Puisi Arab dan Nostalgia Kampung Halaman

0
323

Dalam sejarahnya, bangsa Arab adalah bangsa yang tak bisa dipisahkan dari kebiasaan nomaden. hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kebiasaan ini adalah warisan turun temurun yang melekat sebagai identitas dalam diri seorang Arab. Kendati jauh dari tanah kelahiran, mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme.

Secara geografis, tak bisa dimungkiri bahwa kondisi alam juga menuntut mereka untuk nomad dari satu tempat ke tempat lain dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Pada waktu yang sama, leluhur bangsa Arab juga memiliki ikatan yang erat dalam hubungan kekeluargaan dan ‘Ashabiyyah (tribalisme). Philip K. Hitti menyebutkan dalam History of The Arabs, saking kuatnya ikatan keluarga dan keakraban suku, bagi orang badui (Arab pedalaman) tidak ada musibah paling hebat dan paling menyakitkan selain putus keanggotaan dengan sukunya.

Sementara itu, orang Arab juga memiliki kebiasaan yang sangat mengesankan. Dulu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Jahiz dalam Risalah al-Hanin Ila al-Awthan, bahwa ketika hendak berperangatau bepergian, orang-orang Arab selalu membawa sejumput tanah kampung halamannya untuk dihirup dalam setiap perjalanannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang mengerti asal muasalnya, tak kan pernah meninggalkan kampung halamannya.

Dalam khazanah sastra Arab,tema-tema puisi dari masa Jahiliyah hingga masa modern sangatlah beragam. antara lain: al-hamasah (semangat/keberanian), al-fakhr (kebanggaan), al-hija’ (ejekan/satire), al-madh (pujian/ode), al-ritsa’ (ratapan/elegi), al-washf  (deskripsi), al-ghazal (cinta), al-i’tizar (permintaan maaf). ad-da’wah (dakwah), dan al-hikmah (kebijaksanaan).

Akan tetapi, di luar tema-tema di atas, tidak sedikit dari penyair-penyair Arab yang dalam karyanya menuliskan tentang tema yang dilatarbelakangi kerinduan pada kampung halamannya. Tema semacam ini kemudian dikenal dengan istilah al-Hanin Ila al-Wathan.

Tema-tema tentang al-Hanin Ila al-Wathan ini begitu mudah dijumpai dalam karya-karya para penyair, dari masa ke masa sepanjang sejarah sastra Arab.

Pada masa Jahiliyah, tema ini bisa dilacak dalam puisi Muallaqat-nya Imruul Qais alias Ibn Hujr bin al-Harits al-Kindi. Dalam Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir karangan Abd al-Rauf Ibn Taj al-Arifin al-Munawa diriwayatkan bahwa Imruul Qais adalah salah satu dari remaja Arab yang nakal dan tak kunjung bisa menciptakan puisi. Oleh karena seorang yang telah mencapai usia remaja dan tak bisa menciptakan puisi itu adalah aib, maka ayahnya memerintahkan kedua pengawalnya untuk membuang dia ke suatu tempat yang jauh dan memenggalnya. Akhirnya si Qais pun dibawa pergi, dan ketika hendak dipenggal di tempat tersebut, ia melantunkan puisi berikut:

قِفا نَبكِ مِن ذِكرى حَبيبٍ وَمَنزِلِ

بِسِقطِ اللِوى بَينَ الدَخولِ فَحَومَلِ

Berhentilah sejenak, mari menangis,
mengenang rumah dan orang-orang tercinta

di Siqtil Liwa yang membentang
antara bukit Dakhul dan Haumal

Pada masa Umawiyah, terdapat puisi yang sangat mengharukan. Dalam peristiwa Karbala yang menewaskan Sayyidina Husain. Sedangkan putranya, Imam Ali bin Husain yang dikenal dengan Zainal Abidin atau Imam Sajjad (38-94 H/658-714 M) diusir ke Kufah dan Syam. Dalam kesedihan dan kerinduan yang mendalam, ia melantunkan puisi berikut:

