Pembubaran Ikhwanul Muslimin di Mesir

0
988

Seperti diduga, Ikhwanul Muslimin akhirnya dibubarkan oleh pemerintahan `militer’. Kementerian Jaminan dan Solidaritas Sosial Mesir mencoret organisasi itu dari daftar lembaga swadaya masyarakat. Status organisasi itu dengan demikian ilegal di tempat kelahirannya sendiri. Sebelumnya, santer diberitakan, partai Tajammu’ yang Nasseris, seteru ideologis Ikhwan, mengajukan tuntutan pembubaran Ikhwanul Muslimin kepada pengadilan Mesir. Sebelumnya juga dikabarkan, Perdana Menteri Mesir Hazim al-Beblawi mengajukan usulan pembubaran Ikhwan sebagai solusi atas krisis berlarut-larut yang mendera negeri itu.

Di lapangan, para pemimpin Ikhwanul Muslimin terus diburu seperti binatang, ditangkapi, dan dijebloskan ke penjara oleh rezim militer. Penjagaan masjid-masjid sangat diperketat terutama pada hari Jumat untuk mencegah konsentrasi massa Ikhwan.

Ribuan masjid di beberapa kota dikabarkan dipaksa ditutup, termasuk untuk salat Jumat dengan alasan keamanan. Al-Jazeera bahkan mengabarkan mahasiswa/mahasiswi Kairo University dan Al-Azhar terancam diusir dari kampus jika mengajak atau turut serta berdemonstrasi. Suasana Mesir barangkali mirip seperti masa Mubarak, mencekam dan di mana-mana terdapat konsentrasi tentara dan polisi dengan senjata lengkap dan terhunus.

Sementara itu, para pendukung `legitimasi’ tak menghiraukan larangan keluar rumah pada jam-jam tertentu. Bahkan, mereka terus melakukan unjuk rasa di kota-kota seantero Mesir untuk melawan pemerintahan yang mereka sebut sebagai pemerintah kudeta.

Atribut teroris

Sebelumnya, lembaga kepresidenan secara resmi menyatakan mereka sedang menghadapi kelompok yang disebutnya sebagai ekstremis, fasis-agama, dan teroris. Atribut itu tentu ditujukan kepada kelompok Ikhwanul Muslimin dan pendukungnya. Atribut tersebut adalah kosa kata yang relatif baru yang digunakan pemerintah Mesir terhadap Ikhwan setelah serangkaian upaya negosiasi dengan kelompok itu tak membuahkan hasil dan perlawanan pendukung Ikhwan hingga saat ini belum berhenti.

Penggunaan istilah itu ternyata memiliki dampak nyata terhadap perkembangan di lapangan.
Pemerintahan sementara Mesir plus militer tampaknya akan melanjutkan penggunaan kekerasan untuk menghadapi protes-protes dari para pendukung Ikhwan, bahkan akan meningkatkannya. Alasan yang dikemukakan, kendati mungkin sebagian adalah benar, adalah klasik. Pertama, gerakan protes itu merupakan hasil `konspirasi asing’ bersama Ikhwan Mesir. Yang dimaksudkan pihak asing itu ialah para ikhwani dari berbagai negara terutama Gaza, Turki, Qatar, Libia, dan lain-lain. Para tokoh revolusioner dan Liberal yang sangat berjasa bagi Mesir seperti Ayman Nur dan Hamzawi juga masuk deretan orangorang yang ditangkap dengan tuduhan tersebut.

Kedua, demonstrasi pendukung Ikhwan tidak lagi dengan cara damai. Pemerintah Mesir berupaya keras meyakinkan dunia internasional dengan menunjukkan penangkapan para demonstran yang membawa persenjataan canggih dan peluru dalam jumlah besar. Kampanye militer besar-besaran di Sinai Utara untuk menumpas kelompok-kelompok bersen jata juga dikait-kaitkan dengan Ikhwanul Muslimin meski mereka belum menyebut secara langsung.

