Puisi Jahili dalam Lensa Thaha Husein

0
768

Biografi

Thaha Husein adalah sastrawan Mesir. Dia lahir pada tahun 1809 di desa Kilo –distrik Minya– yang terletak beberapa kilometer dari kota Maghagha. Ayahnya, Husein, bekerja di pabrik gula sampai tahun 1932 dan meninggal pada tahun 1942. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dia meninggal pada tahun 1901 sembilan tahun setelah suaminya meninggal (Husna, 2009, hal. 36).

Thaha Husein di umurnya yang masih sangat muda mengalami kemalangan. Dia pada umur tiga tahun terkena penyakit cacar dan tidak mendapat perawatan yang semestinya (Istanbuli, 1983, hal. 53). Hal ini lah yang menyebabkan dirinya menjadi buta pada saat umur lima atau enam tahun. Semenjak itu, Thaha Husein menjadi sosok manusia yang kehilangan sebagian cakrawala pengetahuan sampai dia menikahi Suzan, seorang wanita berkebangsaan Perancis yang dia jumpai setelah tiba di Perancis, dan melihat dunia dengan mata istrinya[1].

Meski Thaha Husein telah kehilangan penglihatannya, dia tetap menjadi anak yang rajin dan cerdas. Hilangnya penglihatan membuat Thaha Husein gemar melatih indra pendengarannya dan mengasah kemampuan menghafalnya dalam waktu singkat. Thaha Husein pada umur yang belum mencapai sembilan tahun telah mampu menghafal Alquran hingga dia dijuluki syeikh oleh orang-orang disekitarnya[2].

Thaha Husein telah mempelajari bahasa Arab sebelum ke Perancis. Dia juga mempelajari Alquran di Kuttab, sebuah lembaga pendidikan keislaman yang merupakan bagian awal dari rangkaian pengembaraannya mencari ilmu sampai dia menghafal seluruh Alquran. Selain Alquran dia juga banyak menghafal puisi, wirid, doa dan senandung-senandung sufi.

Ketika Thaha Husein berumur tiga belas tahun pada tahun 1902, dia dikirim oleh orang tuanya, bersama saudaranya “Muhammad”, untuk belajar kepada para syeikh di Al Azhar. Dia belajar di Al Azhar sekitar enam tahunan. Selama enam tahun itu dia beralih dari satu halaqah keilmuan seperti fiqh, hadist, tauhid, mantiq, nahwu dan sastra. Namun, dari semua keilmuan tersebut dia lebih tertarik pada sastra (Husna, 2009, hal. 64). Dalam keilmuan sastra, dia menimba ilmu dari Al Marshafi (Idris, 2008, hal. 15). Hal ini lah yang membuat adanya hubungan yang spesial dengan Al Azhar.

Namun, karena suatu hal, Thaha Husein tidak bisa menyelesaikan studinya di Al Azhar. Dia telah mengalami kegagalan di dalam ujian akhir. Menurut keterangan Muhammad Ghallab, Dr. Thaha Husein mengikui ujian akhir dengan percaya diri. Dia menyangka bahwa dia telah siap. Namun, ketika dia berada di hadapan para penguji, dia ditanya dan didebat sehingga dia gagal di dalam ujian akhir tersebut. Hal itu membuatnya malu dan keluar dari Al Azhar. Sejak saat itu, Thaha Husein bermusuhan dengan pihak Al Azhar (Jundi, 1977, hal. 21).

Setelah Thaha Husein keluar dari Al Azhar, dia pindah ke Universitas Kairo pada tahun 1908, kala itu belum masih berstatus swasta. Di Universitas Kairo, Thaha Husein mulai bersinggungan dengan tradisi barat karena pada awal perkembangannya Universitas Kairo banyak diisi oleh para orientalis Perancis dan Italia.  Di antara para orientalis tersebut ada Professor Carlo Nalino yang mengajar sastra dan puisi masa Umayyah, Profesor Santilana yang mengajar filsafat Islam dan sejarah penerjemahan, Professor Miloni yang mengajar sejarah tumur kuno dan Professor Littman yang mengajar perbandingan bahasa Semit dengan Bahasa Arab (Idris, 2008, hal. 18). Thaha Husein lulus dari Universitas Kairo (1908-1914) dengan kajian tentang Abil Ala Al Ma’arri

Setelah belajar kepada para orientalis, Thaha Husein semakin kagum kepada orientalis dan metode-metode mereka. Segera setelah Thaha Husein menyelesaikan studinya di Universitas Kairo, dia pergi ke Perancis dan belajar di Universitas Montpellier. di Universitas tersebut, Thaha Husein mempelajari sastra perancis, bahasa Perancis, Bahasa Yunani dan Bahasa Latin. Thaha Husein lulus dari Universitas Montpellier pada tahun 1916 dengan kajian tentang Ibnu Khaldun (Istanbuli, 1983, hal. 53).

