Kontestasi Para Penyair Ukadz

0
391

Dunia ini tak bisa lepas dari segala persaingan, entah persaingan karir, politik, ataupun kekuasaan. Ukadz bagi para penyair Arab Jahiliyah adalah pusat persaingan segalanya, utamanya rebutan pamor dan ajang pamer. Para penyair ini buktinya!

Diceritakan oleh Nabighah Al-Dzubyani bahwa gong di pasar Ukadz telah dibunyikan untuk mengundang para penyair berkumpul.

Hassan bin Tsabit dan Al-A’sya telah mempresentasikan puisinya di depan jamaah Ukadz. Kini giliran Tamadhir binti Amr atau yang lebih populer dengan Al-Khansa untuk menggubah syair:

قذى بعينك أم بالعين عوار # أم ذرفت إذ خلت من أهلها الدار

Tenggelam bersama matamu, ataukah kepada mereka tenggelam..
Ataukah tersisa linang saat penghuninya pergi?

وإن صخرا لتأتم الهداة به # كأنه علم في رأسه نار

و إن صخرا لمولانا و سيدنا # و إن صخرا إذا نشتو لنحار

Shakhr, dialah petunjuk bagi segala petunjuk
Bagaikan nyala api di puncak giri
Shakhr bendara kami
Pengorbanan bagi penderitaan kami

Saat Al-Khansa purna dari ratapannya, Al-Nabighah melontarkan komentarnya, “jika si Al-A’sya tak berpuisi duluan, maka kaulah yang paling puitis, Khansa. Demi Allah kau adalah yang paling puitis dari semua perempuan”. “Juga dari semua laki-laki” tukas Khansa.

Hassan bin Tsabit tak mau kalah, ia pun mendeklarasikan dirinya sebagai penyair paling hebat diantara koleganya. “Apa buktinya?” Al-Nabighah menantang. Hassan kembali memamerkan puisinya:

لنا الجفنات الغر يلمعن بالضحا # وأسيافنا يقطرن من نجدة دما

ولدنا بني العنقاء وابني محرق # فاكرم بنا خالا واكرم بنا ابنما

Kami pemilik kelopak-kelopak mata tajam yang mengkilat seiring dhuha
Menetes dari ujung pedang kami darah segar
Kami terlahir sebagai putra-putra Anqa dan Muharriq
Betapa mulia kami di mata paman-paman dan putranya.

Seraya mengakhiri puisinya, Hassan menantang Al-Nabighah berkomentar. Rupanya Al-Nabighah telah menggarisbawahi beberapa poin dalam puisi Hassan tersebut.

  1. Hassan menyebut الجفنات yang maknanya meminimalkan jumlah (baca: kelopak mata). Padahal jika ia memilih جفان maka akan mengandung makna jumlah yang banyak.
  2. Hassan memilih diksi يلمعن بالضحا, padahal jika ia menggunakan kata يبرقن بالدجا akan memberi kesan lebih indahdan tajam (Karena kilat di gelap malam lebih cetar dari pada kilat di siang terang-red).
  3. Pemilihan diksi يقطرن من نجدة دما menunjukkan kesan minim, sedikit, dan terbatas. (“Tetes” darah pada ujung pedang-red) Sementara jika menggunakan يجرين (mengucur darah dari ujung pedang-red) maka akan timbul kesan maksimal dan grande.
  4. Hassan berbangga pada silsilahnya, dan tak berbangga pada siapa yang melahirkannya!

Dan Hassan pun bungkam…


Diintisarikan dari Qasas Al-Arab karya Ibrahim Syamsudin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.