Kini Waktunya Seribu Malam

0
295

Pada tahun 1950an, aku menemui William Somerset Maugham, penulis Inggris yang sedang berkunjung ke Kairo. Dia sedang sakit dan lumpuh, sehingga sekretaris pribadinya bertugas mengulangi setiap pertanyaan yang diajukan dengan suara keras di dekat telinganya. Pendengarannya tidak begitu baik, sementara kedua bibir dan tangannya tampak selalu gemetar dan matanya terpejam. Aku bertanya apakah dia sudah membaca karya-karya Mahmud Abbas Al-Aqqad dan Thaha Husein?

Dia mencoba mengingat nama-nama tersebut. Aku ulangi sekali lagi. Namun sangat mengejutkan, ia belum membaca dan tidak pernah mendengar nama mereka. Dia mengatakan, “Saya hanya membaca Seribu Satu Malam”

Setelah aku publikasikan peristiwa ini, Al-Aqqad marah dan menyerangku, “Aku tak peduli dan tak mau tahu apa pendapatnya. Tapi aku hanya ingin mengejeknya dan orang-orang di sana.”

Ketika aku bertanya kepada seorang teman dari Swiss, Friedrich Durrenmatt apakah dia membaca karya sastra Arab klasik atau modern, dia menjawab bahwa selain Seribu Satu Malam, ia tidak mengenal karya sastra Arab lainnya.

Aku tidak menyalahkan siapapun. Sastra Arab modern memang tidak banyak tersebar dalam bahasa Eropa. Bisa jadi seorang intelektual Eropa semasa hidup hingga akhir hayatnya belum pernah membaca karya sastra Arab, tanpa harus memendam sedikitpun perasaan bahwa ia telah rugi dan sia-sia. Karena dalam bahasa (sastra) Eropa ada yang lebih indah, lebih memukau dan lebih mendalam. Barangkali…

Sampai saat ini, Seribu Satu Malam masih memikat. Aku sudah membaca setengah lebih dalam beberapa bulan terakhir ini. Kisah ini menentramkan pikiran dari belenggu keresahan—dari logika, pikiran yang monoton dan kesatuan ruang dan waktu.

Zaman dalam kisah Seribu Satu Malam selalu berubah dalam setiap orientasi dalam masa lalu dan masa depan. Sebuah tempat, tak bertempat: di sana terdapat banyak perangkat untuk terbang antara langit-bumi hingga di bawah permukaan laut dengan kecepatan yang luar biasa.

Burung-burung yang terluka, hamparan angin, cincin Sulaiman, lampu Aladin. Hewan-hewan yang berubah satu sama lain, juga tumbuh-tumbuhan dan burung. Orang-orang tenggelam dalam kenikmatan dan ketakutan.

Syahrayar sang raja, adalah anak kecil paling terkenal dalam sejarah sastra dunia. Syahrazad mengumumkan bahwa dia akan menceritakan untuknya sebuah kisah yang mampu membuatnya lupa pada pemerintahan dan rakyat. Bahkan kita tidak tahu bahwa dia memiliki sebuah tugas, atau beban, atau sebuah negeri atau seorang ayah dan ibu. Syahrazad hanya perlu mengumumkan tentang sebuah kisah sehingga Syahrayar menjadi seorang bocah di hadapannya.

Cerita adalah nikmat paling agung. Ia adalah solusi bagi setiap persoalan psikologis.

Bahkan Syahrayar sama sekali tidak berkata-kata. Dalam setiap Seribu Malam tak ada percakapan antara raja Syahrayar dan ratu Syahrazad. Kisah tersebut hanyalah sebuah monolog panjang dan Syahrazad yang terus berbicara. Sementara Syahrayar hanya mendengarkan, tanpa makan, tanpa minum, tidak tidur, tidak pula terjaga, dan tidak bernafas. Hanya Syahrazad yang berkata dan sudah pasti Syahrayar hanya terdiam di sana, menyimak tapi tidak bisa memotongnya dengan jiwa dan gerakan.

Andaikan raja Syahrayar sedang menghunuskan pedangnya untuk memenggal seorang kriminal atau pencuri—dan dia tidak pernah melakukannya kecuali satu kali ia memenggal seorang kriminal yang mengganggu istrinya saat ia sedang keluar istana—kemudian berkata kepadanya, “Tuan Raja, saya punya cerita untuk Anda”, niscaya ia lemparkan pedangnya lalu bersujud di bawah kaki sang pencuri dan berkata, “Justru engkaulah tuanku, yang mulia. Maka mulailah kisahmu. Jika hamba memotong kisahmu, ambillah pedang ini dan penggallah kepalaku!”

