Puisi Arab Modern: Dari Abad Ke-19 Hingga Abad Ke-21 (Bagian V)

0
384
Foto Mahmoud Darwish, Mahdi al-Jawahiri dan Samih Qasim

Tanggal 1 September 1939 Perang Dunia II bermula. Perang ini berlangsung hingga 14 Agustus 1945. Selama perang berlangsung tidak sedikit dari para penyair Arab yang merekam kejadian ini dalam karyanya. Sebagai bentuk rasa keprihatinannya, mereka juga menyerukan perdamaian dalam puisinya. Di antara mereka seperti ‘Alî Mahmûd Thâhâ (Mesir) dengan sajaknya “Âm Jadîd”, Muhammad Al-Asmar melalui sajaknya “Al-Harb Fî ‘âmihâ As-Sâdis”, Muhammad ‘Imâd dengan sajaknya “Mîtsâq As-Salâm”, Mahmûd Ghanîm dengan sajaknya “Harb Ar-Radzîlah” dan “Fajr As-Salâm”, dsb.

Pasca Perang Dunia II, ada pandangan dari beberapa penyair baru bahwa aliran simbolisme hanyalah pameran kepandaian seni untuk seni yang tak berarti bagi kehidupan manusia. Dan berbarengan dengan peristiwa Nakbah pada tahun 1948 di Palestina, gerakan realisme Arab mulai tumbuh.

Di Irak, gerakan realisme muncul sekitar tahun 1948. Di Irak gerakan realisme ini dipelopori oleh Muhammad Mahdi Al-Jawahiri (1900-1997) yang dulu beraliran neo-klasik. Di antara penyair realis lainnya yang patut disebutkan di antaranya adalah Sulaiman Al-‘Îsâ (1921-2013) (Suriah), Abdullah Al-Bardûniy (1929-1999) (Yaman), Ahmad Muhammad Zain As-Siqâf (1919-2010) (Kuwait), Muhammad Al-Hawâriy (Maroko), Tâj As-Sirr Al-Hasan (1935-2013) (Sudan), Jîlî Abdur Rahmân (1931-1990) (Sudan), dan Muhammad Miftah al-Fayturi (1936-2015) (Sudan).

Titik balik dari peristiwa Nakbah 1948 di Palestina, telah melahirkan karya-karya puisi dari para penyair Palestina berbakat. Peristiwa-peristiwa tersebut telah membuat para penyair melahirkan puisi perlawanan (syi’r al-muqâwamah). Di antara mereka ada Abu Salma (1906-1980), Jabra Ibrahim Jabra (1919-1994), Tawfiq Shâyig (1923-1971), Kamâl Nâshir (1925-1973), Salmâ Al-Khadrâ’ Al-Jayyûsi (1926-  ), Taufiq Zayyad (1929-1994), Salim Jubrân (1941-  ), Samîh Al-Qâsim (1939-2014), dan Mahmûd Darwîsy (1941-2008). Meskipun sebenarnya istilah puisi perlawanan (syi’r al-muqâwamah) itu sendiri baru diciptakan oleh Ghassan Kanafani (1936-1972) di sekitar tahun 1960-an.

Pada awal tahun 1950-an tampak sebuah letupan perpuisian dan kreativitas kesusastraan lainnya di Irak. Yang paling terkemuka di antara generasi baru dari penyair Irak pada masa ini adalah Badr Shakir As-Sayyab (1926-1964) yang cenderung simbolis dan ‘Abd al-Wahhab Al-Bayyati (1926-  ) yang condong realis. Selain sama-sama berpandangan kiri, keduanya juga turut terlibat dalam eksperimentasi puisi bebas Arab sebagai lawan gaya neo-klasik. Karya-karya keduanya juga syarat dengan puisi yang didedikasikan untuk negeri tercintanya Irak, baik itu dari sisi sosial maupun politik. Selain itu keduanya juga terlibat dalam usaha penulisan mistis-simbolik dengan meminjam tema-tema mitologi dari negerinya yang berkembang pada masa pra-Islam.

Para kritikus sastra Arab memang banyak menyoroti puisi-puisi As-Sayyab, di mana beberapa antologinya yang tebal sudah diterbitkan bersamaan dengan terbitnya buku-buku studi sastra tentang dia dan karyanya. Puisi-puisinya sekitar tahun 50-an dinilai banyak terpengaruh oleh penyair-penyair kelompok Apollo dan Mahjar yang lebih romantik – barangkali termasuk juga pengaruh Shelley dan Keats – tetapi dari segi teknik ada yang membandingkannya dengan Eliot.

Puisi-puisinya memang dalam, banyak diwarnai bahasa semiotik, hidup, dan indah, tetapi tidak mudah ditangkap pembaca biasa (awam). Dari akhir tahun 1930-an sampai akhir  tahun 1960-an kebanyakan dari para penulis kenamaan di Irak cenderung ke arah politik kiri, dan beberapa di antara mereka dekat dengan Partai Komunis.

