Qashidah Burdah, Tradisi Burdahan, dan Ibnu Burdah

0
577

Bagian Satu

Setiap datang bulan Maulid, seiring dengan menggemanya bacaan-bacaan maulid di langgar-langgar —saya sering teringat persoalan nama saya yang menjadi masalah sejak masih anak-anak dan remaja. Nama saya Ibnu Burdah.  Dulu, sering saya merasa gundah dengan nama itu. Mengapa ayah memberi saya nama Ibnu Burdah?

Sejak duduk di TK, SD, bahkan Madrasah Tsanawiyah (SMP), saya mempersoalkan hal itu dalam hati. Bagi saya (saat itu), kata ibnu itu mudah diucapkan dan terasa tidak aneh. Tapi, burdah sungguh merupakan nama yang aneh dan terkesan feminin, dan hanya cocok digunakan untuk nama perempuan, bukan laki-laki seperti saya. Saya merasa minder, bahkan galau dengan nama itu.

Perasaan semacam itu bukan semata penilaian diri sendiri. Saya juga merasakan respon orang lain terhadap nama saya. Jika hendak berkenalan dengan orang lain, saya sering mengulang berulang kali nama saya. Bukan karena suara saya kurang keras saat memperkenalkan diri, tetapi burdah memang sangat jarang dipakai sebagai nama orang di Indonesia. Setelah dewasa ketika sudah ada google, saya mencari nama Ibnu Burdah untuk orang Indonesia, dan hanya menemukan satu orang yang memakai nama itu selain saya, yakni Ibnu Burdah, sutradara film Menggapai Matahari. Saya belum pernah bertemu dengan orang itu. Jika nanti bertemu langsung dengannya, saya ingin sekali berbagi cerita tentang nama kami “Ibnu Burdah” dan respons orang terhadap nama aneh ini.

Setelah duduk di Madrasah Aliyah Negeri, saya masih merasakan hal serupa. Kesan teman-teman dan guru-guru saya juga tampak aneh dengan nama saya. Apalagi saat itu saya mulai menyadari bahwa burdah adalah kata bahasa Arab yang berarti selimut/mantel. Saat duduk di SMA tepatnya di MAN Trenggalek Jatim, sebagai warga Nahdhiyyin, tentu sayup-sayup sudah mendengar kata burdahan, tradisi pembacaan madh (pujian) kepada Rasulullah SAW. Tetapi, saat itu saya belum paham judul Qashidah Burdah yang ditulis ulama, penyair sufi yang memiliki darah Maroko itu. Sebab, di lingkungan saya, yang dikenal adalah tradisi berjanjen, yaitu pembacaan Kitab al-Barzanji karangan seorang sufi berkebangsaan Kurdi, tapi lahir dan wafat di Madinah, al-Syeikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad al-Barzanjiy (1126-1177 H) dan dibaan, yakni pembacaan kitab Diba’i   tulisan al-Imam Wajiduudin Abdurrahman al-Dibaiy az-Zabidy al-Syafi’i. Judul asli al-Banzanji adalah ‘Iqd al-Jawahir fi Mawlid al-Nabawiy al-Azhar dan judul asli al-Dibai jika tidak keliru adalah mawuid al-Diba’i.

Saya semakin tidak percaya diri dengan nama saya ketika orang tua saya memberi nama adik-adik saya dengan sangat bagus (menurut perasaanku dan mungkin orang lain saat itu). Nama adik-adik adalah Kiromim Baroroh (perempuan), Muhammad Husna Mubarok (laki-laki), Ahmad Rofiud Darojat (laki-laki). Nama-nama itu terasa memiliki makna yang agung dan kuat. Namun saat itu, tak pernah terlintas dalam benak saya keinginan untuk menanyakan kenapa saya diberi nama Anak Selimut seperti itu. Saya terbiasa tumbuh sebagai anak yang tidak mempertanyakan apa pun apalagi menuntut kepada orangtua.

Setelah saya duduk di perguruan tinggi, saya mulai timbul keinginan dan keberanian menanyakan hal itu kepada ayah. Ini mungkin terkait dengan psikologi mahasiswa yang dibiasakan lebih berani dan terbuka mempertanyakan sesuatu. Ayah saya menjawab bahwa nama itu bukan berasal dari beliau. Bahkan beliau juga tidak pernah meminta nama kepada seseorang untuk memberi nama anaknya lalu seseorang itu menyarankan nama Ibnu Burdah itu. Hal itu tak pernah terjadi.

