Gelar Kepenyairan

0
491

Dalam setiap zaman, penyair itu selalu ada, walau keberadaannya antara satu dan lainnya tak pernah sama. Sosok penyair seperti kehidupan, ada yang bagai bunga, bagai pedang, bagai air, bahkan kehadirannya dianggap tak pernah ada, ia hanya ibarat tangkai yang tak terlihat bunganya, bahkan harumnya tak pernah terasa, tapi ia ada.

Penyair pada setiap zamannya, entah di Barat atau di Timur, atau di antara Barat dan Timur, diberi gelar bukan untuk kebanggaan, tetapi hanya sebagai identitas kepenyairan, mendapatkan julukan bukan untuk disombongkan, tapi untuk mengintip mosaik kehidupannya. Karena setiap julukan memiliki sejarah tersendiri bagi seorang penyair.

Keberadaan julukan atau gelar bagi para penyair hanyalah sebagai pintasan eksistensi mereka. Namun, bagi penyair yang tidak memiliki gelar, atau tidak pernah tersemat dalam kehidupan mereka sebuah julukan, bukanlah sebuah aib atau bukan pula berarti mereka tidak terkenal. Banyak dari mereka yang luar biasa, namun namanya lebih dikenal dari julukannya.

Tulisan singkat ini, hanya ingin mengenalkan julukan atau dalam bahasa dikenal dengan “laqab” dari beberapa penyair Arab, yang sudah berkelindan dengan zamannya, dan memutuskan untuk berkhidmad dengan kesusastraan.

“Al-Mutanabbi” (Yang Mengaku Nabi), Gelar disematkan kepada Abu Tayyib Ahmad bin Husain bin Murrah

“Syair al-Hubb wa al-Mar’ah” (Penyair Cinta dan Perempuan), gelar disematkan kepada  Nizar Qabbani

“Amir Syu’ara’’ (Raja, Pangeran Penyair), gelar dari Ahmad Sauqi

“Sya’ir Saif wa Al-Qalam” (Penyair Pedang dan Pena), gelar dari Mahmud Sami al-Barudi

“’Asyiqul Lail” (Perindu Malam), gelar dari Nazik Malaikah

“Sya’ir Qathrain” (Penyair Dua Negara), gelar dari Khalil Mathran

“Sya’ir al-Khadra’ “ (Penyair Hijau), gelar dari Abu al-Qasim al-Syabi

“Sya’ir al-Nail” (Penyair Sungai Nil), gelar dari Hafid Ibrahim

“Umraul al-Qiis” (Laki-laki Kuat), “Hamil Liwa’ al-Syuara’” (Pembawa Panji Penyair), “Amir Syuara’ al-Jahili” (Raja Penyair Jahiliyah) gelar dari Al-Harist al-Kindi bin Hujar bin Jundah.

“Al-Akhthal”  (Banyak bicara buruk). gelar dari Ghiyats bin Ghaus.

“Syarid” (Tunawisma) gelar dari Yazid bin Dharar al-Qahafani

“An-Nabighah al-Dibayani” (Jenius, menulis puisi secepat kilat, kreatif). gelar dari Ziyad bin Muawiyah bin Ghatfan

“AL-Khunsa” (Yang hidung pesek, pendek) gelar dari Tamadhar bin Amr al-Salmiyah.

“ Al-Mustaqqaab” (Yang Melubangi) gelar dari Al-Aidz bin Muhshan bin Tsa’lab.

“Rummah” (Seutas Tali) gelar dari Ghailan bin ‘Uqbah.

“’Urwah al-Sha’alik” (Mengumpulkan dua Sha’alik) julukan disematkan pada ‘Urwah bin al-Ward

“AL-Mukhaal” (Bercelak) julukan yang diberikan kepada Amr bin Al-ahtam al-Munqari

“Miskin” (Si Miskin). Gelar dari Rabiah bin Amir bin Madhar

“Mudrij al-Rih” (Penunggang Angin) disematkan pada ‘Amir bin Al-Majnun

“Sya’ir Abqar” (Penyair Cerdas) julukan dari Syafiq Al-Ma’luf

“Sya’ir al-Syabab” (Penyair Muda). Julukan dari ‘Adil al-Ghadban

“Badawil al-Jabal” (Badawi Pegunungan) julukan disematkan pada; Muhamamd Sulaiman

“Sya’ir Jandawal” (Penyair Perahu) diberikan pada Ali Mahmud Thaha

“Khunsa’ al-Qurn al-‘Isyrin” (Khunsa’ Abad 20) diberikan pada  Fadwa Tuqan

“al-Sya’ir Al-Qurawi” (Penyair Kampung) diberikan  pada Rasyid Salim al-Khauri

“Sya’ir al-Aruz” (Penyair Nasi/Beras) disematkan pada Syibli bin Yuwakim bin Mashur.

“Abu Salma” (Ayahnya  Salma) disematkan pada Abdul Karim Al-Karmi.

“Al-Bahistah al-Badiyah” (Peneliti, Pengkaji dari Desa) disematkan pada Malak Hefni Nasif

“Abu al-Furat” (Bapak Efrat) disematkan pada Muhammad Mahdi al-Jawahiri.

Julukan-julukan para penyair di atas memiliki sejarah tersendiri, sehingga muncul julukan yang bermacam-macam, bahkan satu penyair memiliki beberapa julukan seperti Al-Harist al-Kindi bin Hujar bin Jundah. Ia memiliki puluhan julukan, diantaranya; “Umraul al-Qais” (Laki-laki Kuat), “Hamil Liwa’ al-Syuara’” (Pembawa Panji Penyair), “Amir Syuara’ al-Jahili” (Raja Penyair Jahiliyah).

Sedangkan penyair besar “Abu Tayyib Ahmad bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar Al-Ju’fi Al Kufi” namanya tidak dikenal, namun lebih dikenal julukannya “al-Mutanabbi”, dan munculnya nama tersebut karena ia dianggap pernah “Mengaku Nabi”, walau  Latar belakang penamaan tersebut, muncul dengan berbagai versi, versi lainnya karena ia mampu mengendalikan unta betina liar yang dimiliki oleh Bani Adi, ternyata ia mampu membuat binatang tersebut jinak, sehingga orang-orang terpana dan mengangapnya  orang kuat seperti Nabi.

Demikian beberapa kisah dan julukan yang tersemat dari beberapa penyair Arab, dan penulis tidak mencantumkan semua penyair dalam coretan singkat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.