Puisi Ali Ahmad Bakatsir: Cinta dan Kemerdekaan

0
430

الحُبُّ وَالْحُرِّيَّةُ

مَتَى يَؤُوبُ الطَّيرْ        * يَوْمًا إلى وَكْرِهْ

Kala suatu hari burung itu kembali
Pada sarangnya sendiri

فلا يَجُور الغَيْرْ * فِيهِ عَلَى أمرِهْ؟

Maka tak seorangpun dapat berkuasa
Menentang segala perintahnya

**

بَعْدَ السُّرَى والأينْ * هلْ يَصِلُ الرّكْبُ؟

Setelah perjalanan malam pada suatu masa
Apakah kabilah itu akan sampai?

وهَلْ تَقَرُّ العَينْ * ويَفْرَحُ القَلْبُ؟

Dapatkah mata berbinar bahagia
Dan hati riang sentosa?

**

الحبُّ في الأكْبَادْ * لكن تَرَكْنَاهُ

Cinta bersemayam dalam hati
Namun kita tinggalkan ia sendiri

فَلْيَحْطِمِ الأصْفَادْ * مَنْ يَتَمَنَّاهُ

Maka hancurkan saja belenggu itu
Bagi siapa saja yang mendambakannya

**

يا لَذَّةُ الحُبِّ * إن شيبَ بالذُّلِ؟

Apa nikmatnya cinta
jika masa tua berakhir hina?

الحُبُّ في قَلْبِي *   والقيدُ في رِجْلِي؟

Cinta di hati
sedangkan belenggu di kaki?

**

زَيْنُ اذْكُرِي يا زَيْنْ * هَيمانُ يَهْوَاكِ

Zainah, ingatlah wahai Zainah
cinta buta menginginkanmu

ضَرَّسهُ بالبَيْنْ * تحريرُ مَثْوَاكِ

menggertaknya dengan perpecahan
pembebasan tanah air kediaman


*Syair ini diucapkan oleh tokoh Sulaiman dalam drama Audatul Firdaus karya penyair Ali Ahmad Bakatsir, yang mengisahkan perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ali Ahmad Bakatsir, seorang penyair dan sastrawan Arab prolifik berketurunan Hadrami yang lahir di Surabaya, Indonesia (1910-1969). Sejak lahir ia tinggal di kawasan Ampel Surabaya hingga pada usia sepuluh tahun ia kembali ke tanah moyangnya, Hadramaut, Yaman. Dalam hidupnya, iajuga pernah tinggal di Hijaz selama beberapa bulan dan kemudian pindah ke Mesir dan menetap di sana sebagai perlabuhan hidupnya yang terakhir. Dalam sejarah sastra Arab, ia termasuk sastrawan modern, seangkatan dengan sastrawan Mesir ternama, Naguib Mahfouz, Aziz Abaza, Yahya Haqqi, Dr. Abduh Badawi dan sejumlah sastrawan lainnya. Ia dikenal sebagai sastrawan pertama yang menulis drama dengan bahasa Arab fasih serta pelopor drama bertema Palestina.

Selama di Mesir, ia turut aktif menyuarakan perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan melalui karya-karyanya. Ia kerap berkomunikasi dengan mahasiswadan pelajar asal Indonesia, bahkan ia akrab dengan tokoh-tokoh kemerdekaansaat itu, seperti Ir. Soekarno, Muhammad Hatta dan Dr. Soetomo.

Pada 1969, saat upacara kewafatan Ali Ahmad Bakatsir, Letjen Ahmad Yunus Makoginta, Dubes Indonesia untuk Mesir saat itu, turut hadir memberi penghormatan terakhirnya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan, “Jika suatu saat Indonesia memperingati para tokoh sastrawan yang turut menyuarakan upaya kemerdekaan Indonesia melalui karya-karyanya, maka sungguh Ali Ahmad Bakatsir termasuk pemukanya, sekalipun ia bukan yang pertama.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.