Bocah Nizar Qabbani

0
389
Ilustrasi Nizar dan Oidipus

Hadirnya buku Asyhadu An La Imraata Illa Anti (Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau) karya Nizar Qabbani di Indonesia sejak beberapa waktu lalu yang diterbitkan dalam dwibahasa oleh penerbit Basabasi, Yogyakarta, mendapatkan sambutan hangat dan apresiasi dari banyak pembaca. Sebagai penerjemah buku tersebut, tentu saya merasa bahwa segala usaha yang  saya lakukan—dengan segala keterbatasannya—mendapatkan ganjaran yang cukup setimpal. Meski dalam hal ini, saya tidak bisa mengatakan telah puas. Sebab kepuasan itu hanya boleh terjadi dalam percintaan, selebihnya, semua kepuasan hanya akan memcelakakan. Tidak percaya? Anda bisa mencobanya!

Nizar menulis puisi Asyhadu An La Imraata Illa Anti pada tahun 1979 dalam usianya yang ke-56 tahun, lalu terbit pada tahun yang sama dengan judul yang sama pula. Perlu diketahui bahwa dalam usia ini, bisa dibilang Nizar sudah mulai masuk usia senja. Lalu mengapa diksi-diksi yang digunakan dalam puisi ini malah mengisyaraktkan seolah “persaksian cinta” yang digaungkan oleh Nizar tampak seperti hendak ditujukan kepada seorang ibu? Sosok perempuan agung yang membesarkan anak dengan segala kasih sayang dan rasa cinta? Benarkah Nizar hendak melukiskan sosok ibu dalam puisi fenomenalnya ini justru setelah 3 tahun pasca kematian ibunya? Itulah beberapa pertanyaan yang saya pastikan pernah terlintas dalam benak pembaca.

Berikut saya kutip salah satu bagian puisi Nizar dengan diksi yang perlu dipahami secara proporsional:

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا امْرَأَة

تَعَامَلَتْ مَعِيْ كَطِفْلٍ عُمْرُهُ شَهْرَانِ

إِلَّا أَنْتِ ..

Aku bersaksi tiada perempuan
memperlakukanku seperti bocah berusia dua bulan
selain engkau

Meskipun tampak seperti memberikan kesan hubungan romantisme ibu-anak, puisi di atas tidak bisa dipahami sebagai kerinduan seorang anak—dalam usinya yang sudah senja—kepada sosok ibu yang telah meninggalkannya, atau sebuah upaya untuk memutar ulang pita kenangan yang pernah mewarnai masa kecil Nizar. Justru di sinilah dia sedang melepaskan diri dari penggunaan diksi yang mudah terbaca. Dia bahkan mampu menciptakan lompatan yang tidak biasa. Dan pemilihan diksi ini sudah sangat tepat untuk menggambarkan bahwa sang penyair memiliki kedekatan yang unik dengan kekasihnya, Balqis.

Kedekatan tersebut dibangun tidak hanya berdasarkan penyatuan cinta sepasang kekasih yang tengah terbuai dalam puncak asmara, melainkan semesta cinta dihadirkan dengan penuh manja, di mana sang penyair mencitrakan dirinya sebagai seorang bocah tak perdaya. Ia perlu terus mendapatkan pengayoman tulus penuh keibuan. Sehingga maksud dan tujuan Nizar dapat terbaca dengan jelas bahwa ia hendak memosisikan seorang kekasih sebagai sosok “ibu kedua” dan bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidup sang penyair dalam mengarungi berbagai dinamika persoalan krusial di Timur Tengah yang tentunya terus menghantui ketenangannya sebagaimana banyak tergambar dalam puisi-puisinya. Bahkan tidak jarang—di luar segala romantismenya—ia melemparkan sumpah serapah terhadap bangsa Arab.

Sosok “ibu kedua” diciptakan oleh Nizar sengaja untuk memberikan kehangatan lebih yang seharusnya diberikan oleh sang kekasih kepada dirinya. Ia tidak hanya butuh luapan kasih sayang, kemesrahan cumbuan dan keganasan bercinta ala sepasang kekasih. Diakui atau tidak, itu semua hanyalah pemuas hasrat belaka. Dan usianya, kadang tidak bisa bertahan cukup lama. Oleh sebab itu, rasa keibuan dalam diri seorang kekasih nyaris tak bisa dipisahkan dalam kehidupan rumah tangga. Karena jika sang kekasih hanya memiliki rasa cinta tanpa rasa keibuan, ia bisanya hanya akan menggebu-gebu, tapi usianya tidak akan panjang. Meskipun tidak secara implisit, W.S. Rendra pernah mengatakan dalam salah satu puisinya, sekarang aku menyadari://usia cinta lebih panjang//dari usia percintaan.