Yang terjadi adalah ketika saya masih dalam kandungan, ayah sowan ke seorang Kyai di Talun, Blitar. Ayah memang sering silaturahmi, sowan kepada para kyai sepuh yang kadang masih memiliki hubungan keluarga. Hubungan kekerabatan itu sebetulnya sudah sangat jauh tapi setahu saya relatif terpelihara setidaknya saling tahu dan kenal. Ketika beliau mengetahui bahwa ayah akan jadi calon ayah maka beliau langsung memberi perintah kepada ayah. “Anakmu jenengno Ibnu Burdah”. Mendapat perintah itu, ayah sama sekali tak menjawab apa-apa. Hanya terdiam sebagaimana umumnya santri kampung di hadapan kyai besar. Ayahku tak berpikir untuk mempertimbangkan nama itu sebab baginya itu adalah perintah yang final dan mesti dilaksanakan. Tak ada pilihan dalam masalah itu. Yang terlintas dalam pikiran ayah hanya “oh berarti anakku dalam kandungan ini laki-laki”. Ayah yakin itu dengan sepenuhnya tanpa ragu bahwa ia akan menjadi ayah dari bayi seorang laki-laki, tentunya tanpa melakukan pemeriksaan USG atau semacamnya terlebih dahulu sebab mungkin belum ada di Indonesia kala itu (1976).

Yang terjadi kemudian memang benar, anak laki-laki yang lahir, dan perintah memberi nama ibnu burdah itu pun dilaksanakan, sebab ayah sudah yakin anaknya laki-laki dan tak mempersiapkan atau mencari nama lain. Itulah cerita mengapa ayah memberi nama saya Ibnu Burdah.

Ayah memang pengamal bait-bait Qashidah Burdah. Sejak saya masih bayi, jika beliau menggendong saya maka pujian mawlaya shalli hampir selalu dikumandangkan lirih. Itu pula yang berupaya saya lakukan untuk anak saya tercinta, Ofa, kendati kemudian pujian pertama yang dia hafal di langgar saat menjelang salat adalah subhanallah walhamdulillah dst. Bahkan hingga saya tumbuh sebagai anak-anak remaja, pujian pertama yang saya hafal juga mawlaya shalli. Saya tak perlu menghafal syair itu sebab sudah jadi lantunan yang saya dengar berulang sejak bayi. Hingga sekarang, saya tidak tahu persis apakah maw laya shalli, dan ya rabbi bil, itu bagian dari Qashidah Burdah tulisan al-Bushiri atau tidak. Saya pernah mencoba mencari matan teks kitab itu dalam banyak versi, setahu saya hanya bagian huwal habiibu lladzi turja safaatuhu dst itu yang merupakan bagian dari matan Qashidah Burdah. Tetapi setiap pembacaan burdah di mana saja yang saya ketahui secara langsung termasuk di Timur Tengah, selalu didahului dengan bait mawlaaya shalli itu atau ya rabbi bil musthafa, tidak dimulai dari amin tadzakkuri jiiraanim bi dzi salami.

Sewaktu saya kanak-kanak, hampir setiap hari, terutama bakda adzan Isya’ saya melantunkan pujian mawlaya shalli itu dengan pengeras suara di Mesjid. Karena ayah adalah imam Mesjid kampung itu dan saya dididik untuk selalu salat jamaah di Mesjid dan sering mengumandangkan azan. Suara saya mungkin termasuk bagus di kalangan anak-anak, konon banyak orang yang suka mendengar lantunan pujian saya kendati saya masih kanak-kanak. Hal ini mungkin disebabkan bait-bait itu memang sudah menjadi bagian dari diri saya sejak masih bayi. Kadang-kadang saya melantunkan al-i’tiraf-nya Abu Nuwas, Allah Wujud, Allhummaghfir, Yaa sayyidiy yaa Rasulallah, dan sebagainya setelah azan Isya’ di Mesjid. Tetapi, bagi saya mawlaya shalli tetap merupakan andalan dan paling sering saya lantunkan. Perasaan senang ketika melantunkan puji-pujian itu waktu kanak-kanak di Mesjid baik sendiri maupun bersama teman. Sebab hal itu seperti ekpresi eksistensi diri bagi anak-anak karena didengar  banyak orang. Kebetulan Messjid tempat kami memiliki pengeras suara yang mengarah ke berbagai arah dan diletakkan di tempat yang tinggi, sehingga banyak warga yang mendengar lantunan itu.

