Antara Ibnu Khaldun dan Al-Baghdadi

0
325

Kawasan Timur Tengah pada abad ke-14 dan Timur Tengah sekarang memiliki kemiripan kuat. Kemiripannya adalah kekacauan ada di mana-mana. Kekacauan akibat perselisihan internal, konflik antarkelompok, dan intervensi luar begitu luas terjadi di kawasan ini pada dua zaman tersebut.

Pada abad ke-14, kekacauan diawali dengan tumbangnya dua simpul kekuatan politik dan peradaban saat itu. Yakni Abbasiyah di wilayah Timur dengan pusat Baghdad terutama karena serbuan dari Mongol di samping karena konflik internal. Di Barat (Spanyol), simpul politik dan peradaban Andalusia sudah sangat melemah dengan sebab yang hampir sama. Tekanan militer dari Eropa dan perpecahan internal. Beberapa kota yang tersisa seperti Toledo, Sevila, Granada, dan Cordova di ambang kehancuran.

Sementara itu, di wilayah antara Andalusia dan Baghdad, konflik karena perebutan kekuasaan pada dinasti-dinasti kecil terjadi di berbagai wilayah baik di Arab Barat terutama wilayah Maroko, Aljazair, dan Tunisia sekarang ini, maupun di Timur. Dinasti Muwahidun yang cukup lama menyatukan Arab-Barat hancur dan diganti dinasti-dinasti kecil yang saling berkonflik. Persaingan panjang di tempat itu juga pernah melibatkan kekuatan Syi’ah (Idrisi/Maroko), Sunni (Aghlabi/Tunis), dan Khawarij (Rustumi/Aljazair).

Demikian pula di Arab Timur dan juga di wilayah Mesir dan sekitarnya. Buyarnya simpul-simpul besar politik dan peradaban di Timur Tengah masa itu menandai era kekacauan yang meluas. Di Timur Tengah saat itu dipastikan terjadi “migrasi-migrasi” dalam skala yang tak kecil akibat kekacauan politik yang begitu luas.

Situasi Timur Tengah saat ini sangat mirip dengan situasi Timur Tengah tujuh abad yang lalu itu. Kekacauan akibat konflik dan perang terjadi di mana-mana. Konflik sangat ganas dan destruktif terjadi di Suriah, Irak, Yaman, Libya, dan dalam skala lebih terbatas di Palestina, Mesir, Lebanon, Sudan, dan negara Arab lain. Belum lagi kemungkinan eskalasi konflik akibat insiden penembakan pesawat Su-24 Rusia oleh kekuatan udara Turki baru-baru ini. Sebab-sebab konflik juga memiliki kemiripan yakni pertikaian internal yang begitu kuat, berbau sektarian, dan intervensi aktor-aktor kuat di kawasan dan internasional.

Krisis kemanusiaan

Kekacauan itu telah melahirkan banjir pengungsi dan krisis kemanusiaan skala luas di Timur Tengah saat ini. Pengungsi tak hanya berada di dalam negeri masing-masing atau di negara Arab sekitarnya. Tetapi juga menyebar hingga wilayah-wilayah di daratan Eropa bagian Utara. Singkatnya, membaca situasi Timur Tengah pada abad ke-14 serasa membaca situasi Timur Tengah sekarang.

Akan tetapi, tokoh paling sentral yang lahir dari rahim dua zaman ini sangat kontras. Kekacauan pada abad ke-14 melahirkan Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun. Sedangkan kekacauan Timur Tengah sekarang melahirkan tokoh paling sentral berjuluk Abu Bakar al-Baghdadi, “khalifah negara” teror Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).

Ibnu Khaldun adalah seorang “tehnokrat” dan ilmuwan yang jasanya dikenang sepanjang masa. Ia sangat berjasa bukan hanya bagi orang Arab dan Muslim tetapi juga bagi umat manusia secara luas. Tak diragukan bahwa Ibnu Khaldun adalah peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan sejarah.Bahkan Muhammad Abid Al-Jabiri dalam bukunya Fikr Ibnu Khaldun Ashabiyyah wa al-Dawlah: Ma’alim Nadzariyah Khalduniyyah fi al-Tarikh al-Islamiy (1994: 251) menyebutnya sebagai filsuf sejarah awal. Ia kadang juga dipandang sebagai peletak dasar ilmu geografi, antropologi, dan sebagainya.

