Adakah Hubungan PKS dengan Ikhwanul Muslimin?

0
594

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memperingati miladnya ke-19 pada Minggu (30/4). Acara yang dibalut nuansa budaya dan seni itu bertema ’’berkhidmat untuk Indonesia’’. Mengapa mesti berkhidmat untuk Indonesia, padahal PKS memang partai yang lahir dan besar di Indonesia?

Tema ini mengingatkan penulis tentang buku berjudul Al-Dawlataan (dua negara) yang membahas loyalitas ganda Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Tidak tahu apakah judul itu berkaitan dengan anggapan bahwa PKS memiliki hubungan khusus dengan IM.

Ada tidaknya hubungan antara keduanya selama ini menyisakan tekateki, bahkan bagi kader PKS sendiri. Apakah PKS merupakan cabang IM? Apakah partai itu memiliki hierarki di atas mereka yang berada di Timur Tengah? Hingga ketika PKS mendekati usia 20 tahun, pertanyaan tersebut tidak memperoleh jawaban yang lugas.

Belum jelasnya persoalan itu bisa dimengerti karena beberapa hal. Pertama, elite PKS tidak pernah mengonfirmasi adanya kedekatan PKS dengan IM. Setidaknya berdasar sepengetahuan penulis. Hanya satu dua petinggi yang mengonfirmasi. Salah satunya Yusuf Supendi. Dia adalah salah seorang pendiri Partai Keadilan/ PK (nama awal PKS) dan cukup lama menjadi pengurus. Namun, per- nyataan itu disampaikannya setelah tersingkir dari partai tersebut.

Kedua, tidak ada pimpinan teras IM di Timur Tengah yang menyatakan secara tegas bahwa PKS terkait dengan mereka secara formal-struktural. Baik itu petinggi IM yang statusnya saat ini telah dibubarkan dan menjadi jamaah terlarang di negeri itu, petinggi Partai AKP di Turki, petinggi Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, an-Nahdhoh Tunisia, dan Front Aksi Islami di Jordania maupun Hammas di Palestina.

Hanya, Syekh Yusuf al Qardhawi, ulama besar Mesir yang kini menetap di Qatar dan merupakan ulama rujukan Ikhwan, dikabarkan mengonfirmasi hal itu. Namun, penulis belum tahu konfirmasi tersebut dalam konteks apa.

Tokoh Ikhwani di Timur Tengah maupun Islamis di Indonesia tentu menyadari realitas politik saat ini. Mereka harus menerima kenyataan negara bangsa. Itu dipahami dengan baik oleh Ikhwani di Timur Tengah maupun PKS di Indonesia. Mereka menegaskan dalam visi-misi bahwa mereka menerima negara bangsa. Itu juga ditegaskan dalam tema ’’berkhidmat untuk Indonesia’’.

Bahkan, ada kecenderungan kuat di kalangan Islamis untuk menegaskan dan mengadopsi kultur-kultur lokal. Penampilan tokoh-tokoh PKS dengan blangkon di Jawa, misalnya, bu- kan barang asing, setidaknya dalam alat peraga kampanye, aksi masal dolanan tradisional, dan seterusnya.

Yang pasti, tak ada hubungan struktural yang dideklarasikan antara PKS dan IM di Mesir maupun para Ikhwani lain di Timur Tengah.

Jika mereka mengembangkan komitmen kuat kepada kelompok di luar negaranya, tentu itu akan menjadi masalah serius. Itulah yang terjadi ketika Mohammad Mursi berkuasa di Mesir. Dia dikesankan banyak kalangan terlalu kuat komitmen transnasionalnya hingga mengalahkan komitmennya terhadap bangsa Mesir. Perhatian Mursi kepada Hammas, misalnya, dianggap memanjakan Hamas dan warga Gaza yang membuat banyak warga Mesir terabaikan.

Namun, hubungan antara Ikhwan Mesir dengan Partai Keadilan dan Pembangunan Maroko, Partai AKP Turki, serta Hamas begitu mudah di- telusuri. Hampir seluruh peristiwa penting terkait dengan IM seperti naiknya Mursi jadi presiden, penjatuhannya oleh militer dan demonstrasi terorganisasi, pengadilan sang Mursyid ’Amm, dan seterusnya hampir selalu memperoleh respons dari Ikhwani Timur Tengah itu. Bahkan kadang ditanggapi dengan aksi massa. Nah, respons PKS tidak terlihat seperti itu terhadap peristiwa penting terkait IM di Mesir.

Namun, dari sisi proses kelahiran, terminologi yang digunakan, serta gerakannya, PKS diakui atau tidak memiliki banyak kemiripan dengan IM. Pola pembangunan basis sosial partai, misalnya, dimulai dari gerakan Tarbiyyah dengan membangun sel-sel usrah yang dibina sehingga menjadi basis kader solid.

Itulah yang dilakukan tokoh Ikhwan awal, yaitu menghidupkan kembali Islam. Dan basis awal gerakan tersebut adalah masyarakat terpelajar perkotaan, termasuk kampus. ’’Komunitas awal PKS’’ juga dimulai dari masyarakat terpelajar, yaitu kampus. Gerakan Tarbiyyah di Indonesia sejak 1980-an sangat aktif mengimbangi dominasi HMI, PMII, dan GMNI.

Demikian pula dalam masalah citacita politik, masyarakat yang madani, dan semacamnya. Rumusan Partai Hizbul Hurriyah wal Adalah, yaitu partai bentukan IM, hampir sama dengan rumusan PKS. Bedanya ha- nya pada tataran keterpengaruhan di dalam praktik. PKS memiliki celupan ’’Salafisme-Wahabisme’’ yang lumayan, sedangkan sebagian kelompok Ikhwani di Mesir atau Timur Tengah cenderung anti-Wahabi dan anti-Saudi kendati tak seluruhnya. Selain itu, IM mendirikan partai di Mesir, yaitu Partai Kebebasan dan Keadilan (Hizbul Hurriyah wal Adalah), sedangkan PKS adalah partai sekaligus jamaah. Pembicaraan tentang perbandingan itu sangat populer di kalangan aktivis PKS atau KAMMI: al-hizbu huwa al-Jama’ah, wal jamaah hiyal hizb (partai adalah jamaah dan jamaah adalah partai).

Banyak kemiripan antara PKS dan IM, baik dalam penggunaan istilah seperti kalimat tarbiyyah, liqo’, usrah, harakah, dan siyasah. Kemiripan juga pada ideologi serta perkembangannya, terutama terkait dengan pandangan moderat terhadap demokrasi dan masyarakat sipil, pembangunan organ partai, strategi perjuangan, strategi rekrutmen massa, basis massa, sentimen anggota, rujukan tokoh, serta pola-pola pembagian kader yang mengarah kepada tarbiyyah, siyasah, dan ’’fisik’’.

Wallahu a’lam.

*Tulisan ini pernah dimuat di Opini JawaPos pada 1 Mei 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.