Puisi Arab Modern: Dari Abad Ke-19 Hingga Abad Ke-21 (Bagian VI)

0
350

Pengaruh As-Sayyab ternyata tak hanya di Irak saja, namun mencakup seluruh wilayah Arab. Tak terkecuali Maroko. Mohammed Bennis (1948-  ) misalnya, mengaku bahwa pada awal karir kepenyairannya ia sangat dipengaruhi oleh gerakan puisi bebas yang diusung oleh As-Sayyab. Meskipun belakangan kemudian ia menemukan Adonis.

Masuknya Prancis di wilayah Aljazair telah mempengaruhi perkembangan sastranya. Pada masa ini kebanyakan karya-karya sastra Aljazair dipengaruhi oleh iklim perang kemerdekaan melawan Prancis yang terjadi antara tahun 1954 hingga 1962. Namun sekaligus timbul paradoks bahwa para penulis Aljazair, terutama yang berada di Afrika Utara, ternyata selain melahirkan karya-karya penting berbahasa Arab, juga menelurkan karya-karyanya dalam bahasa Prancis. Tidak hanya sekedar bahasa yang digunakan, tetapi gaya penulisannya pun tidak jauh berbeda dengan gaya penulisan para penulis Prancis. Di antara penyair Aljazair yang tetap mempertahankan penggunaan bahasa Arab pada masa ini adalah Muhammad Al-‘Îd Âli Khalîfah (1904-1979), Mufdi Zakariya (1913-1977), dan Shâlih Al-Kharfiy (1932-1998). Tampaknya dalam puisi-puisinya ketiganya cenderung beraliran realis.

Shalâh Abdush Shabûr (1931-1981) pada tahun 1956 mempublikasikan antologi puisi pertamanya yang berjudul “An-Nâs fî Bilâdî”. Antologi ini dipandang sebagai penanda awal munculnya gerakan puisi bebas di Mesir. Abdush Shabûr dikenal sebagai penyair sosial-realis yang pada perkembangan berikutnya lebih cenderung memperhatikan aspek spiritual dan metafisika. Di Mesir, dia bersama Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi (1935-  ) telah turut memberikan sumbangan berharga terhadap perkembangan puisi Arab modern. Dan berkat keduanya, pada sekitar tahun 1963 gerakan realisme di Mesir semakin tampak.

Pada tahun 1957 penyair kelahiran Suriah, Adonis (1930-  ), bekerja sama dengan Yûsuf al-Khâl (1916-1987) (Lebanon) dan Unsî al-Hâjj (1937-2014) (Lebanon) mendirikan kelompok Syi’r dan menerbitkan majalah dengan nama yang sama. Majalah yang terbit di Beirut tersebut boleh dikatakan sebagai media paling berpengaruh bagi gerakan sajak bebas dalam puisi Arab. Begitupun para pendirinya, boleh dikatakan sebagai tokoh berpengaruh dalam puisi Arab modern. Pendekatannya yang radikal terhadap bentuk puisi (termasuk puisi-prosa) dan eksperimentasinya terhadap bahasa dan citra, kelompok ini telah menjadi simbol arah baru yang diikuti oleh puisi Arab pada paruh kedua abad ke-20. Penyair yang juga turut memberikan kontribusi pada majalah ini adalah penyair Lebanon Khalîl Hâwî (1919-1982) yang cenderung beraliran simbolis.

Adonis merupakan penyair bergaya simbolis yang rumit dan unik. Oleh karena itu tak mengherankan jika puisi-puisinya tak segera dapat dipahami, kecuali setelah dilakukan perenungan yang dalam. Berbeda dengan Adonis yang  berusaha membangkitkan mitologi-mitologi dunia sebagai simbol, Hâwî justru hanya membatasi mitos-mitos lokal sebagai simbol dalam karyanya. Sementara puisi-puisi Unsî al-Hâjj memperlihatkan kecenderungan-kecenderungan surealistik. Pada tahun 1960, ia merilis antologi puisi bertajuk “Lan” yang ditengarai sebagai puisi prosa pertama.

