Kekuatan Bahasa Arab

0
335

Jurji Zaydan dalam bukunya al-Lughah al- Arabiyyah Kain hay mendefinisikan bahasa sebagai ka’in hay (entitas atau organisme yang hidup). Kekhawatiran akan masa depan bahasa Arab yang hari ini diperingati hari internasionalnya (18 Desember) menjadi perhatian serius para pengambil kebijakan dan ahli di negara-negara Arab dan sebagian dunia muslim. Diskusi, seminar, serta publikasi mengenai hal ini juga kerap terdengar dari kawasan itu terutama dalam konteks ’’al-nahdhah’’, kebangkitan Arab.

Keterpinggiran bahasa Arab tidak lepas dari sejarah yang panjang. Kekalahan demi kekalahan imperiumimperium Arab-Islam membawa dampak signifikan terhadap nasib bahasa itu. Bahasa Arab tak lagi menjadi bahasa pemerintahan dan birokrasi imperium-imperium besar. Ini tentu berdampak sangat luas terhadap posisi masyarakat yang saat itu didominasi kehidupan politik dan militer. Yang saya maksudkan adalah militer menjadi faktor sangat penting terhadap sektor kehidupan lain. Pada masa selanjutnya terutama di masa tiga kerajaan besar, bahasa Arab memang tetap dihormati sebab itu adalah bahasa agama.

Namun, kesalahan ucap atau semacamnya berkembang sangat kuat dalam pengunaan bahasa Arab pada masa itu. Ini terutama akibat dominannya bahasa non Arab milik penguasa dalam kehidupan terutama di sektor-sektor strategis. Yang lebih penting lagi adalah pergerseran pusat peradaban yang tak lagi di wilayah-wilayah negeri Arab- Muslim. Peralihan pusat ’’peradaban’’ dari Timur ke negeri-negeri Eropa Barat semakin meminggirkan nasib bahasa Arab. Bahasa Arab secara perlahan tak lagi menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang strategis, apalagi di bidang teknologi. Ini memang kekalahan telak dalam proses peminggiran bahasa Arab. Derita bahasa Arab belum berhenti sampai di situ.

Pada awal abad 20, seluruh wilayah penutur bahasa Arab sudah dikuasai penjajah Eropa terutama Inggris dan Perancis. Sebagai negeri yang terjajah oleh orang asing, nasib bahasa ’’pribumi’’ semakin mengenaskan. Penjajah tentu berupaya mendesakkan bahasa dan kebudayaan mereka secara masif dan ektensif. Itu berarti penggunaan bahasa Arab semakin tergerus.

Demikian pula dengan nasib negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang rata-rata memiliki perhatian dan kepedulian terhadap bahasa Arab, setidaknya karena alasan agama. Mereka sudah masuk ke dalam dekapan penjajah lebih awal. Pada abad ke 19, seluruh negeri berpenduduk mayoritas Muslim di luar Timur Tengah sudah berada dalam dekapan penjajah Eropa. Dan yang lebih memprihatinkan adalah proses intensifkasi dan masifikasi interaksi global akibat mediamedia baru saat ini.

Banjir informasi yang menggunakan bahasa asing yang lebih kuat masuk ke wilayah-wilayah publik dan prifat bangsa Arab dan juga umat Islam secara mudah. Istilah-istilah asing bahkah rangka bahasanya (sintaksis-morfologis) demikian dominan dalam kehidupan kebahasaan di negeri-negeri Arab sekarang.

Pertahanan bahasa Arab praktis hanya pada statusnya sebagai bahasa agama Islam. Bahasa Arab standar (klasik) dipakai dalam ritus-ritus keagamaan dan juga kajian-kajian keislaman di lembaga-lembaga pendidikan tradisional. Sementara di luar itu, penutur Arab pun sudah menggunakan bahasa non-standar seperti bahasa Mesir, Saudi, Darijah untuk mereka yang berada di Arab Barat, dan sebagainya.