Tetap menjadi (k)anak-(k)anak, hingga dalam tenggang masa yang tidak bisa ditentukan kapan akan berakhir, itulah salah satu harapan terbesar Nizar. Karena hanya dengan terus menjadi seorang bocah mungil, ia akan menjadi objek curahan kasih sayang dan pastinya, ia juga akan terus dimanja. Coba perhatikan puisi berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لَا امْرَأَة

قَدْ جَعَلَتْ طَفُوْلَتَيْ

تَمْتَدُّ لِلْخَمْسِيْنَ .. إِلَّا أَنْتِ

aku bersaksi tiada perempuan
yang telah mengulur masa kanak-kanakku
hingga setengah abad lamanya, selain engkau

Perempuan yang digambarkan dalam puisi di atas adalah sosok kekasih sekaligus ibu dalam arti ideal sebagaimana yang terkonstruk dalam hasrat-imajinasi

Meskipun ada beberapa kalangan yang menilai bahwa Nizar memiliki kecenderungan yang sama dengan sosok Oidipus dalam mitologi Yunani, justru kita bisa melihat hal berbeda dalam bagian puisinya yang berjudul Kitab Al-Hubb (Kitab Asmara):

أَخْطَأتِ يَا صَدِيْقَتِيْ بِفَهْمِيْ
فَمَا أُعَانِيْ عُقْدَةً
وَلَا أَنَا أُوْدِيْبَ فِيْ غَرَائِزِيْ وَحُلْمِيْ
لَكِنْ كُلُّ امْرَأَةٍ أَحْبَبْتُهَا
أَرَدْتُ أَنْ تَكُوْنَ لِيْ
حَبِيْبَتِيْ وَأُمِّيْ

Engkau telah salah memahamiku, kasih
sebab aku tidak sedang menderita
dan tidak pula memiliki naluri dan impian seperti Oidipus
namun setiap wanita yang aku cinta
ingin kujadikan ia kekasih sekaligus ibuku

Oidipus, salah satu mitologi Yunani yang mengilustrasikan sebuah tragedi di mana sebelum ia mengawini ibunya, Iokaste, terlebih dulu ia membunuh ayahnya sendiri, Laios di tengah perjalanan tanpa sadar bahwa dia adalah ayahnya. Jelas dalam konteks ini, Nizar tidak mau disamakan dengan sosok Oidipus yang mengalami tragedi mengerikan dalam hidupnya. Ia bukan pribadi dalam ruang kosong, yang tidak tahu sejarah asal muasalnya. Sehingga ia tidak memiliki naluri dan impian seperti Oidipus dalam arti bahwa kecenderungan rasa cinta pada sosok “ibu kedua” dalam diri kekasihnya hanyalah bentuk ekspresi yang menolak puas hanya pada (per)cinta(an) semata.

Dalam aliran psikoanalisis Sigmund Freud dikenal istilah Oedipus Complex, sebuah kecenderungan bawaan anak laki-laki yang memiliki ketertarikan pada sosok ibu, hingga dalam batas hendak menempati posisi seorang ayah. Tetapi kecenderungan itu terhalang karena sosok ayah masih tampak begitu berkuasa dalam kasta rumah tangga. Akhirnya kecenderungan itu hanya terbawa dalam imajinasi dan tidak pernah mengalami lompatan berarti. Dalam kasus Nizar, ia menolak untuk disamakan dengan segala konsep dan bayang-bayang Oidipus dalam bingkai gejala psikologis di atas. Bahkan sebaliknya, malah kekasihnya yang dijadikan ibu dengan segala imajinasi dan pemaknaan spekulatifnya.

Ibu Nizar Qabbani bernama Fayza Aqbiq, meninggal pada tahun 1976. Diketahui bahwa Nizar sangat terpukul hingga puncaknya ia menulis puisi Khams Rasail Ila Ummi (Lima Surat untuk Ibuku) yang termaktub dalam dua buku puisinya sekaligus, dalam buku Al-Rasm Bi Al-Kalimat (Menggambar dengan Kata) dan Ahla Qashaidi (Sajak Terindah). Kedua buku itu sudah terbit beberapa tahun sebelumnya. Maka dengan sendirinya, interpretasi “ibu” dalam “syahadat” cinta Nizar otomatis terbantahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.