Metode Berpikir Thaha Husein

Metode berpikir Thoha Husein dipengaruhi metode berpikir barat. Menurut Anwar Al Jundi, ada beberapa pemikir barat yang mempengaruhi cara berpikir Thaha Husein seperti Voltaire dengan kebebasan berpikirnya, Ernest Renan dan Taine dengan determinisme Historis, Augus Comte dan Paul Valéry dengan konsep mereka berdua yang tercermin dalam kemampuan pengetahuan dalam memecahkan problematika filsafat dan sosial dan pengetahuan yang berkaitan dengan kolektivitas dan pengabaian individualitas, Durkheim dengan pensakralan kelompok, dan terakhir adalah Rene Descartes dan Charles Augustin Sainte-Beuve dengan konsep mereka tentang skeptisisme filosofis (Jundi, 1977, hal. 42).

Dalam Tulisan ini, motode berpikir yang hendak dikaji lebih lanjut adalah metode skeptisisme folosofis Rene Descartes. Pemilihan metode ini atas metode-metode lainnya dikarenakan dalam tulisan ini, pada bab selanjutnya, penulis akan membahas tentang pandangan Thaha husein tentang puisi Arab dan Thaha husein dalam menilai puisi jahili menggunakan metode skeptisisme folosofis Rene Descartes (Husein, Fil Adab Al Jahili, 1933, hal. 65).

Metode berpikir skeptisisme folosofis Rene Descartes adalah metode berpikir yang sangat radikal. Guna mencari kebenaran, segala hal akan diragukan bahkan ke ranah diri. Seorang skeptisis folosofis akan meragukan keberadaan dirinya sendiri guna mencari kebenaran akan keberadaannya sehingga dia jatuh pada kesimpulan bahwa keadaan dirinya yang sedang memikirkan kebenaran dirinya adalah bukti kebenaran akan keberadaannya, saya berpikir, karena itu saya ada (Descartes, 2012, hal. 74). Oleh karena itu, rasio dalam metode skeptisisme folosofis menempati posisi yang utama.

Ada empat prinsip metode berpikir skeptisisme folosofis. Pertama, tidak pernah menerima apapun sebagai benar kecuali jika saya mengetahuinya secara jelas bahwa hal itu memang benar. Kedua, memilah satu per satu kesulitan yang akan saya telaah menjadi bagian-bagian kecil sebanyak mungkin atau sejumlah yang diperlukan, untuk memudahkan penyelesaiannya. Ketiga, berpikir secara runtut mulai dari objek-objek yang paling sederhana dan paling mudah dimengerti, lalu meningkat sedikit demi sedikit sampai ke masalah yang paling rumit, dan bahkan dengan menata dalam urutan objek-objek yang secara alami tidak beraturan. Keempat, pastikan bahwa segala sesuatu sudah dipertimbangkan dan tiada yang luput dari tinjauan anda (Descartes, 2012, hal. 50-51)(Bagus, 2005, hal. 638-639).

Dalam berpikir, Thaha Husein juga menekankan pentingnya objektifitas. Dia menyarankan untuk siapapun yang hendak berpikir guna mencari kebenaran yang hakiki untuk sementara mengosongkan pikiran dengan menanggalkan keagamaannya, kebangsaannya, perasaan, dan segala sesuatu yang dapat mengganggu objektifitas seorang pencari kebenaran. Intinya adalah seorang pencari kebenaran harus bersikap adil dan jujur dalam berpikir(Husein, Fil Adab Al Jahili, 1933, hal. 66).

Cara berpikir seperti ini lah yang digunakan Thaha Husein dalam menilai puisi jahili sehingga dia jatuh pada kesimpulan bahwa puisi jahili bukanlah puisi jahili yang sebenarnya, dengan kata lain puisi tersebut adalah palsu. Untuk selanjutnya, mari beranjak ke bab selanjutnya tentang pandangan Thaha Husein terhadap puisi jahili.