Bagian Dua

Melompat jauh, saya kemudian mengambil studi di jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (saat itu masih IAIN Sunan Kalijaga). Seingat saya, tak ada kaitan antara nama saya dengan pilihan studi BSA itu dalam pikiran dan pertimbangan saya saat itu. Saya belum menyadari ada kaitan antara nama saya dan jurusan yang saya pilih. Maksud saya, oleh karena nama saya adalah Ibnu Burdah, nama yang terkait dengan judul karya sastra Arab legendaris, maka saya memilih jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Itu seingat saya, sama sekali tak ada dalam benak—yang ada dalam benak adalah saya kuliah di IAIN dalam rangka melanjutkan studi, itu saja. Ibu sangat berharap anaknya melanjutkan sekolah di IAIN sebab beliau sepertinya pernah mengetahui Kuliah Kerja Nyata anak IAIN entah di mana. Adapun pilihan Sastra Arab seingat saya dipengaruhi oleh Ibu Aryani, wali kelas saya dan alumni BSA, Fakultas Adab, IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Di Fakultas Adab, saya mulai mengenal nama Qashidah Burdah sebagai karya madh yang monumental, bukan sebagai tradisi semacam berjanjen dan dibaan. Saya bagaimanapun mulai merasa tersanjung dengan nama itu. Saya tak lagi minder seperti sebelumnya. Sebab dosen dan teman-teman cenderung paham dengan kebesaran karya sastra yang berjudul asli al-Kawakib al-Dhurriyah fi Madhi Khairil Bariyyah ini. Karya ini merupakan karya mahd yang paling fasih, puitis, dan sangat dalam dan indah dalam mengekpresikan kerinduan yang sangat dan kobaran cinta mendalam kepada Rasulullah. Karya ini konon hanya kalah dari madh nya Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma yang biasanya diberi judul Banaat Su’ad. Kata Burdah “mantel” sesungguhnya merujuk pada pemberian mantel Rasulullah kepada Ka’ab bin Zuhair itu.  Bahkan sebagian dosen saya seperti KH. Habib Syakur langsung menjelaskan tentang Qashidah Burdah ketika membaca daftar presensi ada nama Ibnu Burdah. Mungkin dalam benak dosen yang kemudian dikenal sebagai pengarang Metode Baca Kitab Kuning 33 itu terlintas, nama yang jarang dipakai dan seperti aneh tapi merujuk ke karya fenomenal dalam khasanah Islam dan Arab. Kendati tak mendalami Burdah, saya kemudian lebih memahami posisi Qashidah Burdah dalam belantara karya-karya sastra Islam yang monumental. Di Pesantren al-Muhsin (Nglaren) dan Nurul Ummah (Kota Gede), banyak teman yang sekilas berbicara tentang tradisi burdahan, yang mirip dengan tradisi berjanjen dan dibaan di tempat asal saya.

Sedikit melompat agak jauh, kebanggaan atau tepatnya perasaan percaya diri dengan nama itu berlanjut ketika saya kemudian ditakdirkan bisa berziarah ke makam al-Syekh Syarafudin Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Shonhaji al-Bushiri di Alexandria, kota terindah di bagian Utara Mesir. Kota itu menjulur ke laut Putih atau Laut Tengah. Jalan-jalan protokol kota seolah berada di atas laut. Banyak sejarah yang menceritakan ini kepada mahasiswa saya dengan mengungkapkan kalimat yang agak percaya diri zaara Ibnu Burdah ila Maqbaroh Shahib al-Burdah lihubbihi ila al-Burdah tansyiidan ba’dha abyaat al-Burdah (Ibnu Burdah berziarah ke makam penulis Burdah sebab cintanya kepada Burdah sambil melantunkan beberapa bait Qashidah Burdah). Ketika sampai di sana maka perasaan saya  sungguh luar biasa. Apalagi saat itu, saya sedikit banyak mulai merasakan kekuatan bahasa dan menyesapi kedalaman makna qasidah yang dikutip oleh banyak sekali pendendang salawat di tanah air itu. Favorit saya adalah kutipan Burdah yang dibawakan Haddad Alwi dan Grup Salawat Langitan. Saya belum bisa bercerita lebih jauh soal perasaan mendalam dalam menikmati Burdah sebab memerlukan suasana khusus.

