Nawal Sa’dawi dan Narasi Pelacur

0
701

Bintullah tengah dikejar dan berlari kencang, kendati suasana gelap gulita dan mencekam, ia lebih hafal tiap jengkal hutan ketimbang para pengejarnya. Ia merasa lolos dari kejaran itu, kemudian berhenti sejenak, untuk mengisi dadanya dengan napas. Di saat yang sama, seorang memukulnya dari belakang, memukul tanpa ampun. Namun, tatkala ia menoleh, mencari tahu si pemukul, mereka justru sembunyi. Ia tak mengerti dan bertanya, mengapa mereka hanya berani memukulnya dari belakang? Kira-kira demikian, bila kita coba merekonstruksi peristiwa pembuka dalam novel “Suqut al-Imam” karya Nawal al-Sa’dawi.

Uraian tersebut, merupakan pembuka yang elegan dan enigmatis. Pasalnya, jawaban atasnya dipaparkan dengan potongan cerita yang dramatis, imajiner bahkan terkesan surealis. Dan uraian tersebut, baru benar-benar tuntas, menjelang cerita berakhir. Barangkali, tipologi semacam ini, yang melandasi argumen Malti-Douglas dengan menyebut karya ini sebagai “a higly complex literary work”.

Yang menarik justru alasan di balik para pemukul yang sembunyi-sembunyi itu. Hal tersebut dapat disimak pada halaman 155,“fahiya tarifuhum wa>hidan wa>hidan ibtida>u mina al-Ima>m ila> al-ha>ris wa al-khafi>ri wa jami>‘him ka>nu> ya’tu>na ilaiha> fi> al-dzulumati biwuju>hi tankariyah. Wa fi> fira>syiha> fi> baiti al-saa>dah yakhlauna al-wajhu>hu al-mat}a>t}i wa sya’ru al-syari>rib wa al-lahiyah wa al-iba>ah wa al-sirwa>l”. Agaknya, melalui argumen ini, Bintullah tidak hanya secara implisit menjawab enigma yang dipaparkan pada paragraf awal cerita, namun sekaligus, dengan lugas telah berhasil merobek borok kemunafikan satu persatu tokoh dalam novel.

Bila diamati dengan saksama, paparan ini sesungguhnya, meletakkan kehadiran tokoh pelacur sebagai tokoh sentral yang membedah ketimpangan dalam masyarakat patriarki. Tak syak lagi, tema pelacuran memang lumrah digarap oleh penulis feminis semisal Sa’dawi. Mengingat tema ini, merupakan tema yang cukup intim dalam diskursusnya.

Akan tetapi, hal yang membuat saya tertarik, ialah pelukisan pelacur dalam karya-karya Sa’dawi. Karena bila kita coba tengok, sambil lalu merefleksi, terutama dalam novel “Suqut al-Imam” dan karya masyhurnya, “al-Mar’ah fi Nutq al-Sifr” serta karya nonfiksinya “al-Mar’ah fi Wajh al-Ari” sebetulnya tersirat pandangan yang ambisius terhadap pelacur, pandangan yang tak main-main, serius dan radikal!

Mengapa demikian? Sa’dawi [boleh dibilang] memang sengaja dan politis dalam menghadirkan tokoh pelacur dalam novelnya. Setidaknya, hal itu terbaca dengan cukup jelas, bila kita membaca novelnya secara utuh, sambil menarik benang merah, dan menghubungkan dengan karya nonfiksinya.

Sa’dawi dalam “al-Mar’ah fi Wajh al-Ari” menyatakan bahwa pelacuran tidak didapati sampai kemunculan sistem patriarki. Pangkal masalahnya terletak pada keharusan seorang istri memiliki satu suami sementara secara bersamaan peraturan serupa tidak berlaku bagi laki-laki. Artinya, masalah pelacuran sebenarnya, merupakan serpihan dari masalah yang lebih besar, yaitu sistem patriarki itu sendiri. Ia menilai, bahwa sistem patriarkilah yang menjadi pelopor perkembangan pelacuran dan sekaligus menjadi guru akan keberlangsungannya.

Pembongkaran ini, berujung pada keyakinannya, bahwa pelacur bukan sebuah kesalahan sebagaimana pandangan umum. Karena itu, profesi perempuan sebagai pelacur tidak sekaligus menjadikan seorang perempuan tidak terhormat. Baginya, justru orang tua yang tega menjual anaknya dengan dalih pernikahan supaya mendapat mahar besar sebagaimana tradisi Arab, jauh lebih tidak terhormat!

