Al-Khansaa; Perempuan yang Merayakan Dukanya

0
665

Al-Khansaa terlahir dengan nama Tumadhir binti Amir bin Harist Al-Salmiyyah. ia adalah seorang penyair perempuan yang termasuk dalam kategori penyair Mukhadramun. Yaitu para penyair yang mengalami dua masa Jahiliyyah dan masa Islam. Al-Khansaa tidak seperti perempuan-perempuan umumnya yang hidup di zaman Jahiliyah,yang selalu mendapatkan tekanan fisik dan batin atau hanya dianggap sebagai properti penghasil keturunan dan pemuas belaka. Beruntung Al-Khansaa hidup di tengah keluarga yang mengerti arti kasih sayang. keluarga yang memberi kesempatan sama bagi anggotanya untuk berpikir, berpendapat dan menentukan pilihan. Dia pernah suatu hari menolak untuk dijodohkan dengan seorang laki-laki bangsawan dari Bani Jasym dan memilih laki-laki pilihannya sendiri yang tak lain adalah sepupunya, Rawahah bin Abdul Aziz Al-Salmy.

Kepenyairan Al-Khansaa pernah ditantang oleh Hindun binti Utbah di pasar Ukadz. Hindun mengklaim bahwa kesedihannya atas kematian saudara dan ayahnya tak ada yang menandingi, ia ingin menantang seseorang yang mampu mempresentasikan dukanya melebihi dirinya. Lalu Hindun bersyair:

بكي عميد الأبطحين كليهما
ومانعها من كل باغ يريدهـا

أبي عتبة الخيرات ويحك فاعلمي
وشيبة والحامي الذمار وليدها

أولئك آل المجد من آل غالب
وفي العز منها حين ينمي عديدها

Pilar sungai berbatu itu menangis
Sementara penghadangnya menginginkannya

Ayahku, Utbah, gerbang kebaikan
Ketahuilah ia yang renta ia pula yang melindungi anak-anak daripetaka.

Mereka adalah keluarga yang mulia lagi juara
Generasi lahir dan tumbuh dari keagungannya.

Lalu Al-Khansaa membalasnya dengan melantunkan syair ini:

أبكـي أبي عمـرًا بعيـن غـزيـرة
قليـل إذا نـام الخلــي هجودهـا

وصنوي لا أنسى معاوية الذي
له من سراة الحرتيـن وفـودهـا

وصخرًا ومن ذا مثل صخر إذا
غدا بساحته الأبطال قــزم يقودها

فذلك يا هند الرزية فاعلمي
ونيران حرب حين شب وقـودهـا

Abu Amir sedikit berlinang hingga tampak bagai singa
yang tak lagi menerkam gara-gara tertidur

Masih tajam dalam benakku, saudara laki-lakiku
Muawiyah berjalan bersama kafilahnya

Sementara Shakhr yang kokoh bagai batuan gurun
esok memimpin para pahlawan di medan juang.

Ketahulah wahai Hindun yang mulia
perang belum usai!

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Arab terutama sebelum Islam mengekspresikan segala sesuatu dengan senandung puisi. Pasar Ukadz menjadi pusatnya. Laki-laki, perempuan, bangsawan, budak, semua tumpah ruah di Ukadz menunjukkan kebolehannya berpuisi.

Tak terkecuali Al-Khansaa. Ia memang dikenal sebagai penyair spesialis al-ritsa’ atau puisi ratapan. Identik demikian karena kepergian kedua saudaranya di pertempuran Badar benar-benar membuatnya hancur.

Kedua puisi perempuan Arab itu tidak akan diperbandingkan, hanya saja kepenyairan Al-Khansaa cukup dikenal luas di kalangan para penyair Ukadz hingga terdengar oleh Hindun, perempuan Arab tersohor di masa itu.

Kisah ratapan Al-Khansaa masih berlanjut saat baginda Nabi Muhammad diutus untuk masyarakat Arab saat itu. Pamor Nabi Muhammad terdengar hingga ke perkampungan Bani Salim, dan Al-Khansaa datang bersama kaumnya untuk menjadi pengikut Nabi. Lagi-lagi kepenyairan Al-Khansaa diperdengarkan kepada Rasulullah dan berhasil membuatnya takjub akan puisi-puisinya.

Perjalanannya sebagai seorang pengikut Muhammad membuatnya menyaksikan setiap langkah perjuangan Nabi. Ia mantap menghibahkan keempat anaknya untuk turut membela panji Rasulullah. Keempat putranya gugur di medan juang. Al-Khansaa tak lagi meratapi hal itu dengan tangisan puisi sebagaimana saat ia kehilangan Muawiyah dan Shakhr, ia justru berkata dengan bangga seraya merayakan kesyahidan putra-putranya:

الحمد لله الذي شرفني باستشهادهم، وإني أسأل الله أن يجمعني معهم في مستقر رحمته

Puji syukur kupanjatkan atas kehormatan putra-putraku yang gugur, semoga Allah mengumpulkan kami dalam rahmat-Nya.

Jarir bin Athiyah, salah satu pesohor penyair pada masa Dinasti Ummayyah pernah ditanya oleh seseorang tentang siapakah penyair paling hebat itu? Ia menjawab, “Aku, jika Al-Khansaa tidak ada”.

Dialah Al-Khansaa, penyair perempuan Arab yang mewakafkan putranya untuk menjadi martir, ialah perempuan yang merayakan dukanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.