Pandangan Thaha Husein Terhadap Puisi Jahili

Thaha Husein meragukan otentisitas puisi jahili. Dia, berdasarkan observasi dan analisisnya, menyimpulkan bahwa apa yang selama ini disebut dengan puisi jahili bukanlah puisi jahili yang sebenarnya. dia berpendapat bahwa puisi yang disebut puisi jahili adalah rekaan yang diciptakan setelah kemunculan Islam. Puisi tersebut lebih mencerminkan kehidupan Islam dari pada kehidupan jahili.

Dia mencoba melampai pembahasan tersebut dengan perhatian lain yang lebih bermakna dan argumentatif, yaitu kajian bahasa dan sastra. Oleh karena itu, dalam buku Fil Adab Al Jahili, puisi yang dianggap merupakan milik Imriil qais, A’sya atau para penyair jahili yang lain, dilihat dari segi bahasa dan sastra, tak mungkin adalah benar-benar puisi mereka. Kesimpulan dalam buku ini cukup mengejutkan yaitu tak semestinya memperlihatkan tafsir Alquran dan hadist dengan puisi tersebut tetapi yang lebih tepat adalah memperlihatkan tafsir puisi dan ta’wilnya dengan Alquran dan hadist. Thaha Husein hendak mengatakan bahwa puisi-puisi yang dianggap puisi jahili tak dapat menentukan apapun dan tak menunjuk pada suatu apapun sehingga tak semestinya menjadikan puisi tersebut sebagai media yang digunakan dalam ilmu Alquran dan hadist.

Thaha Husein, dalam memandang dan melakukan kajiannya. menggunakan metode berpikir seorang filsuf Perancis, Rene Descartes. Dalam buku Fil Adab Al Jahili paling tidak Thaha Husein menuliskan secara ekspilisit agar siapapun saat memulai melakukan kajian atau pembacaan agar menetralkan pikiran dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Bahkan dia juga menyarankan untuk mengesampingkan dirinya sebagai orang Arab dan muslim karena hal tersebut dapat mempengaruhi penilaian sehingga kajian yang dilakukan tidak benar-benar bersifat objektif. Jika hal tersebut sudah dilakukan maka orang tersebut akan mendapat pengetahuan yang tidak didapat oleh para ahli terdahulu, Thaha Husein beranggapan bahwa para ahli terdahulu masih terpengaruh oleh fanatisme kesukuan ataupun keagamaan sehingga kajiannya tidak benar-benar bersifat objektif. Thaha Husein mengatakan bahwa perbedaan pendapat di dalam bidang keilmuan bukanlah penyebab dari kebencian tetapi hasrat dan perasaanlah yang membawa manusia pada sifat benci dan permusuhan.

Secara umum, kritik Thaha Husein terhadap puisi jahili dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, perspektif formal, melihat bentuk bahasa dan kesusastraan puisi jahili. Kedua, perspektif konten, melihat muatan yang ada di dalam puisi jahili.

Kritik Formal

Bangsa Arab kuno terbagi menjadi dua, Qahthan dan Adnan. Qahthan adalah bangsa Arab asli. Bangsa ini berbicara dengan bahasa Arab dan tinggal di Yaman. Sedangkan bangsa Adnan adalah bangsa yang mengalami pengaraban. Bangsa ini adalah keturunan Ismail. Bangsa ini berbicara dengan bahasa Ibrani dan Kildan. Bangsa ini terletak di Hijaz.

Mereka yang berpendapat bahwa puisi jahili adalah benar-benar puisi jahili bersepakat bahwa bangsa Adnan yang tidak berbahasa Arab tetapi kemudian belajar bahasa Arab dan kemudian mereka melupakan bahasa aslinya dan menggantikan bahasa asli mereka dengan bahasa Arab. Selain itu mereka juga bersepakat bahwa bahasa Arab Qahtan dan Adnan adalah bahasa yang berbeda. Abu Amr bin ‘Ala berkata bahwa bahasa Himyar bukanlah bahasa kami dan bahasa kami bukanlah bahasa Himyar.