Keyakinan semacam ini yang termanifestasikan dalam kedua novel tersebut. Bila kita amati, Sa’dawi tidak hanya menggunakan tokoh pelacur sebagai pisau belati yang siap mengiris, membedah keganjilan dan ketimpangan dalam masyarakat patriarkis. Lebih dari itu, secara artistik, ia sengaja menyelipkan, menambal sulam tokohnya dengan mitos maupun teks lain yang secara simbolik akan melegitimasi pikirannya. Kiranya, manifestasi ini secara ringkas dapat diuraikan ke dalam tiga poin berikut:

Pertama, penggunaan atribut simbolik. Penggunaan simbol dalam novel memang penting, dan tidak boleh disisihkan begitu saja. Dalam kedua novel, saya akan menyoroti penamaan tokoh utama sebagai atribut yang secara simbolis memberikan makna semantik dengan positif; kedua sebagai atribut simbol perjuangan perempuan yang mengisyaratkan akan perjuangan yang terus menerus dan tak pernah usai.

Atribut simbolik pertama, penamaan “Bintullah” dan “Firdaus”. Kedua nama ini secara semantis memiliki makna yang positif. “Bintullah” merupakan frase dari dua kata “bintun” yang berarti anak dan “Allah” yang merujuk nama Tuhan. Penamaan demikian, memang masih multi tafsir. Mengingat kata Tuhan dalam novel dapat diartikan secara literer dan simbolik.

Penggunaan secara literer merujuk pada pengakuan sang tokoh yang mengingini namanya diartikan sebagai anak Tuhan sebagaimana kemukjizatan Isa al-Masih; sementara pemaknaan simbolik, merujuk pada ketiadaan ayah yang sah; namun boleh jadi kata Allah juga merujuk pada sang Imam [Sa’dawi memberikan alternatif tersebut]. Di sisi lain, nama “Firdaus” merupakan nama yang suci yaitu diambil dari nama surga tertinggi sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran. Kedua pilihan ini, tentu bukan pilihan yang cuma-cuma. Namun, merupakan pilihan politis hasil menambal sulam dengan teks agama untuk menegaskan totalitas tendensinya kepada tokoh pelacur.

Atribut simbolik kedua, menempatkan tokoh pelacur sebagai simbol perjuangan. Dalam tulisan lain, Sa’dawi begitu terinspirasi dengan Dewi Isis [bahkan, ia pernah menulis drama ini sebagai pembacaan ulang atas drama Taufik al-Hakim]. Dalam mitologi Mesir Kuno, Dewi Isis dikenal dengan gigih dalam memperjuangkan hak atas anaknya, Horus. Kegigihan dan perjuangan itu yang dijadikannya sebagai simbol perjuangan perempuan, sebuah perjuangan terus menerus yang tak pernah lelah dan selesai.

Ruh Dewi Isis ini yang kemudian diejawantahkan pada tokoh utama dalam kedua novel, yaitu sama-sama melakukan perjuangan sampai akhir, kendati pada akhirnya, keduanya gagal: Firdaus yang berakhir dihukum mati sementara Bintullah yang dirajam.

Yang perlu dicatat ialah keyakinan tentang arti perjuangan itu. Dalam hal ini, tak berlebihan bila ditarik dengan keyakinan Sa’dawi akan revolusi, dan kedua karyanya ini,merupakan karya yang tendensius dan revolusioner. Sebagaimana dikutip dalam sebuah wawancara Hans Ulbrich Obrist, Sa’dawi mengatakan “revolutionary protest! I wanted to revolt by writing!”.

Karyanya, dengan menggunakan atribut simbolik ini, telah menggambarkan orientasi revolusionernya, dengan jalan perjuangan seorang pelacur.“I have a book called Woman at Point Zero (baca: al-Mar’ah fi Nutq al-Sifr). The woman in it is very revolutionary. The Fall of the Imam (baca: suqut al-Imam) and God Dies by the Nile are about the revolution too, about people revolting: men, women, and children, Lanjutnya, dalam wawancara yang sama.

Kedua, menjadikan tokoh pelacur subjek yang berbicara. Kedua novel ini sengaja membiarkan kehadiran “Bintullah” dan “Firdaus” sebagai tokoh liyan yang berbicara, bercerita melalui sudut pandang dirinya. Misal, kerelaan Firdaus menjadi pelacur merupakan tumpukan dari pelbagai musabab yang berkelindan dari peristiwa masa lalunya yang kelam.

