ALLAH

0
527

Kesufianku tidak terikat dengan dogma-dogma agama pada umumnya. Karena dalam tafsir agama, Allah tidak lagi berfirman, atau dengan ungkapan lain; al-Lā Mar’ī (Zat Yang Tersembunyi) dinyatakan berfirman hanya sekali pada satu masa (kenabian) untuk selamanya. Sementara dalam kesufianku, al-Lā Mar’ī senantiasa berfirman tanpa henti. Oleh karena itu, setiap seniman (mubdi’) sebenarnya merupakan insan profetik yang senantiasa menyampaikan kabar ketuhanan (mutanabbi’).

Dalam kesufianku, tidak ada pemisahan antara manusia dan Allah. Pada titik itu kita sampai pada kondisi wajd yang menyatukan kita dengan Inti Semesta; melampaui segala tirai-penghalang yang bersifat materi. Dalam kondisi itu, secara eksistensial seseorang menyatu dengan Allah. Mungkin itulah yang disebut ittihād atau wahdah al-Wujūd.

Anda tahu, apa yang nanti akan memenuhi kebutuhan spiritual milenium ketiga? Boleh jadi jawabannya adalah sastra, lebih tepatnya puisi. Puisi merupakan gelanggang batiniah yang kita butuhkan untuk mengeksplorasi dan menemukan spiritualitas baru; sebuah kebangkitan spiritual yang bisa menormalisasi peredaran darah bumi kita yang sekarat ini.

Sufisme Arab mengatakan, “Kita tidak mungkin mengenali Allah dengan akal. Allah hanya bisa dikenali dengan hati. Hal ini lantaran akal adalah batasan, oleh karena itu ia terbatas. Dan segala sesuatu yang terbatas tidak mampu memahami dan mengetahui yang tak terbatas. Mengetahui yang tak terbatas mesti dengan pikiran yang tak terbatas.”

Sayangnya, pembacaan atas wahyu pada umumnya justru mendefinisikan sumber wahyu, yaitu Allah, dengan ilustrasi yang membuat manusia semakin tidak menyadari bahwa Zat Yang Tak Terhingga sebenarnya tersembunyi di dalam dirinya dan di dalam semesta. Jika Anda membaca semua kitab suci, Anda tidak akan menemukan penampakan diri Allah. Kitab suci bukan Allah, bukan Tuhan yang sesungguhnya. Tuhan yang sesungguhnya melampaui—bahkan lebih agung dari—semua kitab suci yang mengabarkan tentang diri-Nya.

Selama ini, agama sering ditampilkan seperti mata uang spiritual yang bersifat ekonomis, sehingga fungsinya mirip dengan mata uang dalam transaksi jual-beli. Bahkan, agama yang ditampilkan seperti mata uang itu mengontrol akal bukan untuk meneranginya, melainkan untuk memadamkannya.

Selain itu, terdapat tafsir-tafsir agama yang justru menciptakan batasan bagi Allah; memenjarakan-Nya di dalam doktrin-doktrin yang melemahkan kekuasaan-Nya dan menjadikan-Nya sebatas perangkat fungsional (alat). Padahal Allah, sebagaimana dalam terang ma’rifah, melampaui segala macam doktrin dan konsep ketuhanan, bahkan melampaui wahyu itu sendiri. Karena Dia adalah Zat Yang Tak Terbatas dan Maha Luas. Dia senantiasa merupakan ketakterhinggaan yang sempurna. Demikianlah tanggapan para sufi terhadap doktrin ketuhanan pada umumnya.

Ada sebuah cerita anekdotal tentang Nabi Sulaiman. Suatu ketika Ratu Bilqis, penguasa negeri Saba’ (saat ini Yaman), bertemu dengan seorang raja yaitu Nabi Sulaiman. Pertemuan ini merupakan rangkaian agenda besar di mana Nabi Sulaiman melamar Ratu Bilqis. Keduanya larut dalam percakapan tanya-jawab. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh Ratu Bilqis kepada Nabi Sulaiman adalah “Tuhan itu warna-Nya apa?” Nabi Sulaiman tidak menjawab, karena memang tidak tahu jawabannya. Sikap inilah yang justru membuat Ratu Bilqis luluh (menerima lamaran).