Selain di Irak, Mesir, dan Lebanon, gerakan sajak bebas tampaknya juga bergema di Palestina. Di antara para penyair yang turut menyuarakannya adalah Tawfiq Shâyig (1923-1971) dan Jabra Ibrahim Jabra (1919-1994). Kedua penyair tersebut dalam karya-karyanya selalu berupaya membebaskan bentuk puisi Arab dari belenggu tradisi dan merevolusi strukturnya. Masih di Palestina, pada tahun 1970-an, Mahmûd Darwîsy (1941-2008) yang di awal kepenyairannya menulis dengan teknik puisi Arab klasik, kemudian mulai berubah halauan menulis sajak-sajaknya dengan gaya bebas. Sementara di Suriah, julukan “Bapak Puisi Bebas Arab” disematkan kepada Muhammad al-Mâghûth (1934-2006).

Para rentang waktu tahun 1958 hinga 1968, atmosfer sastra di Irak lebih sering diwarnai oleh agitasi politik dan ideologi yang mengakibatkan timbulnya pergolakan dan revolusi. Setelah generasinya Nâzik, al-Sayyâb, al-Bayyâtî, al-Haidârî, dan kawan-kawannya pudar, banyak penyair Irak yang terpengaruh oleh suasana demikian sehingga lahirlah sebuah generasi atau angkatan baru para penyair Irak yang lebih dikenal dengan sebutan Generasi/Angkatan 60-an (Jail al-Sittîniyyât). Sebagain besar mereka hidup dalam kemiskinan, pengembaraan, pengangguran, dan bahkan hanya tidur-tiduran di kebun, gubug dengan penuh keterpaksaan tanpa ada sebuah pilihan lain. Tak diragukan lagi bahwa generasi ini memiliki sebuah ciri tersendiri yang  boleh dikatakan sampai pada taraf keterputusan dengan generasi modern sebelumnya.

Angkatan tersebut terkenal dengan masa-masa kritik dan politik yang sangat sulit hingga sampai pada taraf pasrah. Revolusi 68 tampaknya membawa angin baru kepada seni dan budaya dengan diterbitkannya kembali buku-buku sastra. Pada tahun 1960-an ini banyak di antara para penulis kenamaan di Irak cenderung ke arah politik kiri, dan beberapa di antara mereka dekat dengan Partai Komunis. Di antara tokoh yang terkenal dalam angkatan ini adalah Fâdhil al-‘Azâwî, Muayyad al-Râwî, Anûr al-Ghasânî, Sargon Boulus, Shâdiq al-Shâigh, Fauzî Karîm, Sâmî Mahdî, Jean Dammo, Yûsuf Sa’îd, Ibrâhîm Zâyir, Abd al-Qâdir al-Janâbî, ‘Abd al-Rahmân al-Rabî’î, Fâdhil ‘Abâs Hâdî, Jalîl Haidar, Syarîf al-Rabî’i, Shalâh Fâiq, Wulaid Jum’ah, dan ‘Abd al-Rahmân Thamâzî. Sebagai wadah bagi sastrawan Irak, pada sekitar tahun 1964 terbentuklah sebuah komunitas bernama Jamâ’ah Kirkûk yang digawangi oleh Fâdhil al-‘Azâwî (1940-1977), Sargon Boulus (1924-  ), Muayyad Ar-Râwî (1939-2015), Shalâh Fâ’iq (1945-   ), dan Jân Dammo (1943-  ).

Sebenarnya, gerakan puisi Arab dialek dengan menggunakan bahasa keseharian telah mencuat di permukaan sudah sejak lama, yakni pada masa dinasti Utsmani. Namun baru menemukan bentuknya pada tahun 1960-an. Di Mesir, misalnya, pada 9 November 1956 sebuah puisi berbahasa Arab dialek Mesir terbit dalam surat kabar Al-Masâ’. Puisi tersebut ditulis oleh salah seorang penyair dan penulis lirik lagu, Hamid Al-Atmas.

