Puisi Cinta Ibnu Al-Faridh

0
848

Puisi I 

ومتى أشكو جراحا بالحشى * زيد بالشكوى إليها الجرح كيّ

Setiap aku mengeluhkan luka dalam diriku, justru membuat luka itu semakin menganga.

عين حسادي عليها لي كوت * لا تعداها أليم الكي كيّ

Pandangan sinis para penghasut begitu tajam menghujamku lantaran aku mencintainya.

Namun pandangan sinis itu tidaklah lebih menghujam dari pada sakit ini.

عجبا في الحرب أدعى باسلا * ولها مستبسلا في الحب كي

Aku heran, dalam peperangan aku begitu berani menunjukkan taring.

Sedang dalam cinta betapa diriku sangat pengecut meringkuk ketakutan. 

هل سمعتم أو رأيتم أسدا * صاده لحظ مهاة أو ظبي

Tahukah kamu bahwa harimau menjadi ketakutan ketika diburu oleh sapi atau kijang kecil?!

 

Puisi II

زدني بفرط الحب فيك تحيرا * وارحم حشى بلظى هواك تسعرا

Jadikan aku semakin mabuk dalam mencintaimu.

Hilangkan pula kekalutan yang mendera diriku dengan sentuhan cintamu.

وإذا سألتك أن أراك حقيقة * فاسمح ولا تجعل جوابي لن ترا

Kala aku ingin benar-benar melihatmu, maka tolong maklumi.

Jangan lantas kau jawab “kau tak akan bisa melihatku”.

يا قلب أنت وعدتني في حبهم * صبرا فحاذر أن تضيق وتضجرا

O, hatiku kau telah janjikan kepadaku sebuah kesabaran dalam mencinta.

Maka jangan kau buat bosan dan jenuh (untuk mencinta).

إن الغرام لَهُو الحياة فمت به * صبا و حقك أن تموت و تعذرا

Cinta adalah kehidupan, yang akan kau bawa mati.

Kau pasti akan mati tapi sekaligus akan diampuni.


Ibn Al-Faridh bernama lengkap Umar bin Ali bin Mursyid bin Ali al-Hamawi. Ia merupakan salah seorang penyair sufi asal Mesir yang berjuluk  “Raja Para Pecinta”. Gelar demikian agaknya tidak berlebihan diberikan kepada Ibn Al-Faridh jika melihat syair-syair gubahanya yang memang lebih banyak bernuansa cinta.

Beberapa syair terjemahkan di atas hanya segelintir diantara syair-syair Ibnu Al-Faridh yang begitu meruah dan telah dibukukan dalam sebuah antologi berjudul Diwan Ibn Al-Farid. Beberapa bait syairdi atas dinyanyikan oleh penyanyi Palestina, Rim Bana.

Syair-syair Ibn Al-Faridh dalam antologi Diwan Ibn Al-Farid itulah yang kemudian saya kutip beberapa bait untuk selanjutnya saya Terjemahkan. Dalam menerjamahkan beberapa syair Ibnu Al-Faridh ini, saya tidak serta merta menerjamahkannya begitu saja secara bebas. Akan tetapi, mengacu pada karya Badr Ad-Din Al-Hasan bin Muhammad Al-Burini dan Abdul Ghani bin Isma’il An-Nabulisi, dua Syarih (komentator) karya Ibn Al-Faridh yang bisa dianggap paling otoritatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.