Padang Pasir dan Sastra Arab Jahili

0
455

Sastra Arab adalah kesusastraan yang cukup tua. Ia memang memiliki sejarah yang panjang dan lebih lama dibanding sejarah agama Islam di dunia Arab. Hal ini telah diakui oleh Islamic Research Foundation International (IRFI) bahwa sastra Arab mulai menanam benihnya di tanah Arab pada akhir abad ke-5, sekitar dua ratus tahun sebelum kedatangan Islam, periode ini dikenal sebagai periode Pra-Islam. M.H. Bakalla menyebut periode ini sebagai the Age of Darkness atau Ignorance, karena pada waktu itu Islam belum ada (Bakalla, 1984, hal. 113). Namun, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan the Age of Darkness/Ignorance/jahiliyah bukanlah kebodohan. Menurut Syauqi Dhaif, yang dimaksud dengan jahil bukanlah bodoh tetapi ia adalah sifat yang mudah untuk menumpahkan darah, marah, dan tidak berpikir panjang (Dhaif, 2003, hal. 39).

Asal usul sastra Arab murni berasal dari dunia Arab karena ia dimulai tanpa pengaruh eksternal sama sekali. Kondisi di Dunia Arab Saudi saat itu membantu penciptaan sastra Arab. Sebagian besar orang Arab asli hidup dan mencari nafkah di padang pasir. Sebagai lingkungan terdekat mereka, gurun menjadi tema pertama dalam sastra Arab atau lebih spesifik, dalam puisi Arab, yang merupakan satu-satunya genre sastra yang hadir pada waktu itu.

Andras Hamori menggambarkan padang pasir sebagai “panggung sejati puisi di masa Jahiliyah” (Hamori, 1974 , hal. 4). Orang-orang Arab, selama perjalanan panjang mereka bolak-balik melintasi padang pasir, mulai menyanyikan sendiri lagu-lagu tentang gurun, lagu-lagu yang kemudian berkembang menjadi puisi yang menemani mereka (Huart, 1976, hal. 4-5). Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa sastra Arab lahir dari inspirasi yang disajikan oleh gurun Arab.

Gurun atau padang pasir berkaitan erat dengan pandangan dunia penyair Arab Jahiliyahtentang kehidupan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang rapuh. Penyair Jahiliyah memandang kehidupan sebagai sesuatu yang setiap saat dapat direnggut oleh kematian. Adonis berkata:

“Seandainya seorang pemuda adalah sebuah batu” – harapan yang hadir melalui lisan Tamim ibn Muqbil adalah kunci untuk memahami manusia Arab di masa Jahiliyah.  Harapan tersebut adalah tempat dimana kita hendak menyusuri wilayah dan ruang jiwa. Secara negatif, harapan tersebut menguak perasaan orang Arab bahwa kehidupan adalah sesuatu yang rapuh dan mudah hancur. Kehidupan adalah baju pinjaman seperti yang disampaikan Al-Afwah Al-Audi, kehidupan adalah suatu hal yang dibinasakan kematian seperti yang disampaikan Ka’ab bin Sa’id al Ghanawi- sebuah kematian yang mengalir di dalam jiwa adalah matahari yang mengalir di langit. Manusia adalah barang gadaian yang usang dan kuburan adalah rumah manusia dan kebenaran. Jika demikian, tak ada kebahagiaan hakiki dan masing-masing kita mesti bertanya pada Adi bin Zaidul Abadi “apa bahagianya kehidupan yang kemudian menjadi  kematian?”(Said, 1979, hal. 13-14).