Gagasannya dalam buku tujuh jilid al-Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wal Khabar fi Ayyamil Arab, wal Ajami wal Barbar Wa Man Asharahum min dzawil sulthanil akbar (2001, ed Suhail Zakar) dipandang sebagai kebaruan yang sangat penting dalam banyak disiplin ilmu seperti sejarah, ilmu sosial, dan ilmu manusia, yang belum pernah ada sebelumnya.

Kebaruan dalam buku yang lebih dikenal dengan Al-Mukaddimah itu antara lain berisi tentang al-umran albasyari (masyarakat manusia), dhahiratulkasb wal ma’asy (fenomena produksi dan moda ekonomi) (2001: 46-53), al-qaryah wal madinah wal buldan (desa, kota, dan negara-negara), dan al-Umam al-Mutawakhisyah wal Bidaiyyahwal Khadhariyyah (masyarakat liar, baduwi, dan berperadaban), serta konsep ashabiyyah atau nasionalisme (2001: 150-153).

Tak tanggung-tanggung ilmuwan sejarah sekaliber Arnold J Toynbee dalam Study of History (1956), satu referensi terpenting dalam studi sejarah, menyebut dan mengutip Ibnu Khaldun tak kurang dari 16 kali. Pengaruh Ibnu Khaldun terhadap banyak ilmuwan Barat sulit dibantah. Padahal jika diserupakan dengan masyarakat Timur Tengah sekarang, Ibnu Khaldun adalah korban konflik dan menjadi pengungsi yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain akibat kekacauan dan krisis kemanusiaan.

Tetapi, ia membuat begitu bangga penduduk setiap negeri yang pernah disinggahinya hingga sekarang baik itu di Tunisia (tempat lahirnya), Aljazair, Fas Maroko, Granada, Palestina, Damaskus, Hijaz (Mekkah-Madinah), dan Mesir, bahkan juga Yaman (Hadramaut) tempat moyangnya berasal yang setahu penulis tak pernah ia kunjungi. “Petilasan-petilasan”nya dirawat dan dihormati sebagai simbol kebanggaan. Pemikirannya terus digali dan dikembangkan hingga sekarang.

Kekuatan ekstremis

Sebaliknya, kekacauan Timur Tengah pada masa sekarang melahirkan Abu Bakar al-Baghdadi. Di tengah kekacauan di Irak pasca-agresi Amerika Serikat dan kekacauan di Suriah, al-Baghdadi berhasil menggalang kekuatan ekstremis dalam skala luas. Ia berhasil memanfaatkan situasi krisis kemanusiaan di wilayah itu untuk merekrut pengikut, menjarah sumber daya alam, dan membangun kekuatan teror yang mengerikan.

Ia telah berhasil menyempurnakan kekacauan di Timur Tengah untuk menjadi neraka yang sesungguhnya. Aksi sangat brutal dan sadis dilakukan secara sistematis dan dengan dukungan kekuatan besar dan legitimasi agama oleh para pengikutnya. Horor tak hanya mereka tebar di wilayah kekuasaannya dari Mosul di Irak Utara hingga Raqqa di Suriah Utara. Tetapi juga ke seluruh negeri di dunia. Celakanya, menurut Abdul Bari ‘Ithwan dalam bukunya al-Dawlah al-Islamiyyah: Judzur, tawkhkhusy wa al-Mustaqbal (2015), organisasi yang dipimpin al-Baghdadi telah benar-benar menjadi negara yang sangat modern dan kuat baik dalam kemampuan militer, logistik, manajemen “pemerintahan”, dan kemampuan tehnologi.

Jika Ibnu Khaldun mengirim ilmu dan peradaban yang bermanfaat luas untuk masyarakat Timur Tengah, Eropa, dan umat manusia sepanjang zaman maka al-Baghdadi menebar teror dan horor kepada seluruh umat manusia termasuk pada masyarakat Eropa. Ia juga berhasil menebar saling kebencian antarkelompok umat manusia dan -jika meninggal-mungkin akan mewariskan generasi-generasi yang terus menebarkan kekerasan dan teror.

Negara mana pun yang memiliki warga yang terlibat gerakannya akan siap siaga. Sebab ancaman kekerasan dan penyebaran ideologi ekstrem kepada generasi muda menjadi sangat nyata. Sungguh pelajaran berharga, dua situasi dan satu “rahim” kawasan yang “sama” melahirkan dua tokoh yang sama sekali berbeda termasuk dampaknya terhadap kehidupan dan kemanusiaan dalam jangka waktu yang panjang.


*Tulisan ini pernah dimuat di Serambinews pada 17 Desember 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.