Abu Nuwas

0
476
Abu Nuwas, sketsa oleh Khalil Gibran

“Andai saja Abu Nuwas tidak menyamar, niscaya saya akan mengutipnya” ~ Imam Syafii

Abu Nuwas: dialah satu di antara para raksasa pemberontak, seorang pahlawan pemikiran di antara perwira kebebasan yang lahir terlalu cepat. Ia melampaui masanya, di tengah pusat tanpa imbangan. Para raksasa ini membawa tugas berat, senantiasa berupaya mengupak api pemikiran dari belenggu kelaliman dan kegelapan. Dan, sialnya, mereka celaka. Namun, buah bakat mereka yang murni tidak pernah turut binasa.

Di masa sekarang, orang awam menyebut Abu Nuwas, sambil menduga, sebagai seorang pelipur lara, seperti layaknya pelawak, Dituturkan silih-berganti, kisah-kisahnya selalu konyol dan dikaitkan dengan lelakon murahan. Hatta, tidak jarang orang yang membiarkannya disebut sebagai “badut khalifah”.

Nyatanya, Abu Nuwas bukanlah pelawak sebagaimana diketahui oleh banyak orang. Seluruh hidupnya tidak pula diabdikan untuk menjadi pelayan kerajaan. Tidak, dia adalah penyair besar dan pemikir kebebasan. Dia tak gentar melepas tali kekang kata-kata yang murni dan keyakinan yang mantap, ke dalam puisi-puisinya. Dan ini adalah suatu cara yang tidak pernah berhasil ditempuh oleh penyair generasi sebelumnya. Abu Nuwas benar-benar penyair sejati yang diabadikan Tuhan dan manusia.

Abu Nuwas merupakan orang pertama dalam Islam yang menempatkan diri sebagai raksasa di hadapan pasukan khurafat dan adat-tradisi yang lemah, juga di hadapan akidah dan undang-undang yang remeh. Dan pencemaran nama baiknya dirancukan oleh dendam para pemeluk agama dan penganut fantisme serta kaum militan. Karena itu, mereka membiarkan penyair ini mendapat julukan “pencabul”, “si kufur”, bahkan “yang terlaknat”, dan lain sebagainya.

Abu Nuwas adalah pemimpin gerakan pemikiran literer. Dan setelah itu, datang kekeruhan yang mengakibatkan okupasi Islam akan masalah penaklukan dan perpecahan yang muncul di dalam. Dampak dari itu adalah melemahnya spirit penyair-penyair mukhadrami dan para penyair Islam generasi awal. Abu Nuwas membawa peran pencerahan bagi puisi Arab yang sementara hanya beranjak sedikit dari keterbelengguannya. Ia membawa kebebasan berpikir yang telah dikungkungkan oleh akidah-akidah legislatif yang sangat kaku.

Abu Nuwas dikelilingi sekelompok penyair yang belajar menenun dengan menggunakan alat pemintal milik Abu Nuwas. Mereka mengikuti jejaknya, lalu menyebut diri sebagai “Para Penyair Muwalladin”. Mereka melakukan pembaruan dalam sastra Arab, yaitu situasi baru untuk melampaui kaidah-kaidah rumit yang tertata dan kanun bahasa yang mengekang. Mereka adalah yang pertama kali berhasil melepaskan diri dari cekikan kosa-kata arkhais dan belenggu gramatika yang absurd dalam laras bahasa, serta metrum yang terbilang dan terbatas dalam syair.

Keunggulan Abu Nuwas dalam sajaknya terletak pada gairah akan hidup dan elan ke arah setiap keindahan dan suka cita. Umar Khayyam, beberapa ratus tahun setelah itu, mencoba mengikutinya. Namun, betapa sesungguhnya Umar al-Khayyam ini tak lain daripada pengekor Abu Nuwas. Hanya saja, fenomena puisi mutakhir cenderung berkutat pada satu bentuk saja.

Puisi Abu Nuwas tidaklah mengetuk satu pintu pun, melainkan kondisi penyair-penyair besarlah yang mengetuknya; yaitu mereka yang turun dari atas ketinggian kahyangan untuk manusia, untuk parabel-parabel yang matang, penggalian bakat nan luhur, penggambaran yang bergelora, kelakar yang riang, perasaan yang halus, juga pikiran yang tajam, yang diciptakan oleh sajak-sajak mereka.

Kalau saja semua puisi Abu Nuwas terjaga sampai sekarang, niscaya kita akan menyaksikan keindahan, dan keasingannya sekaligus, akan gejolak pemikiran yang merdeka, tumpah dan meruah. Sayangnya, fanatisme agamalah yang menyebabkan dibakarnya Perpustakaan Alexandria hingga tak ada lagi kesempatan bagi kita untuk menjadi saksi atas ucapan-ucapan penyair ini, tidak pula pada kasidah-kasidahnya yang menunjukkan cara pandangnya terhadap agama. Tak diragukan lagi, para penutur dan penyalin naskah telah menghanguskan karya-karya Abu Nuwas sebagai sebuah kerja atas perintah penguasa, seperti yang juga mereka lakukan pada karya-karya pemikir raksasa yang lain, seperti Al-Hallaj, Al-Ma’ari, dan Ibnu Rusyd, tidak lama setelah itu.

Kini, jejak Abu Nuwas tak bersisa lagi, selain sebuah diwan (buku kumpulan puisi) yang menampung tidak sampai separuh dari gejolak bakatnya yang menyala-nyala. Itu sebabnya, kritikus dengan mudah berpikir bahwa kasidah-kasidah dari genre lelucon secara mudah akan dinisbatkan kepada Abu Nuwas. Memang, kita tidak dapat memungkiri bahwa cakupan Abu Nuwas dalam menuangkan gagasan kebebasan serta hubungannya dengan kelakar-kelakar merupakan buktinya. Namun, para penulis sesudahnya selalu mengaitkan anekdot dan cerita lucu kepada Abu Nuwas, bahkan hingga pada taraf cerita murahan sekali pun.

Menurut beberapa sejarawan, Abu Nuwas diduga wafat di tangan kelompok garis keras yang menganut fanatisme beragama. Dia dibunuh karena secara lantang menyuarakan gagasan-gagasan kebebasan dalam sajak-sajaknya. Dan, dia mati syahid untuk kebebasan itu.

Abu Nuwas merupakan pelopor dan perintis pemikiran. Dia utusan Arab yang telah gugur di medan pertempuran besar, di mana apinya menyala-nyala sejak zaman purwakala, di antara kavaleri kegelapan dan lagonder cahaya.


Keterangan:

  • Esai Khalil Gibran diterjemahkan dari “Abu Nuwas” yang dimuat di Majalah “Funun”, edisi Juni 1916; dikutip dari Nushus Kharijal Ma’muu’ah Li Jubran Khalil Jubran; editor Anton Alqawwal
  • Masa hidup Abu Nuwas adalah di antara 756 hingga 814 M; sedangkan Imam Syafi’i hidup pada tahun 767- 820 M; Umar al-Khayyam wafat pada tahun 1132 M.
  • Besar kemungkinan, sebuah diwan yang dimaksud Khalil Gibran di atas adalah “Khamriyyat”, yakni buku kumpulan puisi karya Abu Nuwas yang berisi pujian terhadap anggur.
  • Khalifah yang dimaksud adalah era Khalifah Harun Ar-Rasyid pada masa pemerintahan Abbasiyyah.
  • Mukhadrami: penyair yang hidup antara masa Jahiliyah dan Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.