Ketiga, pemerintah Mesir menuduh kelompok Ikhwan terlibat perusakan tempat-tempat ibadah terutama gereja, kantor-kantor pemerintahan, dan fasilitas publik, bahkan membunuh secara sengaja aparat kepolisian Mesir yang sedang bertugas. Setiap terjadi aksi kekerasan saat ini maka kelompok Ikhwan kemudian menjadi sasaran termasuk dalam peristiwa percobaan pembunuhan menteri dalam negeri belum lama ini.

Tentu saja, semua tuduhan itu ditolak Ikhwan dan pendukungnya. Sejauh ini, mereka bertekad tetap melanjutkan aksi damai melawan rezim sekarang. Mereka juga mengklaim gerakan mereka murni gerakan rakyat Mesir, bukan konspirasi asing.

Akan ke mana?

Mencermati perkembangan itu, semakin kecil harapan kedua pihak dapat mencapai solusi kompromi atau rekonsiliasi. Pemerintah tampak jelas mengarah pada strategi penyelesaian senjata dan berupaya melenyapkan kelompok Ikhwan dari Mesir dengan segala cara. Keputusan itu sudah bukan gertakan lagi sebab rezim menyadari Ikhwan tak akan mundur. Ancamanancaman mereka sebelumnya juga tak digubris. Akan tetapi, apakah cara melenyapkan Ikhwan itu akan berhasil ken dati dengan korban yang terus berjatuhan?

Penulis sangat yakin, militer tak akan mampu menghentikan perlawanan Ikhwan dengan cara itu karena kelompok itu lahir dari rahim sejarah Mesir, mengakar kuat di bumi Mesir baik di perdesaan maupun perkotaan, dan memiliki pengikut sangat luas dengan ideologi menggumpal.

Faktanya mereka memenangi pemilu, bukan hanya untuk kursi presiden, melainkan juga parlemen dan referendum konstitusi. Mereka juga sangat kuat dan mampu bertahan sangat lama dalam aksi-aksi masif dan merata di jalanan seluruh negeri. Itu berarti, mereka sangat tangguh baik di dalam dukungan massa maupun logistik.

Sikap pemerintah Mesir dan militer bisa juga diartikan se ngaja mendorong kelompok Ikhwan agar memilih memanggul senjata sebab para pemimpin militer sekarang dan pemerintah menjadi pihak yang dituduh paling bertanggung jawab atas kematian ribuan demonstran. Seruan agar para pemimpin Mesir sekarang diadili sebagai penjahat kemanusiaan sudah terdengar.

Jika mereka menyerah terhadap penetrasi massa Ikhwan, itu artinya mereka melakukan bunuh diri, siap menjalani nasib serupa dengan Presiden Mubarak, bahkan bisa lebih buruk lagi. Oleh karena itu, mereka memaksakan diri untuk bertahan. Mereka lebih baik mendorong kelompok Ikhwan agar mengambil strategi makar daripada harus bertekuk lutut atas tekanan massa Ikhwan atau kalah dalam pemilu. Jika Ikhwan memilih jalan itu, persoalan dan penyelesaiannya menjadi lain dan lebih aman untuk mereka.

Para pemimpin Ikhwan tampaknya sangat berhati-hati dengan situasi tersebut karena kesalahan satu langkah saja bisa membuat kelompok itu benar-benar dilenyapkan dari bumi Mesir sebagaimana sebelumnya. Mereka sepertinya sangat menyadari, mereka sedang berhadapan dengan korps yang memonopoli penggunaan senjata atas nama negara. Itu artinya, mereka harus membayar harga teramat mahal jika memilih jalan memanggul senjata.

Mereka juga sangat sadar bahwa jalan demokrasilah yang mengantarkan mereka ke panggung kekuasaan. Itu sudah terbukti, dan mereka tentu menyadari kekuatan tersebut. Karena itu, sejauh ini mereka akan bertekad menjatuhkan rezim melalui cara damai. Akan tetapi, pertanyaannya, sampai kapan mereka akan mampu bertahan menghadapi situasi seperti itu? (Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia, 25 September 2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.