Dalam Penantian Pedang

0
296

فى انتظار السيف

وردة فى عروة السّرة
ماذا تلدين الآن ؟
طفلا .. أم جريمة ؟
أم تنوحين على بوّابة القدس ؟
عادت الخيل من المشرق
عاد (الحسن الأعصم ) والموت المغير
بالرداء الأرجوانىّ ، وبالوجه اللصوصى
وبالسيف الأجير
فانظرى تمثاله الواقف فى الميدان
(يهتّز مع الريح)
انظرى من فرجة الشبّاك
أيدى صبية مقطوعة
مرفوعة .. فوق السّنان
(..مردفا زوجته الحبلى على ظهر الحصان)
أنظرى خيط الدم القانى على الأرض
((هنا مرّ .. هنا ))
فانفقأت تحت خطى الجند
عيون الماء
واستلقت على التربة .. قامات السنابل
ثم..ها نحن جياع الأرض نصطف
لكى يلقى لنا عهد الأمان
ينقش السكة باسم الملك الغالب
يلقى خطبة الجمعة باسم الملك الغالب
يرقى منبر المسجد
بالسيف الذى يبقر أحشاء الحوامل

***

تلدين الآن من يحبو
فلا تسنده الأيدى
ومن يمشى .. فلا يرفع عينيه الى الناس
ومن يخطفه النخّاس
قد يصبح مملوكا يلطون به فى القصر
يلقون به فى ساحة الحرب
لقاء النصر
هذا قدر المهزوم
لا أرض .. ولا مال
ولا بيت يردّ الباب فيه
دون أن يطرقه جاب
وجندى رأى زوجته الحسناء فى البيت المقابل)
أنظرى أمّتك الأولى العظيمة
أصبحت : شرذمة من جثث القتلى
وشحّادين يستجدون عطف السيف
والمال الذى ينثره الغازى
فيهوي ما تبقى من رجال
وأرومة
أنظرى
لا تفزعى من جرعة الخزى
أنظرى
حتى تقيه ما بأحشائك
من دفء الأمومة

***

تقفز الأسواق يومين
وتعتاد على ((النقد)) الجديد
تشتكى الأضلاع يومين
وتعتاد على الصوت الجديد
وأنا منتظر .. جنب فراشك
جالس أرقب فى حمّى ارتعاشك
صرخة الطفل الذى يفتح عينيه
على مرأى الجنود

Dalam Penantian Pedang

Ada mawar merah di tali pusar:
Apa yang kini kau lahirkan?
Bayi… atau kejahatan?
Apa kau sedang meratapi gerbang al-Quds yang purba?
Kawanan kuda kembali dari timur
(Pasukan Hasan al-A’sham) kembali bersama kematian yang tiba-tiba
Menjelma bendera ungu, menjelma wajah-wajah perampok
Dan menjelma pedang pembunuh bayaran
Lihatlah monumennya, tegak di alun-alun
(Bergerak-gerak bersama angin)
Lihatlah dari celah jendela:
Tangan-tangan anak kecil dipatahkan
Diangkat tinggi-tinggi ke mata lembing
(Sambil membonceng istrinya yang sedang hamil di atas punggung kuda)
Lihatlah, jahitan darah merah di tanah
“Di sini ia lewat, di sini”
Lalu di bawah jejak kaki bala tentara;
Sumber-sumber mata air kian kerontang
Dan rumput-rumput ilalang yang tegak
Berserakan di tanah
Oh, inilah kami orang-orang kelaparan di muka bumi.
Berbaris
Agar masa-masa kesejahteraan menjumpai kami
Memahat lorong dengan nama raja sang penguasa
Menyampaikan khotbah atas nama raja sang penguasa
Menaiki mimbar masjid
Dengan pedang yang merobek perut perempuan-perempuan hamil

***

Kini telah kau lahirkan orang yang bisa merangkak
Hingga ia tak lagi butuh bantuan tangan
Kau lahirkan orang yang bisa berjalan
Hingga ia palingkan pandangannya pada manusia
Dan kau lahirkan orang yang pernah dibajak budak:
Hingga menjelma budak yang direndahkan di istana
Dilemparkan ke medan perang
Untuk meraih kemenangan
Inilah takdir orang kalah:
Tak punya tanah, tak punya harta
Tak juga rumah yang mesti ditutup pintunya
Hingga kolektor pun tak perlu mengetuknya
Dan seorang tentara bebas memandangi istri cantiknya dari seberang rumahnya
Lihatlah bangsamu yang besar ini
Telah menjelma tumpukan mayat pembunuhan
Hingga para pengemis mengemis belas pada pedang
Dan harta yang ditaburkan para perompak
Hingga tak ada yang tersisa dari martabat para lelaki dan garis keturunannya
Lihatlah
Dan jangan khawatir dengan seteguk rasa malu
Lihatlah
Hingga kau muntahkan segala yang ada dalam perutmu
Dari hangatnya keibuan
Pasar-pasar hancur dalam waktu dua hari
Dan mulai terbiasa dengan mata uang yang baru
Tulang rusuk mengadu selama dua hari
Dan mulai terbiasa dengan babak baru
Radio terdiam selama dua hari
Dan mulai terbiasa dengan suara yang baru
Sedangkan aku menunggu di samping ranjangmu
Dalam demam gigilmu, aku duduk mengawasi
Jeritan bayi yang akan membuka matanya pada penglihatan para tentara.


Puisi di atas diambil dari salah satu antologi puisi penyair Mesir, Amal Dunqul yang berjudul
Ta’lîqu Mâ Hadatsâ (1971). Ia bernama Muhammad Amal Fahim Abu al-Qasim Muharib Dunqul, lahir di Desa Qal’ah, Provinsi Qina pada 1940 dan wafat pada 21 Mei 1983 karena serangan jantung. Ia merasakan gejolak revolusi Mesir 1967 yang juga berpengaruh pada pembentukan puisi-puisinya. Bersamaan dengan itu, antologi puisi pertamanya lahir dengan judul al-Bukâu bayna Yaday Zurqâi al-Hamâmati. Di masa-masa akhir hidupnya, semenjak serangan jantung menggerogoti tubuhnya, ia masih menulis beberapa puisi yang terkumpul dalam antologi terakhirnya yang berjudul Awrâqu al-Ghurfah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.