Puisi-Puisi Abdul Aziz Juwaidah: Mari Berpisah

0
1445

لنفترق

هُنا نَفتَرِقْ
لأنَّا وَصلنا إلى المُفتَرَقْ
طَريقُ الرجوعِ إليكِ طَويلٌ
وطَوقُ النجاةِ بِنا يَحترقْ
وأبعَدُ ما قد تَكونُ الشواطئْ
وصَعبٌ تَلوحُ شُموسُ الأفقْ
أضَعتُ السنينَ عليكِ انتظارًا
وكنتِ بعينيَّ حُلمًا جميلاً
أفَقتُ ويا ليتَني لَم أُفِقْ
نَجوتِ بِنفسِكِ لا تَترُكيني
أُصارعُ وَحدي عذابَ الغَرَقْ

Mari Berpisah

Kita berpisah di sini
Karena kita telah sampai di persimpangan
Jalan kembali kepadamu teramat jauh
Dan garis hidup kita terbakar
terkadang pantai adalah tempat paling jauh
Untuk terbit di ufuk, matahari begitu sukar
Kuhabiskan waktu bertahun-tahun untuk menunggumu
Di mataku, engkau adalah mimpi indah
Aku sadar. Namun berharap tidak sadar
Engkau selamat sendirian, maka jangan tinggalkan aku
menanggung pedihnya tenggelam sendirian

 

أنا أعترف

مكسورةً عيناكَ كانتْ
كشراعِ كلِّ سفينةٍ
عصَفَتْ بها ريحٌ عَتيَّةْ
مكسورةً عيناكَ كانتْ
الضَّوءُ يَخبو فيهِما
وهو الذي قد كانَ دومًا
ضَوءَ لُؤلؤةٍ نقيَّةْ
الآنَ ترتاحُ السواحلُ
مِن عذابِ رحيلِها
وأنا وأنتِ معَ الهوى
كُتِبَتْ علينا في العذابِ السَّرمَديَّةْ
مكسورةٌ كلُّ الأحاسيسِ القويَّةْ
مَكسورةٌ عندَ الكلامِ
والابتِسامِ
وعندَ ترديدِ التَّحيَّةْ
أنا أعترفْ
أنِّي فتحتُ البابَ يومًا مُنيَتي
وبحُسنِ نِيَّةْ
لكنَّني ما كنتُ أعرِفُ
أنَّ في العشقِ الحياةَ
ومِنهُ أسبابَ المنيَّةْ

 

Kuakui

Matamu pecah
serupa layar dari seluruh bahtera
Yang tertiup angin kencang
Matamu pecah
di dalamnya cahaya kian memudar
Dan ia tak henti menjelma
Kilau mutiara murni
kini pantai istirah
sebab pedihnya kepergian
Sedang aku, kamu, dan cinta
Telah ditakdirkan menderita selamanya
Semua perasaan yang berkobar pecah
pecah di saat ia bicara
Di saat ia tersenyum
Dan di saat ucapan selamat yang diulang-ulangi
Kuakui
Pernah kubuka pintu untuk harapanku
Dengan itikad baik
Namun aku tak kunjung mengerti
Bahwa dalam cinta, ada kehidupan
Dan itulah yang menimbulkan harapan

 

لَكِنِّي مَعَكِ عَلَى مَوْعِد

(1)

يا حُبًّا لم يُخْلَقْ بَعدْ
يا شَوْقًا كالمَوْجِ بِصدري
يا عِشْقًا يَجْتاحُ كِياني
يا أجمَلَ رَعْشاتِ اليَدْ
يا صُبحًا يُشْرِقُ في وجْهي
يا فَجْرَ الغَدْ
يا جُزُرًا تَمتدُّ بعَيني
وبُحورًا أغْرَقَها المَدْ
الحُبُّ كموْجٍ يُغرِقُني
والشَّوْقُ الجارفُ يَشتدْ
والعِشقُ يَجيءُ كتَيَّارٍ
يَجرِفُني مِنْ خلْفِ السَّدْ

(2)

يا أجملَ عِشقٍ
جرَّبْتُ ..
أنْ أعشَقَ حُبًّا لا يُوجَدْ
أنْ أعشَقَ حُلْمًا يَتَبَدَّدْ
أنْ يُصبِحَ حُبِّي نافِذَةً
أفتحُها ..
عُمري يَتجَدَّدْ
أنْ أَبقَى العُمْرَ على مَوعِدْ
مُنتظِرًا عَودَةَ أحبابي
مُنتظرًا شَمسًا لا تأتي
لِيَدُقَّ الضوءُ على بابي