Kesufianku memiliki perhatian besar terhadap dimensi jasad (basis materi) sebagai dimensi yang bersentuhan langsung dengan segala sesuatu, alam semesta dan cahaya Ilahi. Salah seorang sufi mengatakan, “Untuk sampai pada al-Lā Mar’ī (Allah), mesti terlebih dahulu menapaki dimensi jasad (materi).” Apa yang dimaksud dengan jasad adalah dunia materi yang feminim; yang memiliki kelembutan. Dan dunia yang tidak memiliki kelembutan adalah dunia yang tidak bisa diharapkan.

Ketika Allah dalam konsepsi manusia menjelma suatu definisi yang tetap (pasti), maka bisa jadi dunia ini—dalam konsepsi manusia yang beriman secara eksklusif—akan dipahami dengan model konseptualisasi yang serupa. Barangkali cara pandang tentang Tuhan semacam itulah yang memantik peperangan suci atas nama agama di masa lalu. Dan api peperangan itu hingga kini tidak kunjung padam. Sampai hari ini percikan apinya justru muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda.

Memang, persoalan ketuhanan dalam pandangan semua agama merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Namun setiap agama terlalu sibuk menganggap Tuhannya lebih baik dari Tuhan yang diyakini oleh agama lain, sehingga masing-masing ikut menyulut perang suci demi membela Tuhan. Padahal Allah, sebagaimana dalam keyakinanku, mampu membela diri-Nya sendiri. Dia tidak butuh pasukan dan kendaraan perang. Dia tidak butuh pengorbanan dan pembelaan dari manusia, apalagi pengorbanan dan pembelaan dari para pelaku (bom) bunuh diri.

Seiring dengan itu, tampak sekali bahwa kekerasan atas nama agama ternyata berkaitan erat dengan pandangan umum kaum beragama tentang Tuhan. Sehingga kekerasan atas nama agama dianggap sebagai sesuatu yang kudus, bahkan oleh pemeluk agama-agama monoteis. Kondisi ini mengakibatkan tumbuhnya mentalitas keras dalam diri mereka. Mereka memaksakan segala sesuatu dengan mengatasnamakan Tuhan. Pemaksaan ini pada dasarnya merupakan buah kekerasan.

Sikap keras seringkali ditampilkan dalam laku beragama hingga melekat dalam realitas keseharian, dan tidak jarang ditujukan untuk mendiskreditkan sesama manusia khususnya kaum perempuan. Ketika seseorang—atas nama Tuhan—dilarang melakukan ‘ini’, dilarang berkata seperti ‘ini’ dan dilarang berpikir tentang ‘ini’, maka pada saat itu dia telah menjadi korban kekerasan. Karena pelarangan yang mengatasnamakan Tuhan termasuk akar dan permulaan kekerasan, sebelum menjelma kekerasan sosial dan  politik.

Jika kita tidak merenungi kembali apa saja yang menjadi pangkal dari tindak kekerasan, atau tidak menegaskan bahwa kekerasan sebenarnya cukup mengakar dalam tradisi beragama, maka kita tidak akan terbebas dari problem kekerasan dan peperangan.

Sesungguhnya konsep pelarangan (pengekangan) mengandung makna kekerasan. Meskipun kekerasan terjadi di berbagai komunitas masyarakat, namun terdapat perbedaan antara kekerasan yang terjadi di satu kelompok masyarakat dengan kekerasan yang terjadi di kelompok masyarakat yang lain. Hanya saja perbedaan itu bukan lagi pada level bentuk, tetapi lebih pada intensitas terjadinya kekerasan.

Meskipun pelarangan memiliki dampak negatif, namun ada satu pelarangan yang tidak boleh diabaikan dan harus dipatuhi oleh setiap orang untuk melawan kekerasan itu sendiri. Pelarangan itu berbunyi, “Jangan membunuh!”


Diterjemahkan dari artikel berbahasa Arab karya Adonis yang berjudul “Allâh” dalam buku al-Huwiyyah Ghairu al-Muktamilah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.