarai mobil sendiri. Paket keterbukaan itu kemungkinan masih akan berlanjut. Proses perubahan dari atas ke bawah itu bisa disebut mendadak. Anehnya, seluruh keputusan politik yang sewajarnya memantik kontroversi luas dan tajam di kalangan masyarakat Arab Saudi itu secara mudah diterima oleh semua pihak. Tak ada perlawanan baik dari kalangan pemerintah, para tetua kabilah dan klan, bahkan ulama.

Padahal keputusan- keputusan itu sesungguhnya melawan konvensi yang didukung fatwa ulama. Semua hal di atas hampir satu abad dilarang di negara yang mengklaim sebagai satu-satunya yang menerapkan syariah Islam secara keseluruhan dan menjadikan Alquran sebagai konstitusinya. Konser musik, apalagi disertai joget serta dihadiri laki-laki dan perempuan sesuatu yang tak terbayang terjadi di masyarakat Arab Saudi.

Menonton film dan bioskop juga demikian. Tempat wisata yang memperbolehkan perempuan sedikit berpakaian tak tertutup juga tak pernah terbayang bakal terjadi di sana. Menyetir mobil bagi perempuan apalagi. Hampir seluruh ulama rujukan, misalnya Syekh Bin Baz, Syekh Salih Fauzan, Syekh Abdul Aziz bin Ali Syekh, dan lainnya melarang hal tersebut. Tapi mendadak dipandang halal oleh para ulama, beberapa saat setelah pengumuman keputusan Raja Arab Saudi tentang pembolehan wanita mengendarai mobil sendiri. Tak ada kontroversi dan tak ada perlawanan dari masyarakat, setidaknya di permukaan. Semua berjalan mulus. Hal itu tentu sangat janggal, karena masyarakat di sana sudah hampir satu abad dijejali doktrin-doktrin ajaran keislaman yang superketat dan dikontrol. Mengapa rezim Arab Saudi tiba-tiba ingin membuat langkah perubahan ”sosial-kegamaan” secara sangat drastis? Apa sesungguhnya yang melatari itu semua dan apa tujuannya?

Apakah Arab Saudi sedang menuju negara ”sekuler”? Ataukah itu karena tekanan ekonomi atau ada sebab lain? Tak bisa dipercaya jika semua itu adalah proses sekularisasi yang sengaja didesain oleh kerajaan. Sebab, pondasi negara itu didasarkan pada agama. Itu semua tecermin pada simbol keislaman. Gelar para raja adalah gelar Khadimul Haramain al- Syarafaian, Pelayan Dua Kota Suci sebagaimana sebagian gelar dari para kalifah Turki Ustmani. Konstitusi juga demikian, yaitu Alquran. Benderanya Khafaq Ahdhar (Sang Hijau) bertuliskan dua kalimat syahadat, dan seterusnya. Pun tak bisa dipercaya bahwa Raja Salman dan Pangeran Muhammad bin Salman mengambil inisiatif ke arah penguatan masyarakat sipil, demokratisasi dan seterusnya.

Bahkan mungkin sebaliknya, upaya mengurangi tekanan masyarakat terhadap rezim yang berkuasa. Bagaimana pun masyarakat Saudi memiliki kemampuan dan kekayaan untuk mengonsumsi sarana-sarana informasi paling modern. Kesadaran atas kebebasan berpendapat dan lainnya tentu terus menguat, khususnya di kalangan terpelajarn seiring dengan intensitas dan perluasan penggunaan media-media baru. Dugaan terakhir mungkin ada benarnya. Lingkungan setelah ”Arab Springs” memberi inspirasi kepada rakyat di seluruh negara Arab untuk memperjuangkan hak rakyat menentukan masa depan mereka. Tidak sebagaimana sebelumnya, kini rakyat menjadi aktor baru yang harus diperhitungkan.
Suara masyarakat harus didengar. Jadi, bisa dipahami bahwa semua keputusan perubahan itu adalah konsesi terhadap masyarakat agar tidak melawan rezim. Namun, dugaan terkuat sehubungan dengan keputusankeputusan rezim itu adalah kepentingan ekonomi. Enam tahun terakhir ekonomi Arab Saudi mengalami tekanan hebat. Pertama, harga minyak turun drastis dari sekitar 200 dolar AS per barel menjadi di bawah 50 dolar AS per barel. Padahal sumber pendapatan sangat bergantung pada sektor itu. Kedua, Saudi melakukan petualangan politik dan militer di kawasan dengan cara sangat boros dan agresif.

Mereka membiayai perang di Suriah, mendukung logistik kelompok Sunni di Irak dan Lebanon, terlibat langsung dalam menggebuk para demonstran di Bahrain, menggeber perang yang mengakibatkan krisis kemanusiaan secara luas di Yaman, dan terakhir masih akan memicu konflik dengan Qatar serta terbaru dengan Hizbullah. Semua ambisi dan petualangan di negara-negara itu memerlukan biaya sangat tinggi, sehingga beberapa tahun terakhir anggaran belanja kerajaan jebol; kendati pengurangan gaji pejabat atau pegawai, paket bantuan sosial, dan seterusnya sudah dilakukan.

Uang bukan hanya dihamburkan untuk pembelian senjata-senjata perang supercanggih dari negara-negara maju, termasuk Rusia; tetapi juga untuk menyokong logistik kelompokkelompok yang mereka dukung. Termasuk pula ”program” meraih hati para pemimpin negaranegara besar dunia. Dari situ bisa dimengerti, keputusan perubahan di Saudi terkait erat dengan kepentingan penyelamatan ekonomi. Masyarakat sangat haus hiburan meski kecil dan sederhana. Nilai konsumsi terhadap hiburan sangat fantastis. Itulah tampaknya yang ingin didorong kerajaan, agar uang tak lari keluar dan justru memperkuat ekonomi kerajaan yang sedang kedodoran.


*Tulisan ini pernah dimuat di Suara Merdeka, 03 November 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.