Hani Al-Salimi; Novelis Palestina Penjual Kopi

0
292

Sebagai seorang novelis, ia tidak seperti kebanyakan para novelis dan sastrawan lainnya, menghabiskan banyak waktu dalam kesunyian bersama dengan buku-buku dan tumpukan catatan di dalam ruangan yang bisu. Di hadapannya, terbentang realitas yang sulit ia terjemahkan, bahkan dalam cerita-cerita heroiknya tentang kebangsaan, persatuan, cinta dan kasih sayang. Kali ini, ia tidak sedang mengilustrasikan sebuah tokoh yang kerap kali ia ciptakan dalam novel-novelnya, justru dia sendiri yang menjelma tokoh utama dalam narasi panjang tentang perjuangan di tanah Gaza, Palestina.

Tokoh utama itu kini tengah mengadu nasib dengan menghabiskan banyak waktunya sebagai penjual kopi di sebuah kedai sederhana, di kota Khan Yunis, bagian selatan Gaza. Bukan tidak ada pilihan, tapi memang itulah satu-satunya pilihan yang bisa dia lakukan untuk menghidupi keluarganya. Karena profesi sebagai penulis, bagi Hani Al-Salimi “tidak mampu memberi sesuap roti”.

Sejak meraih gelar sarjana dari Universitas Al-Azhar, Gaza pada tahun 2002, Hani mencoba mencari lapangan pekerjaan dari berbagai profesi. Tapi karena susahnya peluang kerja, akhirnya ia memilih untuk mengembangkan bakat dan minatnya dalam menulis. Dan dari sini kemudian ia kenal dan bergabung dengan Ikatan Para Penulis Palestina yang bertempat di Gaza. Pada titik ini, Hani hanya fokus mengembangkan bakatnya dalam membaca dan menulis, terutama menulis cerita pendek, kisah anak dan novel.

Pada tahun 2007 diusinya yang ke 27, Al-Salimi pernah secara kebetulan menemukan info sayambara penulisan novel dari Yayasan Abdul Muhsin Al-Qatthan (salah satu penghargaan lokal). Sayambara ini menyiapkan hadiah sebesar 5 ribu dolar AS bagi penulis yang karyanya terpilih.

Melihat nominal hadiahnya, dengan sisa waktu kurang lebih 2 bulan, akhirnya ia memutuskan untuk berpartisipasi dalam ajang ini. Dan novel dengan judul Al-Nudbah (Panggilan) yang dia tulis dalam kejuaraan itu berhasil mendapatkan penghargaan sebagai novel terbaik. Hani Al-Salimi merupakan orang Gaza pertama yang berhasil meraih penghargaan ini, mengalahkan banyak para pesaingnya dari berbagai kawasan di Palestina lainnya.

Dalam novelnya, Al-Salimi menceritakan tokoh utamanya yang tidak mendapatkan warisan harta ataupun takhta dari ayahnya, melainkan sebuah impian! Berbeda dengan kebiasaan orang lain pada umumnya yang mewariskan harta benda dan kehormatan kepada keturunannya. Kehadiran novel ini seolah membawa pesan bagi seluruh saudara-saudaranya di Palestina, bahwa perjuangan tidak akan pernah selesai. Perlawanan demi perlawanan harus terus dilakukan. Karena jauh di sana, masih ada harapan yang mesti mereka raih.

Semenjak saat itu, sosok novelis muda berbakat dari Gaza, Palestina, Hani Al-Salimi mulai banyak dikenal. Setelah debut pertamanya berhasil menyita perhatian para pembaca, novel-novel berikutnya juga terbit, mulai dari Hina Ikhtifa Wajh Hind (Ketika Dataran Hindi Bersembunyi), Hadza Al-Rashash Uhibbuhu (Ini Peluru yang Aku Suka), Sirr Al-Raihah (Rahasia Aroma), Al-Dzhil Yarqushu Ma’i (Bayangan Menari Bersamaku), Al-Jannah Al-Tsaniyah (Surga Kedua) dan masih banyak lainnya.

Pada tahun 2011 novelnya yang berjudul Hadza Al-Rashash Uhibbuhu kembali didaulat sebagai novel terbaik dan mendapatkan penghargaan dari Yayasan Abdul Muhsin Al-Qatthan. Pencapaian ini semakin meneguhkan posisi Hani Al-Salimi sebagai pendatang baru dalam dunia Arab sebagai penulis berbakat saat ini. Dengan prestasi yang telah dikantongi Hani, karya-karyanya semakin banyak tersebar di beberapa negara Arab bahkan ke luar negara Arab. Bahkan namanya sering kali muncul dalam berbagai surat kabar dan media massa Arab.

Sejak tahun 2014, situasi perekonomian di Gaza semakin sulit. Banyak lembaga pendidikan yang mengalami kesulitan untuk bertahan. Sebab perhatian utama bagi penduduk Gaza adalah bagaimana bisa bertahan hidup. Itulah satu-satunya harapan. Sehingga seorang intelektual seperti Hani sama sekali tidak bisa melamar menjadi tenaga pengajar untuk meringankan ekonomi keluarganya. Dalam situasi inilah ia akhirnya meninggalkan manuskrip novel terakhirnya yang berjudul Al-Masih Al-Akhir (Kristus yang Terakhir) karena ia tidak mendapatkan akses pengetikan dan biaya penerbitan. Dia mengatakan, “Saya tidak boleh menulis selagi istri dan anak-anak saya sedang kelaparan”. Sejak saat itulah dia fokus menjual kopi.

Meskipun aktivitas kesehariannya menjual kopi di sebuah kedai sederhana, tapi justru dengan cara itu, Hani bisa menjadikan aktivitas minum kopi lebih bermakna. Dalam berbagai kesempatan, banyak para pelanggan kopi justru terlibat diskusi dengan sang novelis untuk membincangkan proses kreatif, mendiskusikan novel-novelnya dan sesekali memberi pelatihan kepenulisan. Hal ini menjadikan Hani merasa bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Sebagai penulis novel cum penjual kopi, ia sadar bahwa tugas intelektual tidak boleh berjarak dengan struktur masyarakat paling bawah. Meskipun di Gaza, stuktur sosial sama rata, sama menderita.

Israel boleh saja merasa menang karena telah memblokade Gaza sedemikian rupa, mengisolasi penduduknya dari dunia luar dan melancarkan teror dalam berbagai skala, tapi Israel tidak akan pernah bisa merampas imajinasi dan kebebasan ekspresi yang dilahirkan oleh para seniman dan sastrawan Palestina, terutama di Gaza, sebuah kawasan paling rentan, tempat di mana suara-suara perlawanan begitu lantang digaungkan. Wallahua’lam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.