Pertahanan

Namun, bahasa Arab memiliki kekuatannya sendiri. Di samping kekuatan intrinsik bahasa itu yang cukup simpel, konsisten, dan mampu meyerap perkembangan peradaban. Ada faktor ektrinsik yang mendukungnya ketahanannya. Pertama, fanatisme orang Arab terhasap bahasanya sangat kuat. Bahasa Arab adalah identitas utama kultur Arab. Dan, masyarakat Arab sangat membanggakan itu. Menurut Bernard Luwis, tak ada bangsa di dunia ini yang begitu terpukau dengan bahasanya sendiri melampaui orang Arab. Bahasa Arab bagi mereka adalah identitas dan kebanggaan.

Kedua, sebagaimana disebutkan di atas, bahasa Arab adalah bahasa agama. Ketiga, ada upaya serius dan sistematis dari negaranegara Arab kontemporer untuk menangkis penetrasi budaya asing yang semakin kuat.

Kebijakan di Suriah misalnya menerbitkan undang-undang bahwa pelanggaran terhadap penggunaan bahasa ini untuk tempattempat umum seperti institusi pemerintah atau tempat usaha bisa berakibat sangsi berat seperti penutupan tempat usaha atau pencabutan izinnya. Demikian pula di sejumlah negara Arab lain seperti Irak, Mesir, dan seterusnya. Kendati di dalam praktik, memang hal ini tak mudah apalagi di negeri-negeri yang aparatnya mudah disuap.

Keempat, globalisasi memang menciptakan pergaulan masif antar penutur Arab dengan warga lainnya baik melalui dunia virtual maupun nyata. Hal ini ternyata tak mendorong pada peleburan identas bahasa mereka. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya yaitu menguatnya kesadaran dengan identias mereka.

Siapa sesungguhnya mereka di tengah pergaulan itu, maka jawabannya adalah ’’saya berbahasa Arab’’, suatu kesadaran baru mengenai bahasa mereka. Dan ini bahkan terjadi di kalangan orang Arab yang telah bermigrasi ke berbagai wilayah di dunia terutama Eropa dan Amerika Serikat.

Kelima, dukungan bahkan inisiatif awal sangat kuat datang para ilmuwan dan ahli bahasa mereka. Pemikiran dan gerakan mereka terinstitusionalisasi dalam banyak kebijakan pemerintah untuk membela bahasa Arab, serta termanifestasi dalam lembaga-lembaga semacam Majma al-Lughah. Tugas lembaga itu adalah mengontrol ’’membanjirnya bahasa asing’’ dalam bahasa Arab dengan tujuan mempertahankan bahasa Arab.

Keenam, cepatnya perkembangan populasi Arab. Sejauh ini, populasi Arab termasuk yang paling cepat. Tak hanya di negeri-negeri Arab tetapi juga di Eropa dan Amerika. Bahkan, kelompok nasionalis Eropa dan Amerika sangat cemas dengan ’’ancaman’’ demografis Arab.

Hal itu juga terjadi di Israel di mana jumlah penduduk Arab bertambah secara cepat sementara mereka sangat lambat. Ketujuh bahasa Arab telah memeroleh pengakuan sebagai salah satu bahasa resmi PBB. Ini sesuai dengan ketetapan MU PBB No 3190 yang diterbitkan pada tahun 1973. Bahkan tanggal tersebut (18) Desember kemudian juga ditetapkan sebagai hari internasional bahasa Arab. Ini tentu fakta yang sangat penting bagi pengembangan bahasa Arab ke depan.

Mempertimbangkan itu semua, survival bahasa Arab sebagai bahasa ’’yang hidup’’(dalam terminologi) Jurji Zaydan, sangatlah kuat. Kendati penetrasi bahasa-bahasa kuat dunia seperti Inggris dan Perancis dan mungkin tak lama lagi China dan India demikian gencar. (Tulisan ini pernah dimuat di Suara Merdeka, 18 Desember 2015)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.