Namun, justru dengan menjadi pelacur, ia mendapati keutuhan akan dirinya. Ia memiliki tubuhnya, berkuasa; menikmati drama kepura-puraan manakala ia menipu bahwa tengah menikmati permainan seksual yang sebetulnya samasekali tidak ia nikmati! Kepura-puraan ini, merupakan ejekan bagi pasangannya [laki-laki] yang tidak mampu menaklukannya sekaligus mengisaratkan kekuasaan penuh atas tubuhnya.

Sementara Bintullah lebih melukiskan kemuraman, kehidupan miskin yang menyedihkan. Namun, siapa sangka dengan menjadi pelacur justru membuka jalan ia mengenal tiap laki-laki yang datang padanya. Bahkan, dengan profesinya itu, ia justru menemukan ayah kandungnya, laki-laki yang selama ini dicari dan ingin dibunuh. Perlawanan ini Bintullah menunjukkan sebuah perlawanan radikal yang gigih yaitu tokoh paling inferior dalam novel berhadapan dengan tokoh superior dan agung sang Imam.

Menjadikan tokoh pelacur sebagai subjek, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, berimplikasi dengan pengetengahan isu-isu sensitif yang selama ini terabaikan. Dengan menjadi subjek, tokoh-tokoh ini akan membawa pembaca ke dalam sisi lain kehidupan. Dengan cara yang sama, kedua tokoh ini, menjadi [seperti telah disebut sebelumnya] sebuah pisau belati yang mengiris tiap permasalahan yang disebabkan oleh masyarakat patriarki, mengorek boroknya, sehingga dapat menghadirkan ruang baru; kebenaran yang tak lagi hitam/putih, kebenaran yang lebih mendasar lagi, tentang memahami arti kehidupan, arti kemanusiaan.

Ketiga, tidak eksploitatif. Margot Badran mengkategorikan Sa’dawi ke dalam “sexual feminism” karena upayanya yang meletakkan eksploitasi seksual lebih komprehensif dengan menariknya dalam konteks lebih luas, yaitu ekonomi dan politik. Kategori ini cukup tepat, mengingat intensitas Sa’dawi dalam menyuarakan tema-tema tabu seperti seksual ke ruang publik. Bentuk konkritnya, adalah kampanye pelarangan penyunatan perempuan “clitoridectomy”.

Irisan pengkategorian ini juga terlihat dari pembicaraan seksual dalam karyanya. Namun, kendati menulis tema tersebut, Sa’dawi tidak terjebak dengan erotisme yang membabi buta, sebatas fan sevice. Bila kita mengamati lebih seksama, sebetulnya, adegan ranjang dalam ke dua novel tidak murahan yang bisanya bertujuan mengisi kepuasan fantasi pembacanya [dalam hal ini, bias kepada tubuh perempuan sering kita temukan].

Adegan seksual dalam novelnya, masih terkait dengan tendensinya yang menggunakan pelacur untuk membongkar patriarki. Alih-alih fan sevice, adegan seksual tokohnya, justru mengajak kita untuk melihat dengan miris, bahwa dalam hubungan paling intim, menyeruak rasa sakit, ketakberdayaan serta ketidakadilan bagi perempuan. Ironinya, hal ini terjadi kepada siapa pun, bukan hanya kehidupan pelacur, namun sekaligus dalam relasi keluarga secara umum.

Ketiga manifestasi ini menyakinkan kita, bahwa apa yang digambarkan oleh Sa’dawi tidaklah main-main. Ia benar-benar ingin mengajak kita menelusuri museum yang menyuguhkan sisi kehidupan seorang pelacur; melalui perjuangan tokohnya, ia mengajak membongkar kehidupan perempuan dalam masyarakat patriarki.

Dengan demikian, sebetulnya Sa’dawi tengah mengajak kita untuk melihat kehidupan dengan lebih subtil. Kehidupan pelacur yang sebenarnya merupakan irisan dari kehidupan perempuan secara umum. Maka dengan memahami itu, kita tengah diajak memahami nilai kemanusiaan yang lebih utuh. Karena masalah perempuan sekaligus masalah kemanusiaan. Sebagaimana laki-laki, perempuan adalah juga manusia.

Pada akhirnya, memahami kedua tokoh pelacur ini, bukan hanya berguna untuk memahami soal perempuan [bahkan, tidak hanya sebatas kepentingan FEMINIS!]; lebih dari itu, justru mengajak kita untuk lebih memahami kembali nilai kemanusiaan itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.