Dilihat dari segi bahasa, bahasa puisi jahili bukan bahasa masyarakat jahiliyah. Dalam penelitiannya, Thaha Husein mendapati bahwa tidak ada perbedaan antara puisi jahili Qahthan dan puisi jahili Adnan. Padahal kedua bahasa Arab tersebut adalah bahasa yang berbeda. Thaha Husein hanya mendapati adanya perbedaan antara bahasa puisi dan bahasa Alquran. Maka muncul pertanyaan “bagaimana ini bisa diterima?” jawabannya mudah, yaitu puisi yang dinisbatkan pada Qahthan sebelum Islam bukanlah bahasa puisi Qahthan. Puisi tersebut hanyalah puisi yang dimunculkan setelah Islam untuk sebab-sebab tertentu.

Thaha Husein menolak pendapat bahwa puisi jahili Qahthan melampaui puisi jahili, dengan kata lain terdapat teori perpindahan puisi jahili dari Qahthan ke Adnan sehingga kedua puisi tersebut menjadi mirip atau bahkan sama atau tidak ada perbedaan. Bagi Thaha Husein hal ini tidak bisa diterima. Menurut dia sebelum kemunculan Islam, bangsa Arab memiliki dialek dan bahasa yang berbeda bahkan, yang merupakan kepastian, orang bangsa Arab adalah bangsa yang terpecah belah dan berselisih. Di antara mereka tidak ada sebab-sebab kemunikasi materiil atau maknawi yang memungkinkan terjadinya penyatuan dialek.

Hal tersebut membawa Thaha Husein pada dua kemungkinan. Pertama, dia percaya bahwa memang tidak ada perbedaan antara Qahthan dan Adnan baik dalam dialek dan bahasa. Kedua, kedua puisi tersebut memang bukan dari suku-suku pra-Islam sehingga puisi tersebut adalah puisi yang dibuat setelah kemunculan Islam karena pada waktu itu bahasa sudah tersatukan dengan bahasa Arab Quraisy. Tentu dalam hal ini, setelah mengetahui realitas masyarakat Arab kuno, Thaha Hisein akan lebih memilih kemungkinan yang kedua.

Dapat kita bayangkan, meskipun setelah kemunculan Islam dan Alquran, bahasa bangsa Arab disatukan dalam satu bahasa yaitu bahasa Arab Quraisy tetapi masih kita dapati hingga saat ini perbedaan cara membaca al Quran yang dipengaruhi oleh dialek masing-masing daerah. Dapat kita bayangkan bagaimana, kondisi pada waktu itu yang masih terpecah belah baik secara budaya, politik dan bahasa. Maka sangat aneh sekali jika ketika membaca puisi jahili kita tidak mendapati adanya perbedaan bahasa dan dialek, bahkan bahr, taqti, dan qafiyahnya juga tidak berbeda.

Guna mendukung pendapat bahwa puisi yang dianggap jahili memang benar-benar puisi jahili, muncul pendapat atau spekulasi bahwa karena kepentingan kesatuan politik Quraisy yang independen dari politik eksternal maka bahasa dan dialek Qurays menguasai negara Arab dan bangsa-bangsa Arab tunduk pada bahasa tersebut baik dalam prosa dan puisi. Hal ini masih bisa disangkal dengan informasi bahwa bahasa Quraisy tidak melampaui wilayah atau daerah Hijaz.Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ketika Islam datang kekuasaan tersebar dan pengaruh bahasa dan dialek Quraiys tersebar bersamaan dengan pengaruh keagamaan.

Kritik Konten

Thaha Husein berpendapat bahwa cermin yang paling benar dan jujur dalam menggambarkan kehidupan jahili adalah Alquran. Alquran adalah media pergumulan Muhammad dengan orang Arab terdahulu, orang Arab menantang, melawan dan mendebat Alquran. Setelah kemunculan Islam, agama paganisme, nasrani dan yahudi memberikan perlawanan bahkan hingga ranah sosio-politik dan perlawanan senjata.

Puisi jahili tak mampu menggambarkan kehidupan keagamaan orang-orang jahiliyah. Menurut Thaha Husein, puisi tersebut menunjukkan kehidupan yang misterius, kering dan jauh dari perasaan-perasaan yang kuat tentang agama. Dia tidak menemukan perasaan-perasaan tersebut di dalam puisi Imriil Qais, Tharafah, atau ‘Antaroh. Sebaliknya Alquran mencerminkan kehidupan keagamaan yang kuat yang menyeru pengikutnya untuk berdebat dan melawan sebisa mungkin. Mereka melakukan tipudaya, penyiksaan bahkan hingga peperangan.

