Timur Tengah Setelah ISIS

0
513

Seperti diduga, kemenangan “negara” horor ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Irak dan Suriah tak bertahan lama. Kekhilafahan teror itu sudah menjelang runtuh sebelum benar-benar berkembang. Di Irak, mereka semakin terdesak ke utara dan barat. Sedangkan di Suriah, mereka mengalami nasib yang sama: dikepung kekuatan lokal, kawasan, dan internasional.

Fallujah akhirnya berhasil direbut kembali oleh tentara Irak. Dua basis utama ISIS yang tersisa, Raqqa di Suriah dan Mosul di Irak, ada kemungkinan tak lama lagi akan jatuh juga. Sejumlah pemimpin mereka diyakini telah tewas. Dan, hari-hari ini, sang Khalifah ISIS Abu Bakar al-Baghdadi dikabarkan juga tewas di Raqqa akibat serangan udara sekutu. Jika berita ini benar, ini adalah titik penting dalam perang melawan ISIS selama dua tahun terakhir.

Penggantian nama dari ISIS ke IS (Islamic State) dua tahun lalu sebenarnya mengandaikan ambisi kekuasaan yang mereka cita-citakan membentang sangat luas. Bukan hanya di Irak dan Sham (Suriah, Libanon, Palestina, Yordania). Nama IS mengandaikan wilayah yang jauh lebih luas, yaitu negara Islam di seluruh dunia Islam. Kekuasaan yang mereka inginkan melampaui luasnya imperium-imperium besar di masa pertengahan. Wilayah itu meliputi seluruh dunia Islam, dari Indonesia hingga Maroko dan sekitarnya.

Faktanya, mereka gagal mempertahankan wilayah kekuasaan mereka yang hanya meliputi kurang dari sepertiga dari wilayah Irak dan Suriah. Mereka masih jauh mencapai target nama ISIS, yakni Irak dan Sham. Apalagi menguasai wilayah dunia Islam yang begitu luas. Mereka sepertinya segera tumbang sebagai sebuah “negara” baru dan kembali menjadi kelompok gerakan seperti sebelumnya.

Pada sisi tertentu, kehadiran ISIS sesungguhnya justru telah mempersatukan banyak kekuatan yang selama ini saling berkonflik di Timur Tengah, terutama di Irak dan Suriah. Mereka berkonflik dalam banyak hal, tapi mereka semua bersepakat akan bahaya dan ancaman nyata dari ISIS. Perang melawan ISIS adalah ijma’ (konsensus) yang telah menyatukan Timur Tengah yang selama ini terpecah-pecah.

Tak kurang dari aktor-aktor besar, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Barat, Iran dengan seluruh kekuatan Syiah yang berada dalam orbitnya, Saudi dengan jaringan salafinya bersama negara-negara monarki lain, Turki-Qatar bersama jaringan Ikhwani-nya, dan kelompok-kelompok radikal, mereka semua sepakat mengenai bahaya ISIS. Padahal kekuatan-kekuatan itu hampir saling berbenturan atau berkontestasi satu dengan lainnya hampir dalam semua konflik besar di Timur Tengah, baik di Irak, Suriah, Palestina, Mesir, Yaman, Bahrain, Libya, maupun di Tunisia, dan lain-lain.

“Tumbangnya” ISIS sebagai kekuatan besar berarti hilangnya salah satu pemersatu kekuatan-kekuatan itu. Konflik antara kekuatan-kekuatan itu dikhawatirkan akan kembali terjadi atau berlanjut sebagaimana sebelum ISIS ada. Konflik itu meliputi perang antara jaringan Sunni pimpinan Saudi-Qatar versus jaringan Syiah pimpinan Iran di Irak, Suriah, Yaman, dan secara terbatas di Libanon. Kelompok penguasa anti-Ikhwan pimpinan Mesir dan Saudi versus jaringan Ikhwani pimpinan Turki dan Qatar yang mewarnai konflik di Mesir, Palestina, dan Tunisia. Poros konflik lain adalah Israel melawan Hamas-Jihad Islami yang didukung secara politik dan finansial oleh Qatar dan Turki. Israel secara diam-diam, dalam konteks ini, memperoleh dukungan kekuatan-kekuatan anti-Ikhwan di atas. Yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan Kurdi di Irak dan Suriah untuk mendeklarasikan negara sendiri. Sebagian besar konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini mencerminkan konstelasi permusuhan ini.

Terdesaknya ISIS memperbesar potensi kembalinya konflik-konflik itu. Irak dalam waktu dekat ini masih merupakan wilayah di Timur Tengah yang menjadi sorotan dunia. Selain faktor khilafah ISIS yang menuju tumbang, kemungkinan membesarnya isu kemerdekaan Kurdi akan menarik perhatian yang besar. Secara tidak langsung, huru-hara ISIS membawa berkah bagi Kurdi, yakni meningkatnya posisi tawar mereka terhadap Bagdad, Damaskus, dan dunia internasional.

Belum ada kabar tentang konsesi bagi Kurdi atas kesediaan mereka berbaris bersama Bagdad untuk menghadapi ISIS dua tahun lalu. Yang pasti, ada proses dan negosiasi alot untuk meyakinkan Kurdi agar berbaris bersama Bagdad. Dalam konteks itu, mereka juga memperoleh suplai persenjataan modern, latihan, dan pengalaman berperang yang memperkuat tentaranya dan juga mobilisasi rakyat untuk menghadapi ancaman. Ini semua penting untuk persiapan lahirnya sebuah negara Kurdistan merdeka.

Konflik yang juga belum selesai dan berpotensi membesar adalah Libya dan Yaman. Perang milisi di Libya telah membuat negara itu sangat sulit menemukan jalan keluar damai yang bisa dihormati semua pihak.

Di Yaman, konflik Houtsi versus Arab Saudi yang didukung kekuatan Yaman jelas belum menemukan jalan damai. Kendati pemerintah Yaman dan kelompok Syiah Zaydiyyah itu telah mencapai kesepakatan damai, suasana di Yaman masih dalam ketidakpastian. Kelompok Houtsi secara de facto masih menguasai ibu kota dan memiliki negara sendiri di sejumlah provinsi yang lepas dari kontrol pemerintah pusat di ‘Adn. Jalan menuju Timur Tengah yang aman dari perang sepertinya masih panjang. (Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo 28 Juni 2016).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.