Di Irak, yang pada sekitar tahun 50-an menjadi tempat persinggahan Marxisme yang cukup subur dan memaraknya paham nasionalisme yang menggebu-gebu, as-Sayyab membuat pembaharuan yang cukup mengejutkan ketika kemudian ia menguak ke depan dengan membawa puisi-puisinya yang banyak menyelip ayat al-Qur’an ke dalamnya, atau kadang rima, simbolisme, atau nada musiknya; bahkan irama, gaya, dan kata-kata al-Qur’an yang terasa kuat sekali pantulannya. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam al-Qur’an dan dalam tradisi Islam sering ditimbulkannya kembali untuk menggantikan mitologi dan pengaruh lain. Sungguhpun ia bertahan dengan nilai lama yang lalu diperbaruinya, ia juga terbuka menyerap puisi-puisi Eropa modern.

Sebagaimana As-Sayyab, Al-Bayyati pada masa awal kepenyairannya juga masih mengikuti tren populer romantik. Namun pada karya-karya selanjutnya, tampaknya ia memilih jalan realis sosialis. Al-Bayyati menulis puisi dengan bahasa yang sederhana. Kiasan dan elemen puisi tradisional ia padukan dengan pepatah dan perkataan populer. Dalam puisinya, ia banyak menyerukan perubahan dunia secara revolusioner. Dalam puisi realisnya, tak jarang pula ia memuji bangkitnya nasionalisme Arab dan perjuangan kaum buruh. Al-Bayyati adalah salah seorang penyair yang turut serta meletakkan pondasi gerakan puisi modern.

Puisinya menjadi terkenal di antaranya karena keindahan dan getaran maknanya yang ditulis secara bertahap dari perjalanan pengembaraannya di berbagai ibu kota. Juga dikarenakan oleh pergaulannya yang luas dengan banyak sastrawan dan penyair sekaliber internasional, seperti penyair Turki Nâzhim Hikmat dan Asbania Rafâîl al-Burtî.

Pada karya-karya terakhirnya, puisinya juga terkenal karena adanya perpaduan antara warisan-warisan budaya dan simbol-simbol sufistik serta mitologi yang membentuk salah satu karakteristik penting dalam puisi dan  kemodernannya. Ia memanfaatkan simbol-simbol tersebut untuk melakukan kritik sosial dan mengekspresikan idealismenya.

Penyair wanita terkemuka pada generasi yang sama adalah Nâzik al-Malâikah (1923-2007). Nâzik yang cenderung romantik termasuk pembaharu pertama dalam puisi Arab modern dengan memunculkan puisinya “Al-Kûlîrâ” pada tahun 1947. Puisi ini muncul bersamaan dengan puisinya Badr Syâkir as-Sayyâb yang berjudul “Hal Kâna Hubban”. Sehingga kedua puisi tersebut dianggap sebagai pendobrak pertama gerakan pembaharuan dalam puisi Arab modern atau yang lebih dikenal dengan puisi bebas (Asy-Syi’r Al-Hurr).

Selain itu, di Irak ada juga Buland Al-Haidarî (1926-1996) dan Sa’di Yusuf (1934-  ). Al-Haidarî merupakan penyair keturunan Kurdi. Ia termasuk di antara penyair yang beraliran realis yang juga turut andil besar dalam upaya modernisasi puisi Arab. Karya-karyanya banyak diilhami oleh pengalaman pribadi dan juga kesadaran sosialnya. Terinspirasi oleh karya sastrawan-sastrawan Eropa seperti Pound, Eliot, Yeats, dan Auden, Al-Haidarî berusaha untuk melepaskan diri dari belenggu konvensi puisi Arab tradisional yang cenderung ketat dengan aturan matra dan rimanya, untuk kemudian menulis puisi bebas yang liris dan emosional.

Sementara itu, Sa’di Yusuf merupakan penyair Irak berideologi sosialis. Ia sudah terlibat dalam dunia politik sejak usia dini. Perjalanan ilegalnya ke konferensi pemuda Moskow di tahun 1957 membuatnya dipaksa harus meninggalkan tanah airnya menuju ke Kuwait. Setelah Revolusi Irak 1958, ia kembali ke tanah airnya. Tapi tak lama kemudian ia dipenjara, lalu meninggalkan Irak menuju Aljazair. Ia pun hidup berpindah-pindah mulai dari Suriah, Lebanon, Yaman, Prancis, Yordania, Yunani, Siprus, dan terakhir tinggal di London.

 Dalam karyanya ia sangat dipengaruhi oleh gerakan puisi bebas yang diusung oleh Badr Shakir As-Sayyab dan ‘Abd al-Wahhab Al-Bayyati. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Sa’di Yusuf banyak menulis puisi-puisi beraroma politik. Ia sangat simpati terhadap gerakan anti-imperialisme dan pada saat itu menggabungkan diri dengan kelompok sosialis dan komunis. Namun pada pertengahan kedua tahun 1970-an, ia mulai berhenti menulis puisi politik dan beralih pada puisi nostalgia. Bahasa puisi Sa’di Yusuf yang dicirikan dengan realisme yang liris terkesan sangat autentik dan langsung apa adanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.