(3)

يا حُبًّا لنْ يُخلَقَ أَبَدا
أشواقي نارٌ لا تَهْدَا
قدْ تَبقَى الأحلامُ بَعيدَةْ
قد يبقَى وَجهُكِ في نَظري
شَيئًا لا أُتْقِنُ تَحديدَهْ
أَحيانًا أجْمَعُهُ خَيْطًا
أغْزِلُهُ وَجْهًا من نُورْ
أحْيانًا ألقاكِ رَحيقًا
ألقاكِ عَبيرًا
وزُهُورْ
أحيانًا يُصبحُ شلاَّلاً
وبُحَيرةَ ضَوءْ
أحيانًا يُصبحُ لا شَيءْ
أحيانًا وَجْهُكِ يَتَحدَّدْ ..
يَكْبُرُ في عيني
يَتمدَّدْ
يَتجمَّعُ كالطَّيفِ قَليلاً
وأراهُ سرابًا يَتبدَّدْ
معَ أنِّي دَومًا أتَأكَّدْ
أنَّي لنْ أجِدَكْ ..
في يومٍ
لكنِّي أحلُمُ باللُّقيا
فأرانا الآنَ على موعِدْ
وسأبقى العمرَ ..
على موعِدْ

Namun bersamamu,  aku telah terikat janji

(1)

O, Cinta yang belum dicipta
O rindu yang serupa gelombang di dada
O, cinta yang mengepung wujudku
O, getaran tangan terindah
O, pagi yang menyemburat di wajahku
O, fajar hari esok
O, pulau-pulau yang terbentang di mataku
O, laut yang ditenggelamkan pasangnya
Cinta adalah gelombang yang menenggelamkanku
dan rindu kian menghanyutkan
Cinta datang bagai arus
Menyeretku dari balik gulungan

(2)

O, cinta terindah
Telah kucoba
Mencintai cinta yang tak ada
Mencintai mimpi yang sia-sia
Menjadikan cinta sebagai jendela
Yang aku buka
Usiaku kian baru
Akan kujaga usia ini sesuai janji
Sembari menunggu kekasih kembali
Sembari menunggu matahari yang tak datang lagi
Agar cahaya mengetuk pintuku

(3)

O, cinta yang tak pernah dicipta
Rinduku adalah api yang berkobar
tapi bisa jadi mimpi begitu jauh
Bisa jadi wajahmu masih dalam pandanganku
Bagai sesuatu yang tak bisa kukenali dengan baik
Terkadang aku rajut dengan benang
Lalu kulukis ia serupa wajah yang terbuat dari cahaya
Terkadang aku menjumpaimu menjelma bebutiran
Terkadang aku menjumpai menjelma wewangian
Terkadang bunga-bunga
Terkadang menjelma air terjun
Dan telaga cahaya
Terkadang tidak berwujud apa pun
Terkadang wajahmu begitu terbatas
Tumbuh di mataku
Membentang
Berkerumun bagai spektrum kecil
Dan aku melihatnya sebagai fatamorgana yang sirna
Padahal aku selalu memastikan
Bahwa aku tidak akan pernah menemukanmu
Pada saatnya nanti
Namun aku berharap ada pertemuan
Dan Tunjukkan padaku janji itu sekarang
Akan kujaga usia
Sesuai janji


Abdul Aziz Juwaidah adalah seorang penyair Mesir, lahir di provinsi Beheira, pada 1 Januari 1961. Ia memperoleh gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Alexandria pada tahun 1983 . Penyair Abdul Aziz Juwaidah dianggap sebagai salah satu penyair yang memiliki gaya khusus dalam kreativitas puitisnya dan kosa katanya yang sangat spesifik. Dalam banyak puisinya, sang penyair memiliki kerjasama teknis dengan pemain oud yang brilian, Nasir Shamma. Semua bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris  oleh Profesor Souad Naguib, salah satu penerjemah paling brilian, karena ia mampu menjaga keindahan dan keakuratan apa yang diinginkan penyair. Dia menerbitkan buku pertamanya (لا تعشقيني) pada tahun 1992, dan karya-karya lain. Sekarang dia memiliki 13 koleksi di antaranya: La Ta’syaqini, Dlayya’tu Umri fi al-Rahil, Wa Kada al-‘Isyqu Yaqtuluni, Wa Haytsu Takunina Qalbi, dan Anti al-Mufaja’ah alAkhirah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.