Pentingkah Restorasi Khilafah?

0
183

Bulan Maret 2015 ini adalah haul ke-88 peristiwa historik runtuhnya khilafah Islam terakhir, yakni Utsmaniyyah. Banyak kalangan umat Islam termasuk di Tanah Air mengenang kembali peristiwa itu guna mengambil pelajaran penting.

Pembubaran khilafah Utsmaniyah pada Maret 1924 memang membawa dampak serius pada nasib sejarah dunia Islam, khususnya Timur Tengah, hingga sekarang. Dampak buruk itu begitu nyata dan terasa.

Dampak paling nyata segera terpecah-pecahnya wilayah dunia Islam bagian “tengah” ke sejumlah negara-bangsa. Secara bertahap, wilayah Turki Utsmani itu terpecah jadi lebih  dari 20 negara. Pemecahan itu tak lepas dari upaya penjajah terutama Inggris dan Prancis untuk mengavling bekas wilayah Turki Utsmani setelah kejatuhannya.

Idealnya, wilayah itu menjadi satu kesatuan politik, ekonomi, dan sosial. Sebab, wilayah itu adalah satu lempengan daratan yang hampir menyatu. Pemisahan perairan hanya beberapa saja. Secara historis, mereka juga memiliki sentimen yang sama terhadap zaman kejayaan Islam masa lalu. Kesamaan lain di antara mereka begitu banyak.

Faktanya, setelah Perang Dunia I mereka terpecah ke dalam unit-unit politik, ekonomi, dan sosial yang sangat kecil dan terpisah ke dalam sejumlah negara. Dampak ekonomi menjadi persoalan paling nyata. Sebab, saling ketergantungan ekonomi antara wilayah Utsmaniyah yang berada di ujung barat dan timur, dan antara ujung utara dan selatan sudah demikian kuat, setidaknya delapan abad mereka menyatu.

Pengkavlingan wilayah jadi banyak negara-bangsa telah menghambat pergerakan barang dan orang serta meningkatkan ongkos ekonomi dalam kegiatan perdagangan. Kepentingan ekonomi rakyat di kawasan itu demikian dirugikan.

Dari sisi politik, pengkavlingan menjadi negara-negara kecil juga memperlemah posisi tawar mereka terhadap siapa pun. Faktanya, mereka bukan hanya tak bisa disatukan, tetapi justru terus terlibat ke dalam konflik di antara mereka sendiri. Demikian pula, mereka secara sosial juga terpecah mengikuti pengkavlingan politik itu.

Singkatnya, runtuhnya Khilafah Utsmaniyah adalah bencana besar bagi masyarakat Timur Tengah. Dampak itu masih terasa dengan perpecahan keras di kalangan para pemimpin kawasan itu yang membawa dampak kemanusiaan serius hingga saat ini.

Penulis berpendapat, gagasan mengenai pentingnya restorasi khilafah masuk akal muncul kembali di tengah kerasnya perpecahan Timur Tengah yang membawa tragedi kemanusiaan masif dan berkepanjangan sekarang. Fakta sejarah menunjukkan, khilafah di Timur Tengah itu membuat mereka relatif menyatu secara politik, sosial, maupun ekonomi.

Khilafah juga membuat kawasan itu menjadi sangat disegani oleh kekuatan dunia yang lain. Karena itu, gagasan restorasi khilafah di Timur Tengah memiliki daya tarik dan relevansinya. Khilafah di Timur Tengah bisa jadi solusi jitu kendati gagasan itu sangat kecil penerimaannya hingga sekarang di kalangan ilmuwan, para pemimpin kawasan, maupun masyarakat awam.

Namun, gagasan itu tetap memiliki daya tarik yang kuat bagi sebagian orang di sana bahkan di belahan dunia Islam lain. Karena itu, ketika ada “kelompok” keji sekalipun–seperti ISIS– mengusung gagasan ini, tak sedikit orang yang mau mengikutinya.

Bagaimana dengan negara-bangsa Indonesia? Relevankah kita membicarakan khilafah di Tanah Air tercinta? Penulis berpandangan, pengalaman berdirinya Indonesia sangatlah berbeda dengan pengalaman berdirinya negara-bangsa di Timur Tengah.

Jika berdirinya negara-bangsa di Timur Tengah itu menandai sebuah tragedi, keperihan, dan kekalahan, sebaliknya dengan sejarah berdirinya negara-bangsa Indonesia. Berdirinya negara-bangsa Idonesia adalah simbol kebebasan dan kedaulatan menentukan nasib sendiri serta enyahnya penjajahan, setidaknya secara fisik dan birokrasi. Berdirinya negara-bangsa Indonesia adalah simbol keagungan dan harapan kejayaan.

Jika berdirinya negara-bangsa di Timur Tengah itu menandai perpecahan yang menyedihkan, berdirinya negara Indonesia justru sebaliknya, menyatukan yang terpisah-pisah dan yang berbeda. Masyarakat Timur Tengah khususnya para pengikut Pan-Arabisme meratapi tragedi berdirinya negara-bangsa itu hingga sekarang. Sementara kita bangsa Indonesia merayakan dengan penuh syukur dan suka cita atas terbebas dan bersatunya bangsa Indonesia.

Kita patut bersyukur mampu menyatukan diri di tengah kenyataan geografis yang terpisah-pisah ini, dan di tengah-tengah kenyataan etnis, agama, adat istiadat, dan bahasa yang demikian beragam. Indonesia adalah anugerah bagi anak bangsanya. Kita harus mensyukurinya.

Sementara, pengalaman saudara-saudara kita di Timur Tengah begitu berbeda. Mereka bisa dikatakan menyatu secara geografis, daratan begitu luas, dan hampir tak terpisahkan oleh perairan. Mereka secara umum berasal dari satu etnis khususnya 22 negara Arab kendati ada campuran secara terbatas di beberapa negara. Sebagian besar mereka juga memiliki kesamaan bahasa dan agama. Di tengah persamaan kuat dalam banyak hal itu, mereka justru terpecah.

Karena itu, penulis ingin mengatakan, wacana khilafah pada tingkat tertentu relevan dibicarakan bahkan diperjuangkan di wilayah Timur Tengah, khususnya wilayah Bulan Sabit Subur dan sekitarnya. Sebab, itu bisa jadi salah satu solusi, kendati sepengetahuan penulis gagasan itu sama sekali tak populer di masyarakat sana hingga sekarang.

Dan ini yang penting, pembicaraan tentang restorasi khilafah di Indonesia tidaklah begitu urgen. Penulis dengan tulus dan kerendahan hati mengajak segenap umat Islam di Tanah Air untuk mensyukuri anugerah Allah berupa negara dan Tanah Air Indonesia yang sendi-sendinya berdiri di atas tetesan darah para syuhada yang bangga menjadi Muslim sekaligus bangsa Indonesia. Wallahu a’lam.

(tulisan ini pernah dimuat di koran Republika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.