Para ahli yang mengkaji kehidupan masyarakat jahiliyah dengan bersandar padapuisi jahili yakin bahwa orang Arab sebelum Islam adalah bangsa yang terisolir yang hidup di padang pasir yang tidak tahu dunia luar dan tak dikenal dunia luar. Pendapat ini tentu sangat berbeda dengan pendapat Alquran bahwa masyarakat Arab sudah bersinggungan dengan dunia luar. Seperti yang diketahui, bahwa Al Quran telah membahas Roma, Persia dan perjalanan dagang. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat jahiliyah bukanlah masyarakat yang terisolir.

Thaha Husein menentang pendapat bahwa masyarakat Arab jahiliyah adalah orang-orang yang bodoh dan biadab. Hal ini bertentangan dengan keberadaan Alquran yang menjadi mukjizat luar biasa yang menjadi lawan dari puisi Arab jahili. Dia berpendapat bahwa masyarakat jahiliyah bukanlah masyarakat yang bodoh seperti yang dipahami selama ini. Namun, sebaliknya, masyarakat jahiliah adalah masyarakat yang berilmu, cerdas, dan memiliki kepekaan rasa. Thaha Husein berkata ”bagaimana mungkin seorang laki-laki berakal membenarkan bahwa Alquran muncul pada bangsa yang biadab dan bodoh.”

Silahkan disimpulkan sendiri dengan menambah bacaan terhadap karya Thaha Husein dan buku-buku terkait dengannya. Pemberian kesimpulan atas Thaha Husein dalam pertemuan yang sangat singkat dan dengan tulisan pemantik yang tak lebih dari sepuluh halaman adalah bentuk ketergesa-gesaan dan tentu bertentangan dengan empat prinsip Descartes yang dianut oleh Thaha Husein. Terimakasih. Wallahu A’lam


Bahan Bacaan

Bagus, L. (2005). Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Descartes, R. (2012). Diskursus dan Metode. (A. F. Ma’ruf, Trans.) Yogyakarta: IRCiSoD.
Husein, T. (1933). Fil Adab Al Jahili. Kairo: Mathba’ah Faruq.
Husein, T. (1992). Al Ayyam. Kairo: Markazul Ahram Lit Tarjamah wan Nasyri.
Husna, F. b. (2009). Fikru Thaha Husein fi Dhauil Aqidah al Islamiyah. Makkah: Jamiah Ummil Qura Kuliyyatud da’wah wa Ushuliddin.
Idris, M. (2008). Kebangkitan Intelektualisme Di Mesir. Yogyakarta: Teras.
Istanbuli, M. M. (1983). Thaha Husein Fi Mizanil Ulama Wal Udaba. Beirut: Al Maktab al Islami.
Jundi, A. a. (1977). Thaha Husein Hayatuhu Wa Fikruhu Fi Dhauil Islam. Kairo: Darul Itisham.

[1]Yang dimaksud dengan” melihat dengan matanya” adalah fakta bahwa sang istri membantu semua aktifitas Thaha Husein.
[2]Berikut adalah kutipan dari otobiografi Thaha Husein yang berjudul Al Ayyam:
منذ هذا اليوم أصبح صبينا شيخا وإن لم يتجاوز التاسعة لأنه حفظ القرآن، ومن حفظ القرآن فهو شيخ مهم تكن سنه. دعاه أبوه شيخا، دعته أمه شيخا، وتعود سيدنا أن يدعوه شيخا أمام أبويه، أو حين يرضى عنه، أوحين يريد أن يرتضاه لأمر من الأمور
[3]Bab yang berjudul “Pandangan Thaha Husein Terhadap Puisi Jahili” adalah resume dari beberapa bagian dari salah satu karya Thaha Husein yang berjudul Fil Adab Al Jahili; Manhajul Bahtsi, Miratul Hayah Al Jahiliyah Yajibu An Taltamis Fil Quran La Fisy Syi’ril Jahili, Asy Syi’ril Jahili Wal Lughoh, dan  Asy Syi’ril Jahili Wal Lahjat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.