Penggunaan bahasa Arab dialek Mesir dalam penggubahan puisi kemudian semakin di”legal”kan oleh sekelompok penyair muda seperti Shalah Jâhin (1930-1986), Sayyid Hegâb (1940-2016), Fu’âd Qâ’ûd (1936-2006), dan Abdur Rahmâan Al-Abnûdî (1938-2015) pada tahun 1961 dengan diciptakannya istilah “Syi’r Al-‘Âmmiyyah”. Kelompok ini menamankan dirinya “Jamâ’ah Ibn ‘Arûs”.[1] Mereka semua telah mendedikasikan dirinya untuk menulis puisi dengan menggunakan bahasa Arab dialek, bukan bahasa Arab standar. Penyair dialek Mesir lain yang tak kalah pentingnya adalah Ahmed Fouad Nagm (1929-2013) dan Fouad Haddâd (1927-1985).

Fouad Nagm menjadi terkenal ketika puisinya dinyanyikan oleh musisi buta Syeikh Imam Issa dengan memainkan oud. Duo yang seringkali tampil di kedai-kedai kopi dan juga di hadapan mahasiswa ini telah menginspirasi generasi muda yang menginginkan perubahan. Sementar Fouad Haddâd, yang merupakan teman dekat Shalah Jâhin, menjadi terkenal luas dan naik pamornya setelah kumpulan puisi epiknya dipentaskan oleh penyanyi kenamaan Sayed Mekkawi pada tahun 1996.

Penyair Mesir dan penulis lagu Al-Abnûdî juga dikenal luas pada tahun 60-an ini karena puisi-puisi revolusionernya dan juga kritiknya terhadap dua presiden yang dijatuhkan. Ia termasuk penyair generasi 60-an yang karirnya membentang selama empat dekade dengan pandangan kirinya. Ia sengaja menulis puisi dengan bahasa dialek keseharian dengan alasan agar puisinya dapat menarik perhatian dan dinikmati oleh banyak orang, tidak hanya kaum elit tetapi juga wong-wong cilik. Menurutnya, ketika buta huruf merajalela, maka penggunaan bahasa yang dimengerti oleh semua orang dalam penggubahan puisi merupakan hal yang tepat. Terlepas dari perbedaan latar belakang budaya, pengalaman, visi, dan kemampuan untuk berkomunikasi, generasi 60-an secara umum memiliki tujuan yang satu, yakni merevitalisasi sastra.

Di tengah keriuhan puisi bebas di berbagai belahan dunia Arab, mengikuti jejak Ahmed Fouad Nagm di Mesir, pada tahun 1961, Sa’îd ‘Aql (1912-2014) menerbitkan antologi puisi “Yara” yang kebanyakan puisinya menggunakan bahasa Arab dialek Lebanon. Di antara sikap Sa’îd ‘Aql yang dianggap kontroversial adalah seputar seruannya terhadap rakyat Lebanon untuk meninggalkan bahasa Arab standar dan beralih ke bahasa dialek yang ditulis dengan huruf latin. Dia pernah menyatakan bahwa jika dia punya waktu, dia akan menerjemahkan semua karyanya dari bahasa Arab standar ke dialek Lebanon dengan menggunakan alfabet latin.

Kualitas puisi Irak tampak memburuk sejak tahun 1970-an, ketika kontrol pemerintah terhadap kebudayaan menjadi sebuah kemutlakan. Para penyair yang memilih untuk tinggal di Irak dipaksa untuk menulis sajak-sajak pujian terhadap diktator Irak Saddam Hussein. Banyak juga para penyair Irak yang menggubah puisinya dengan menggunakan bahasa Arab dialek (‘âmiyyah) karena banyak disukai orang. Puisi mereka mudah dipahami, bahkan oleh orang-orang yang buta huruf sekalipun, karena puisi-puisi tersebut hanya dibacakan, tidak pernah ditulis. Termasuk di antaranya adalah siaran televisi dan radio dan hal-hal yang memiliki antusias pendengar.

