Belajar Menulis Puisi kepada Zuhair bin Abu Sulma

0
381

Zuhair bin Abu Sulma (520-607 M.) merupakan penyair papan atas pada masaJahiliyah. Mengenai latar belakang kabilahnya, seringkali para sejarawan menganggap Zuhair sebagai keturunan Ghathafan, salah satu suku kuno terbesar Arab yang terletakdi sebelah utaraMadinah.Asumsi ini mendasarkanpada masa kecil Zuhairyang dibesarkan dalam lingkungan kabilah Ghathafan.Padahal menurut Syauqi Dhaif, Zuhair merupakan keturunan kabilah Muzainah sebagaimana ditegaskan oleh anaknya, Ka’ab saat ia membantah pernyataan Muzarrad bin Dhirar dengan puisinya:

هم الأصل مني حيث كنت وإنني

من المزنيين المصفين بالكرم

Mereka adalah muasal nasabku sebagaimana diriku

Juga merupakan keturunan Muzainahyang penuh dengan kemuliaan

Sementara perihal Sulma (سلمى) pada namanya seringkali orang membaca Salma, mengingat kata Sulma tidak populer, bahkan terbilang asing ditelinga non-Arab.Dan memang dalam bahasa Arab sendiri, tidak ada kata Sulma selain dalam nama Zuhair bin Abu Sulma, sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Al-Amin Al-Syanqithi dalam Al-Mu’allaqat Al-‘Asyr wa Akhbar Syu’araiha.

Abdul Qadir Al-Baghdadi menyatakan bahwa Zuhair adalah penyair terbaik setelah Imrul Qais dan sebelum Al-Nabighah. Sehingga menurut urutan klasifikasi, kepenyairan Zuhair masih di bawah Imrul Qais tapi di atas Al-Nabighah. Memang dalam banyak literatur klasik, ketiga nama ini selalu muncul bergandengan dalam kodifikasi klasifikal dan hampir tidak ada perbedaan pendapat di antara para sejarawan dan kritikus sastra Arab. Berbeda dengan sosok Al-A’sya yang selalu berada dalam perdebatan sengit antara para kritikus perihal nilai kepenyairannya. Ada yang mensejajarkannya dengan ketiga penyair di atas sebagaimana pendapat aliran Kufah dan ada pula yang menolaknya.

Menurut Ibnu Al-A’rabi, Zuhair memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan para penyair Arab pada umumnya. Bisa dibayangkan, ayahnya, Rabi’ah bin Rabah adalah penyair, pamannya, Basyamah, seorang penyair, saudarinya, Sulma juga penyair, bahkan kedua anaknya, Ka’ab dan Bujair adalah penyair. Bisa dibilang bahwa Zuhair sudah memiliki keunggulan dari kelahiran. Faktor genetik dianggap memiliki peran yang tidak sedikit dalam membentuk kepenyairan seseorang.

Penyair Hauliyât

Zuhair dikenal sebagai pelopor penyair Hauliyât, karena dalam hidupnya ia pernah menggubah beberapa bait puisi hingga masa rampungnya menghabiskan satu tahun penuh. Dalam masa satu tahun itu ia berkali-kali melakukan penyuntingan dan perbaikan setiap bait puisi yang dihasilkan agar keseimbangan estetika puisi yang dihasilkan bisa terjaga dengan baik.Bahkan Al-Ashma’i pernah menyatakan bahwa “Zuhair bin Abu Sulma adalah budak puisi”, atau lebih gamblangnya, puisi telah memperbudak Zuhair. Tentu saja yang seperti ini tidak begitu disukai oleh Al-Ashma’I, mengingat tingkat kematanganseorang penyairsejatinya tidak perlu diasah. Karena kepenyairan itu merupakan anugrah yang diberikan Tuhan kepada orang-orang Arab pilihan. Maka tak salah jika kepenyairan dianggap sebagai mukjizat bangsa Arab.

Sedangkan menurut Ibnu Qutaibah dalam Al-Syi’r wa Al-Syu’ara’-nyadikatakan bahwa Zuhair menulis puisi selama 4 bulan, menyuntingnya selama 4 bulan dan menyerahkan kepada para pemuka penyair lainnya untuk dikoreksi, baru setelah itu dia menyenandungkannya secara terbuka di hadapan orang-orang. Sementara bagi Ibnu Rasyiq, satu tahun masa pembuatan puisi tidak berarti Zuhair menghabiskan satu tahun itu hanya untuk menulis puisi, tetapi dia menulis barang satu jam atau sehari lalu didiamkan beberapa waktu lamanya untuk dibaca kembali dan dikoreksi.

Proses kreatif seperti Zuhair bin Abu Sulma menarik untuk dicoba oleh para penyair Indonesia dalam menggubah puisi. Bagaimanapun, proses pendiaman dan pengendapan puisi adalah bagian paling penting dari proses kreatif itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.