Saya tentu semakin bangga ketika lama kelamaan juga mengenal biografi tokoh penulis Burdah ini. Ia dikenal sebagai penyair, alim,  dan sufi. Sebab itu ia digelari Syairu al-ulama atau ulama al-Syuara’. Bukan itu saja, ia juga dikenal sebagai seorang sufi, dan berguru kepada al-Imam Abu Hasan al-Syadzili (w. 694 H/1295 M) dan muridnya al-Imam Abul Abbas al-Mursiy. Al-Imam al-Syadzili adalah  pendiri Tarekat Syadziliyyah yang menjadi tarekat terbesar di Maroko, Tunisia, Aljazair, dan sebagian Libya dan Mauritania, bahkan hingga ke Indonesia. Di Maroko dan sekitarnya, kalimat al-Imam Malik Malikuna wa al-Syekh al-Syadzili Syeikhuna adalah kalimat yang begitu populer di kalangan rakyat. Sebab mereka memang bermadzhab Maliki dan biasanya mengikuti (tidak selalu berbaiat) tarekat Syadzili kendati di sana banyak sekali tarekat-tarekat “swasta” (non-mu’tabarah) yang tak begitu dikenal. Penulis juga pernah dibaiat “paksa” oleh tariqat swasta itu.  Salah satu kyai tempat saya mengaji, Kyai Ustman, kebetulan juga tokoh pengamal tarekat Syadziliyyah. Syekh al-Bushiri, pengarang Burdah itu, ternyata juga bergelar al-Shanhaji yang berarti beliau adalah orang Berber sebagaimana al-Syekh Shanhaji penulis al-Ajurumiiyah, kitab nahwu yang saya pelajari waktu SMP dan SMA. Setelah memiliki kesempatan untuk mengunjungi sejumlah kota di Maroko, saya juga semakin menyadari ternyata banyak nama orang Berber yang menjadi rujukan santri di Tanah air seperti oleh Syekh al-Jazuli (muallif kitab al-Dalaail), Ibnul Arabiy al-Mufassir, Ibnu Hazm,  hingga ke pemikir-pemikir masa kini seperti al-Raisuni (rujukan masalah Maqashid),  ‘Abid al-Jabiri, dan seterusnya.

Nama Ibnu Burdah ternyata kemudian mengandung makna yang tak sederhana, setidaknya bagi saya yang dipercaya menjadi dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga. Nama itu ternyata menjadi simbol kesatuan dunia Islam dari dahulu hingga sekarang. Jika kita mencermati sekarang maka bait-bait lagu mawlaya shalli yang dikenalkan ayah saya sejak bayi itu ternyata juga dilantunkan oleh umat Islam di mana saja. Artis-artis pemersatu dunia Islam dalam kesatuan perasaan melalui seni seperti Maher Zein juga melantunkannya. Saya menyaksikan popularitas lagu itu bukan hanya di youtube tetapi juga di lapangan, di sejumlah negara Islam. Lagu itu menukil beberapa bait dari Burdah al-Bushiri. Masih banyak deretan penyanyi terkenal, yang menukil bait-bait syair itu termasuk di Indonesia.

Kini, saya menyadari bahwa nama saya punya arti kendati nama ini kurang lazim dipakai. Sebagai seorang yang berupaya rajin menulis, keinginan saya sekarang tinggal satu, harapan untuk bisa menulis, menyelesaikan Qashidah yang saya beri judul Qashidah Ibnu Burdah atau Qashidah Ibni Burdah. Amin.

Yaa Rabbi bil Musthafa Balligh Maqashidana Waghfir lana Maa Madza Ya Waasi’al Karami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.