Pada tahun 1967 Perang Enam Hari terjadi. Israel memperoleh kemenangan dan berhasil merebut Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai. Sebagai dampak dari peristiwa ini, Mourid Barghouti (1944-  ) dan juga orang-orang Palestina yang tinggal di luar negeri dilarang kembali ke tanah airnya. Lalu ia pun akhirnya memutuskan bekerja sebagai guru di Kuwait, sebelum akhirnya ke Mesir pada tahun 1970 dan menikah dengan Radwa Asyur. Mourid Barghouti mulai serius meniti karir kepenyairannya sejak tahun-tahun tersebut. Ia telah mempublikasikan karya-karya awalnya di beberapa media seperti Al-Adab, Mawaqif, Al-Katib, dan juga Al-Ahram. Lalu menerbitkan karya puisinya dalam bentuk antologi pada tahun 1972. Selain Mourid Barghouti, penyair Palestina lainnya yang juga mengekspresikan impian kebebasan tanah airnya adalah Izzud Din Al-Manasra (1946-  ), Ahmad Dahbur (1946-  ), dan Ibahim Nasrullah (1954-  ).

Pada tahun 1975 hingga 1990, perang saudara meletus di Lebanon. Selama berlangsungnya perang saudara ini, Huda Khânim An-Na’mâni (1930-  ) merekam hasil pengalamanya dalam wujud puisi. Dalam puisinya, penyair kelahiran Damaskus ini secara khas mengekspresikan perjuangan, kebangkitan, dan kekuatan wanita di dunia Arab. Ketika menggubah sebuah puisi, lukisan-lukisan seolah terlihat menari di antara bait-baitnya. Ia adalah seorang penyair di atas segalanya. Ia telah mengawinkan antara penghormatan terhadap tradisi dengan gaya modern yang tajam dan inovatif. Perjuangan rakyat Palestina dan perang sipil di Lebanon juga direfleksikan oleh penyair Palestina Mu’in Busyasu (1927-1984) dalam puisinya.

Pada tahun 1990-1996 AS mengembargo Irak secara menyeluruh. Tepatnya pada tanggal 17 Februari 1991, pasukan AS membombardir Irak. Ribuan rumah dan fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, masjid, dan pusat listrik rata dengan tanah. Antologi puisi Ahzan Ibnu Zuraiq (Ballada Ibnu Zuraiq) karya penyair terkemuka Irak, M Radhi Jaafer adalah bukti nyata peristiwa-peristiwa itu. Sajak-sajak yang terkumpul dalam antologi tersebut merupakan hasil pengembaraannya di negeri orang selama masa-masa krisis. Hampir semuanya adalah rekaman tragedi kemanusiaan di Irak antara tahun 1991-1997. Sebelum tahun itu, ia jarang menulis puisi-puisi kesedihan kecuali puisi yang digubah saat kematian ibunya berjudul Bukâ’ (Tangisan). Tidak seluruhnya sajak dalam Ballada Ibnu Zuariq berisi kepasrahan dan tangisan. Melalui goresannya, ia juga menyerukan rakyat Irak untuk melawan penindasan Amerika dan sekutunya, seperti yang terlihat dalam sajaknya yang berjudul Tamarrud (Pemberontakan).

Irak selama periode 1998-2002 sering terjadi konflik akibat penolakan terhadap resolusi PBB. Pada periode ini telah lahir beberapa karya puisi yang syarat dengan kosakata perang, blokade, embargo, dan sejenisnya. Di antara karya-karya tersebut adalah antologi puisi Dzâlik al-Mathar al-Murr (1998) karya Salâm Daway, Qathan Aswad (1999) karya Muhammad Salman Muhaisan, Daftar al-Mâ’ (2000) karya Wadî’ Syâmikh, Fî ‘A’âlî al-Kalâm (2000) karya Nashîr asy-Syaikh, al-Barasîm (2001) karya ‘Abd al-Husein Barasîm, Lâ Ahad bi Intidzâri Ahad (1999), Sa‘âdât Sayyi’ah ash-Shait (2001),  karya Jamâl Jâsim Amîn, dan Hiyâd al-Marâyâ (2001) karya Muhammad Darwîsy ‘Alî.


[1] Ibn ‘Arûs (lahir 1780) merupakan penyair legendaris Mesir yang hidup di masa dinasi Utsmani dan menulis puisi-puisinya dengan bahasa Arab dialek Mesir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.