Yang lebih mengejutkan nan jenaka dari kisah Seribu Satu Malam adalah malam terakhir itu, yaitu malam pertama setelah malam keseribu. Pada malam ini Syahrazad telah meriwayatkan semua kisah-kisahnya dan kini sampai pada kisah yang ke-120 serta menghabiskan 33 bulan lamanya. Di malam itu, Syahrazad meminta raja Syahrayar untuk memperlakukan dirinya sesuka hati. Syahrazad telah mengisahkan semua kisah yang dia punya dan ia berusaha untuk menyelamatkan 3 putri kandungnya dari pembalasan raja yang sangat kejam. Kemudian Syahrazad mempersembahkan 3 anak laki-laki kepada sang raja, mereka adalah anak-anaknya.

Tapi yang aneh, sang raja tak sedikitpun memperhatikan bahwa Syahrazad sedang hamil, atau sedang sakit, atau sedang melahirkan, atau saat terdengan tangisan seorang bayi. Ataukah Syahrazad telah meminta maaf karena tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai penutur kisah akibat kepayahan, atau karena sibuk menyusui, atau karena lemah setelah melahirkan? Dalam situasi ini sang raja tidak mencoba untuk mendekati Syahrazad, sehingga ia tidak terkejut ketika Syahrazad telah dikaruniai 3 anak laki-kali. Ia hanya memiliki sangkaan bahwa anak-anak itu adalah temuan Syahrazad sementara dirinya hanyalah seorang lagenda dan begitu juga anak-anaknya itu.

Kisah Seribu Satu Malam adalah produk kesenian yang memikat. Ia seperti teater yang “sia-sia”—teater yang irasional dan tak bermakna. Namun ia jauh lebih indah dan memukau.

Para pengarang yang menulis tentang kisah para penduduk dari berbagai planet yang mendarat di muka bumi ini mendapatkan inspirasi dari kisah Seribu Satu Malam. Di Eropa ada Iliad dan Odyssey[1], di India terkenal Satyagraha dan di Amerika ada banyak lagenda-lagenda. Semua itu adalah kumpulan makhluk yang sampai saat ini kita tidak pernah mengetahuinya. Dalam kisah-kisah makhluk tersebut ada batu yang berubah menjadi pohon, pohon berubah menjadi burung, burung menjadi pedagang, menteri dan raja.

Jika Anda belum membaca kisah Seribu Satu Malam, maka kinilah waktu yang tepat. Sebab kita hidup di mana kenyataan menjadi mitos dan mitos menjadi kenyataan. Dan satu perbedaan: tidak ada anak-anak suci dan sederhana yang akan merasa puas dengan kisah-kisah, menikmati ayunan perjalanan dan lupa bahwa mereka adala raja seperti Syahrayar. Makanan dan minuman tidak lagi penting. Atau mereka akan mencari dari mana dan bagaimana anak-anak mereka akan datang?


[1] Iliad dan Odyssey adalah dua epos penting Yunani karya Homeros, seorang pengarang buta dalam tradisi Yunani yang keberadaannya diperdebatkan (Penj.).

*Diterjemahkan dari salah satu esai Anis Mansour yang terkumpul dalam Lahdhat Masruqah, (Kairo: Dar El-Shorouk, 2005).

Anis Mansour lahir di kota Mansoura, Mesir pada 18 Agustus 1924, seorang sastrawan, jurnalis dan filsuf. Ia banyak dikenal melalui tulisan-tulisan filsafatnya yang banyak diterbitkan, baik dalam bentuk buku atau dalam surat kabar. Awal mula bersinggungan dengan sastra terjadi saat belajar di Kuttab ketika mempelajari Al-Qur-an dan mampu menghafalkannya dalam usia sangat muda. Ia tergolong sastrawan modern yang sangat produktif menghasilkan karya. Lebih 50 buku telah diterbitkan, baik berupa karya sastra dan terjemahan. Selain itu, ia menulis banyak kolom di surat beberapa surat kabar ternama di Mesir, seperti Al-Ahram. Mansour wafat pada 21 Oktober 2011 di usianya yang 87.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.