Karena di dalam kedalam jiwa penyair Jahili terdapat kesadaran bahwa kehidupan adalah sesuatu yang rapuh dan tentu tidak pernah bisa mereka taklukkan, mereka menjadi sadar dan moncoba untuk menemukan dunia terakhir mereka. Kesadaran ini memiliki kesan yang menyakitkan bagi penyair Jahiliyah karena di dalam pencarian mereka tentang bagian luar, tidak digerakkan oleh aktivitas keagamaan ke arah seruan ilahi yang murni. Mereka terperangkap di bumi mencari, melalui paganisme, seruan lain yang Adonis sebut “seruan bumi”. Mereka hanya memiliki bumi, setia pada bumi dan tunduk pada penyelarasannya. Kesetiannyanya kepada bumi masuk ke dalam tindakan dan gerakan seperti berkuda (furusyah) dan keberanian (albuthulah). Pencarian tempat luar bertujuan untuk memahami dan menguasai bagian luar tersebut. Yang dimaksud dengan bagian luar di sini adalah padang pasir yang dipandang sebagai musuh yang mesti ditaklukkan. Padang pasir atau gurun adalah tempat perubahan dan ketidakhadiran. Padang pasir memiliki posisi terpenting di dalam memahami puisi Jahili. Oleh karena itu, ketika kita memahami padang pasar dalam kaitannya dengan puisi Jahili harus memandangnya sebagai bahasa rahasia kedua di dalam lipatan-lipatan puisi Arab Jahiliyah (Said, 1979, hal. 15). Atau sebaliknya, kita harus memahami puisi Jahili dalam kaitannya dengan padang pasir yang membentuk karakter mereka.

Dalam penelitiannya yang berjudul Syakhra Fi Al-Syi’r Al-Jahili, Muhammad Shiddiq jatuh pada kesimpulan bahwa kondisi padang pasir yang panas dan keras membentuk karakter penyair Jahili sehingga mereka memiliki karakter yang kuat bahkan dalam menyampaikan puisi ghazl (cinta) sehingga nuansa cinta telah dikuasai oleh nuansa kekuatan dan keteguhan (Wahab, 2008, hal. 218).

وبَيْضَـةِ خِدْرٍ لاَ يُرَامُ خِبَاؤُهَـا *** تَمَتَّعْتُ مِنْ لَهْوٍ بِهَا غَيْرَ مُعْجَـلِ

تَجَاوَزْتُ أحْرَاساً إِلَيْهَا وَمَعْشَـراً *** عَلَّي حِرَاصاً لَوْيُشرّونَ مَقْتَلِـي

Gadis putih nan halus di sarang singa itu mustahil bisa didekati Namun, begitu kunikmati ia tanpa perlu tegesa-gesa.

Meski mereka halangi aku berjumpa dengannya dan mengancam akan membunuhku, maka akan terus kuterjang seluruh penjaganya demi menuju gadis itu

Oleh karena itu, ketika kita hendak memahami puisi Arab khususnya puisi Jahili, kita tidak boleh melewatkan kebermaknaan padang pasir bagi puisi Jahili. Hal ini disebabkan karena padangan mereka tentang padang pasir sebagai tempat probabilitas perubahan sebagai hasil dari konflik di dalam diri mereka yang jatuh pada kesimpulan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang rapuh, mereka tidak mampu menaklukkan kematian, sehingga mereka mencoba untuk menaklukkan hal di luar mereka yaitu padang pasir.


Rujukan
Bakalla, M. (1984). Arabic Culture through its Language and Literature. Great Britain: Kegan Paul Int’l Ltd.
Dhaif, S. (2003). Tarikh al Adab al Jahili. Kairo: Dar al Ma’arif.
Hamori, A. (1974 ). On the Art of Medieval Arabic Literature. New Jersey: Princeton UP.
Huart, C. (1976). A History of Arabic Literature. Lebanon: Khayat Book and Publishing Co.
Said, A. A. (1979). Muqaddimah Li as Syi’ri al Arabi. Beirut: Darul Audah.
Wahab, M. S. (2008). Syakhra Fi As Syi’ri Al Jahili. Omdur: Jamiah Omdurman Kullyah ad Dirast al Arabiyyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.