Fatwa Cinta Ibnu Dawud Az-Zhahiri

0
433

Ibnu Dawud bernama lengkap Muhammad Ibn Dawud Al-Asbihani. Ia adalah ulama Baghdad yang dikenal dengan julukan “Burung Pipit yang Malang” (‘Ushfur Asy-Syauk). Julukan demikian disematkan kepadanya lantaran ia memiliki postur tubuh yang kecil dan berkulit kuning. Akibat julukan ini, Ibn Dawud yang saat masih bocah pernah tidak terima dan mencoba untuk mengadukan pada ayahnya. Namun alih-alih pegaduannnya dapat pembelaan, justru ia merasa mendapat pembenaran dari ayahnya atas julukan itu.

Ibnu Dawud juga dikenal dengan nama lain; Abu Bakar, sang putra Dawud penggagas Mazhab Az-Zhahiri. Ia merupakan salah seorang ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan. Selain dikenal sebagai ahli fiqh, ia juga dikenal sebagai sastrawan dan penyair yang cerdas. As-Shafadi, menyebut Ibn Dawud sebagai: Al-Imam Ibn Al-Imam (orang besar yang dilahirkan oleh orang besar) ; Azkiya’ Al-Alim (orang alim yang sangat cerdas).

Setelah banyak memberikan fatwa dengan menggunakan Mazhab ayahnya (Dawud Az-Zhahiri), ia kemudian dikucilkan. Al-Qadi Abu Hasan Ad-Dawudi menceritakan: ketika sepulang ayahnya, Ibn Dawud menggantikan kedudukannya dalam hal berfatwa. Sejak itu ia dikucilkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Bahkan, sampai ada yang merencanakan untuk menjatuhkannya dengan menjebak melalui sebuah pertanyaan yang memojokkan.

Di antara karya-karyanya adalah kitab sastra berjudul “Az-Zahrah” yang banyak memuat syair-syair cinta.

Uniknya, meski Ibn Dawud memiliki karya sastra dan berminat pada syair-syair cinta. Akan tetapi, justru dialah yang menjadi dalang intelektual atas terbunuhnya Al-Hallaj lantaran isu perihal ‘mengaku’ Tuhan dan cinta Ilahi. Ia yang memberi fatwa “kafir” kepada Al-Hallaj sehingga memicu digeretnya Al-Hallaj ke pengadilan. Fatwa ini agaknya yang membuat salah seorang sastrawan dengan ‘gemas’ mengirimkan secarik surat kepadanya dan dibalas oleh Ibnu Dawud dengan menggunakan syair yang tak kalah indah, yang kemudian  dalam “Mushari’ Al-‘Usyaq”  syair bahar khafif tersebut diberi judul “Fatwa Cinta”.

!يا ابنَ داودَ، يا فَقيهَ العِرَاقِ! … أفتِنَا في قَواتِلِ الأحداقِ

O, putra Dawud, ahli agama dari Irak. Beri aku fatwa mengenai pembunuh orang yang terancam!

هَلْ عَلَيها القِصَاصُ في القَتلِ يوْماً، … أمْ حَلالٌ لَهَا دَمُ العُشّاقِ؟

Adakah ia dikenai sanksi hukum Qishas atau darah pecinta memang halal untuknya?

:فأجابه ابن داود

عِندي جَوَابُ مَسائِلِ العُشّاقِ، … إسمَعْهُ مِنْ قَلَقِ الحَشَا مُشتَاقِ

Ibnu Dawud menjawab:

Aku memiliki jawaban perihal cinta yang tak terperikan. Mohon, dengar jawaban yang berasal dari kerisauan perindu yang berkobar.

لمّا سَألتَ عنِ الهَوَى أهلَ الهَوَى، … أجرَيتَ دَمعاً لَمْ يكُنْ بالرّاقي

Kala kau menanyakan cinta pada pakarnya, kau akan mengalirkan air mata yang tak akan mewujud dengan sebab mantera.

أخطأتَ في نَفسِ السؤالِ، وَإن تُصِبْ … تكُ في الهَوَى شَفَقَاً من الأشفاقِ

Pertanyaanmu salah. Andai benar, kau tentu akan turut bersimpati dalam Cinta. 

لَوْ أنّ مَعشُوقاً يُعّذِّبُ عَاشِقاً … كانَ المُعَذَّبُ أنْعَمَ العُشّاقِ

Sungguh, andai sang kekasih menyiksa orang yang mencintainya, maka itulah nikmat yang tiada terkira.

Fatwa cinta Ibnu Dawud demikian sepertinya merupakan hal yang wajar pada masa itu; sebuah masa yang dipenuhi dengan permusuhan antara fuqaha dan sufi. Sebagaimana lembaga keagamaan yang meruah pada saat itu, Ibnu Dawud juga turut berkecimpung dalam sengitnya permusuhan antara dua lembaga yang saling berhadapan; Fuqaha dan para Sufi. Kitab Az-Zahra karya Ibnu Dawud agaknya dikarang sebagai bentuk perlawanan atas cinta Ilahi yang banyak digelorakan oleh mistikus Islam. Alih-alih membicarakan perihal cinta, namun pada dasarnya Ibnu Dawud menyangkal cinta Ilahi mistikus Islam. Cinta menurutnya adalah hubungan antara dua jiwa, bukan antara seorang hamba dan Tuhannya sebagaimana pendapat para mistikus Islam.

Para penganut Mazhab Az-Zhahiri seolah ingin menunjukkan bahwa cinta yang benar bukan cinta yang dinyatakan oleh para mistikus Islam. Ibnu Hazm dengan karyanya Thauq Al-Hamamah, sedangkan Ibnu Dawud dengan karyanya Az-Zahra.

Di antara syair Ibnu Dawud yang lain:

إذا كان اللِّقاءُ يزيدُ شوقاً … وكان فراقُ من أهوى يشوقُ

Jika pertemuan menambah rasa rindu dan perpisahan membuat  pecinta menjadi rindu.

فليسَ إلى السُّلوِّ وإنْ تمادى … عتابُكَ في الهوَى أبداً طريقُ

Maka, selamanya tiada jalan untuk melupa, meski celaanmu atas cinta terlampau pilu.

ومنْ يكُ ذا سقامٍ إنْ تداوى … تزايدَ سُقمهُ فمتى يُفيقُ

Orang sakit kala diberi obat semakin bertambah rasa sakitnya, namun kemudian ia akan sembuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.