اِنْ نَلْتِ يَا رِيْحَ الصَّبَا يَوْمًا اِلٰي اَرْضِ الحَرم​

بَلِّغْ سَلاَمِيْ رَوْضَةً فِيْهَا النَّبِيُّ المُحْتَرَم​

مَنْ وَّجْهُهُ شَمْسُ الضُّحٰي مَنْ خّدُّهُ بّدْرُ الدُّجٰي​

مَن ذآتُهُ نُورُ الهُديٰ مَنْ كَفُّهُ بّحْرُ الْهَمَمْ​

Wahai angin pagi, bila suatu saat kau tiba ke tanah haram
Di Raudah ada Nabi agung, sampaikan dariku salam

Wajahnya mentari pagi, pipinya purnama malam hari
pribadinya cahaya petunjuk, tangannya lautan perhatian

Di masa Abbasiyah, Penyair Abu Tammam alias Habib bin Aus bin al-Harits al-Tha’i (188-231 H/803-845 M) yang menurut Al-Buhturi (penyair sezamannya) adalah penyair terbaik. Sebagaimana dikatakan,“bila kau saksikan Abu Tammam, maka sungguh kau tengah menyaksikan manusia yang sempurna dengan kecerdasan dan kesusastraanya, sebab hal paling kecil darinya adalah puisi” juga menyampaikan tentang al-Hanin Ila al-Wathan dalam salah satu puisinya:

نَقِّلْ فُؤادَكَ حَيثُ شِئتَ مِن الهَوى — مالحُبُّ إلاّ للحَبيبِ الأوَّلِ
كَمْ مَنزِلٍ في الأرضِ يألفُهُ الفَتى — وحَنينُهُ أبداً لأوَّلِ مَنزِلِ

Dalam hal cinta, bawalah hatimu ke mana kausuka
Karena tak ada cinta kecuali untuk kekasih yang pertama

Betapa banyak rumah di bumi telah dibangun oleh pemuda
Akan tetapi rindunya selalu pada rumah yang pertama

Di Masa Andalusia ada salah satu puisi yang ditulis oleh Abu Mutharraf Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hasyim bin Abdul Malik al-Umawi al-Qarsyi (113-172 H./731-788 M.), peletak batu pertama berdirinya Daulah Umawiyah di Andalusia (sekarang Spanyol). Ia lebih dikenal dengan sebutan Abdurrahman al-Dakhil si elang dari Quraish, di mana laqab ini di Indonesia sering disematkan kepada Gus Dur. Pada masanya, puisi ini dinobatkan sebagai puisi terbaik al-hanin ila al-watan (nostalgia kampung halaman).

 أيها الراكب الميمِّمُ أرضي

أقرِ مني بعضَ السلام لبعضي

إن جسمي كما علمتَ بأرض

وفؤادي ومالكيه بأرض

Wahai siapapun yang hendak ke tanah lahirku
Sampaikan salamku pada bangsaku

Tubuhku, seperti kau tahu, di tanah ini
Namun hatiku di tanah lahirku

Di masa modern, Jubran Khalil Jubran (Khalil Gibran) dan rombongan para penyair yang tergolong dalam Rabitah al-Qalamiyah atau yang lebih dikenal dengan mazhab Mahjar (diaspora), dalam tulisan-tulisannya banyak sekali mendengungkan tentang nostalgia kampung halaman.

Hampir mustahil jika penyair-penyair Arab tidak menuliskan tentang kerinduan atau nostalgia pada kampung halamannya, pada tanah kelahiran, pada masa kecil, pada unta kesayangan, pada reruntuhan, pada kekasih dan segala apa pun di tanah kelahirannya. Karena itulah watak sejati orang Arab. Sehingga tak heran bila tentang nostalgia kampung halaman ini dirangkum oleh Abu Usman bin Amr bin Bahr al-Jahiz dalam Bukunya yang berjudul al-Hanin Ila al-Awthan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.