Iqtibas Puisi Ma Wa’adtu Yauman” dari Al-Ashma’i (Puisi Legendaris, Menghipnotis Setiap Generasi)

0
1108

Beberapa tahun yang lalu saya sempat menghafal puisi legendaris “Shautu Shofiri al-Bul Buli“, puisi yang dirangkai apik oleh penyair kenamaan 7 abad yang lalu, Al-Asma’i. Puisi yang tidak hanya unik dalam pilihan kata (ikhtiyar kalimat) dan irama (wazan) ini, tapi juga mampu menghipnotis kalangan muda dan tua untuk mendendangkannya sebagai lagu, deklamasi, dan juga sebagai kisah lucu dan penuh intrik.

Kisah yang berlatar sayembara para penyair dan juga dialog antara Abdul Malik Ibn Quraib bin Asma’i al-Bahili dan Khalifah Abbasiyah, Abu Ja’far al-Manshur. Yang menjadi motivasi Asma’i untuk menciptakan puisi “Shautu Shafir al-Bul Buli“, walau dalam beberapa keterangan kisah ini tidak benar, namun dari sekian makalah yang saya baca, kisah ini cukup masyhur tidak hanya dalam buku-buku, tetapi juga dalam Multaqa al-Udaba’ kisah ini selalu menjadi hal yang menarik.

Bagaimana tidak, ada orang yang mampu menghafal bait-bait puisi hanya dengan sekali dengar, dan itu adalah Sang Khalifah yang sedang mengadakan sayembara deklamasi puisi.

Konon, sayembara pembacaan puisi yang paling anyar itu tidak ditemukan juaranya, karena setiap penyair yang sudah berada di hadapan Khalifah, Khalifah selalu berkata bahwa puisinya sudah tidak baru lagi, karena ketika sang penyair mendeklamasikan puisinya, Sang Khalifah sudah hafal dengan baik.

Tidak hanya itu, Khalifah punya budak laki-laki (ghulam) yang pendengarannya dan hafalannya juga kuat, bila ia mendengarkan bait-bait puisi dua kali, ia langsung menangkapnya dalam ingatannya, hafal di luar kepala. “Coba ulangi sekali lagi puisimu?” kata Khalifah. Ketika beberapa penyair datang dan membacakan puisinya lagi, Ghulam sudah hafal. Ini semakin memperkuat, bahwa tidak ada puisi yang unik dan baru, semua puisi sudah lama dibuat. Para penyair kewalahan dan kebingungan, karena mereka sadar dan sesadar-sadarnya, bahwa mereka baru saja menciptakan puisi itu, dan belum pernah dibacakan di hadapan siapa pun, juga belum pernah dibisikkan. Mengapa setiap kalimat bisa ditangkap oleh Khalifah?. Parah!

Uniknya lagi, tidak hanya Kahlifah dan Ghulam yang mampu melakukan itu, namun budak perempuan (Jariyah) khalifah juga mampu menghafalnya, ketika puisi itu diulang tiga kali. Ketika penyair disuruh membaca pertama kali, Khalifah sudah menghafalnya, ketika khalifah membacakan ulang, sang budak laki-laki sudah mengingatnya, ketika budak mengulangnya, Jariyah juga mampu melafalkannya dengan baik.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan ternyata Khalifah mampu dibuat kewalahan oleh seorang penyair yang berpakaian sederhana dengan sedikit menutupi identitas dirinya, Al-‘Asma’i demikian orang mengenalnya. Namun, di hadapan Khalifah ia tidak memperkenalkan dirinya, karena ia sangat masyhur kala itu, tidak hanya sebagai penyair tapi ilmuan Zoologi, Botani dan Pemeliharaan Hewan.

Khalifah dibuat kebingungan oleh penyair di hadapannya, dengan lafal-lafal puisi “Shautu Shafir al-Bul Buli” yang diksinya cukup rumit (munawwa’ul kalimat) dan maknanya yang cukup aneh (al-Ma’ani al-Gharibah), sehingga benar-benar tidak mampu mengingatnya, apalagi kedua pembantu sang Khalifah. Tambah bingung.

Sebelum memasuki ruangan Khalifah, al-Asma’i sudah sangat percaya diri untuk menyampaikannya dan Khalifah tidak mungkin mampu mengingatnya:

إِنَ لدي قصيدة أود أن ألقيها عليك ولا أعتقد أنك سمعتها من قبل

Ternyata benar, Khalifah tidak mampu mengulanginya. Seperti pahlawan, ia datang dengan senjata kalimat, mampu membayar kerisauan para penyair sebelumnya yang dibuat galau oleh Khalifah. Hadiah pun ia dapatkan, dan dibagi-bagikan kepada penyair lainnya, dan identitasnya pun terbongkar di hadapan Khalifah.

Saking fenomenalnya puisi “Shautu Shafir al-Bul Buli” ini, yang berkisah tentang suara burung Bul Bul yang indah dan menawan, kemudian bait berikutnya tentang kepemimpinan sang Khalifah, dan disusul dengan kisah asmara, pertemuan dan permisahan. Maka kemudian banyak menginspirasi penyair setelahnya untuk membuat puisi yang serupa, atau bahkan sangat mirip dengan puisi Asham’i hanya diganti kalimat dan artinya, tapi iramanya (wazan) sama. Seperti yang dilakukan oleh Syekh Saad Syuraim dengan puisinya yang berjudul “Ma Wa’adu Yauman Bitthali“.

Dari beberapa diskusi di grup Al-Adab Al-Araby, penulis masih agak bingung dan belum ada yang mampu memuaskan hati, apa yang dilakukan Saat ini termasuk Iqtibas (mengutip, menyalin, mengadopsi, menyesuaikan), atau Muhakat (menirukan), atau taqlid, atau Tanash, Gharar, Saraq al-adabiyah atau apa?

Bila dimasukkan pada katagori Iqtibas, maka sepertinya juga tidak begitu tepat, karena Saad tidak hanya mengambil dan meniru sebagian, atau tidak hanya menyisipkan beberapa kalimat al-Ashma’i tapi seakan-akan semua gaya darinya hanya kalimat dan makna yang berbeda, namun iramanya sama.

Dalam Iqtibas, ada Tsabitul Ma’ani dan Muhawwal. Dalam katagori yang lain, Iqtibas Mubasyir dan Ghairu Mubasyir (langsung dan tidak langsung). Apakah masuk pada katagori Tanash? Bisa saja. Namun dalam tanash ada ketidaksangajaan penulis, sedangkan puisi Saad Syuraim sengaja meniru puisi al-‘Asma’i. Dan itu disampaikan sendiri dalam:

فهذه قصيدة مصاغة من الحلي
شبهتها بقوله صوت صفير البلبل

للأصمعي قد قالها منذ الزمان الأولي
اقول في مطلعها وعدت يوما بالطلي

Namun apa pun itu namanya, tetaplah asyik, Doktor Saad Syuraim sangat piawai memainkan kalimat, sebagaimana al-Asma’i yang pintar memilih diksi dengan kerumitan tingkat tinggi, sehingga Khalifah pun merasa asing dengan bahasanya. Tidak semua tiruan itu apik, tapi Saad Syuraim mampu melakukan tiruan itu dengan menarik.

Malang, 23 Januari 2020
Khadim PP. Darun Nun Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.