Potret Kegagalan Menjadi Manusia Sejati dalam Cerpen Taufiq Al-Hakim

0
176

Taufiq Al-Hakim merupakan salah seorang sastrawan terkemuka berkebangsaan Mesir yang lahir di Alexandria pada tahun 1897. Selain menulis puisi dan cerpen, ia juga menulis naskah drama. Salah satu kumpulan cerpennya yang terkenal adalah Arinillah.

Arinillah merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Taufiq Al-Hakim yang terbit pada tahun 1953. Kumpulan cerpen ini banyak menghadirkan cerita yang mengusung nilai-nilai keagamaan, mulai persoalan seputar tauhid, politik, hingga problematika kehidupan yang kerap ditemukan di tengah-tengah masyarakat, terutama di kalangan umat Islam Arab-Mesir. Seperti yang diceritakan dalam cerpen berjudul “Negeri Burung”, “Mukjizat”, “Karamah”, Konferensi Cinta, dan lain sebagainya.

Cerpen-cerpen tersebut menghadirkan fenomena yang sangat dekat dengan masyarakat, termasuk di dalamnya tentang politik, cinta dan jurnalisme dalam potret keislaman. Al-Hakim bercerita dengan menggunakanserta alur yang sangat sederhana, sehingga pembaca dengan cepat dan mudah memahami isi yang ingin ia sampaikan. Salah satu cerpen yang menarik untuk disimak secara saksama berjudul Arinillah.

Cerpen ini menceritakan tentang usaha seseorang untuk sampai pada tahapan makrifatullah. Namun untuk sampai pada tahapan tersebut tentu membutuhkan proses yang sangat panjang, itu pun harus berdasarkan rahmat yang diberikan oleh Allah langsung. Taufiq Al-Hakim mencoba mengurai kembali rahmat Allah berupa al-mukasyafah dan al-musyahadah. Hal ini diawali dengan sebuah pertanyaan anak kecil kepada ayahnya, “innaka ya abiy, tatahaddatsu katsiran ‘anillah. Arinillah!!!”. Mendengar pertanyaan tersebut, tentu tidak hanya seorang ayah yang akan merasa terkejut, bahkan para filsuf lintas abad pun juga belum tentu mampu menunjukkan keberadaan Allah, kecuali hanya berdasarkan perspektif-spekulatif yang cenderung bersifat pengalaman. Sementara pengalaman yang dihadapi setiap manusia selalu berbeda, terutama dalam kaitannya dengan perjalanan dan persaksian keberadaan Allah.

Seorang ayah dalam cerpen ini dihadirkan tidak memiliki pengalaman mengenai keberadaan Allah, sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan anak tersebut. Dengan demikian, ia melakukan perjalanan ke suatu kota untuk mencari jawaban dengan bertanya kepada masyarakat kota, tetapi tak seorang pun mampu menunjukkan keberadaan Allah. Kemudian dengan penuh penyesalan, sang ayah pergi menjumpai para ulama yang dikenal kealimannya. Namun sang ayah belum juga mendapatkan jawaban atas pertanyaan anaknya yang selalu membenak itu, ia hanya diberi semacam petunjuk dari selah seorang ulama tersebut, “Pergilah ke pinggir kota. Di sana, kamu akan menemukan seorang kakek tua, ahli ibadah. Setiap ia meminta dari Allah, pasti permintaannya itu dikabulkan. Mungkin, di sanalah kamu akan mendapatkan seluruh pemecahan masalahanmu!”.

Kemudian sang ayah belajar kepada seorang kakek yang dianggap memiliki pengetahuan sekaligus pengalaman mengenai keberadaan Allah. Namun perjumpaan keduanya juga tidak membuahkan hasil seperti apa yang diharapkan oleh sang ayah, karena ternyata sebuah persaksian itu hanya bisa dicapai oleh setiap individu manusia atas dasar rahmat Allah. Sebesar apa pun usaha manusia dengan berbagai bentuk tarekatnya, jika tidak mendapatkan rahmat dari Allah, maka ia tidak akan pernah sampai kepada-Nya atau dengan istilah mencapai pada pengalaman al-mukasyafah dan al-musyahadah.

Setelah kakek berdoa kepada Allah, memohon agar sang ayah mendapatkan rahmat berupa persaksian, meskipun hanya seberat setengah biji jagung, tak lama kemudian sang ayah tersebut mencapai pada tahapan persaksian yang ia harapakan diawali dengan ber-kholwat (menyepi di atas gunung), bahkan ia juga meninggalkan keluarganya: anak dan istrinya selama berhari-hari. Di atas gunung itulah, sang ayah mendapatkan rahmat berupa cinta kepada Allah. Cinta yang telah mengakar dalam dirinya, membuat ia lupa kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan, “Demi Allah, seandainya kalian memotong dirinya dengan gergaji sekalipun, ia tidak akan menyadari hal itu!”.

Pencapaian sang ayah di atas senada dengan konsep manunggal ing kawula gusti, yaitu mengalami semacam peleburan antara dirinya sebagai manusia dengan sang pencipta, meskipun bagi penulis pencapaian semacam ini bisa dikatakan ‘gagal’ menjadi manusia sejati, sebab ia yang seharusnya mengemban amanah sebagai khalifatuh fil al-ardl, tetapi ia mengabaikannya. Misalnya, ia memiliki istri dan anak yang menjadi tanggung jawab untuk menafkahinya, sedangkan selama ia tenggalam di dunia fana’, ia malah tidak pernah mempedulikan keluarganya yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini menunjukkan bahwa ia hanya berhenti pada tahapan hubungan vertikal-manusia dengan Allah, sementara ia mengabaikan hubungan yang horizontal-manusia dengan sesamanya.

Jika ditelisi lebih jauh lagi, yaitu mengacu pada sifat nabi Muhammad sebagai panutan umat Islam, ternyata ia sangat seimbang dalam menjalani kehidupannya. Ia tidak hanya berhenti pada pencapaian persatuan dengan Allah, tetapi segala sesuatu yang ada di sekitarnya, termasuk juga manusia, sebagai bagain jalan menunju Allah. Sederhananya, ada keseimbangan antara hubungan yang bersifat vertikal dan horizontal.

Dari sini penulis akan menarik satu pemahaman mengenai cerpen ini, yaitu setidaknya ada tiga klasifikasi penting mengenai pengetahuan umat Islam tentang keberadaan Allah yang ditebarkan Taufiq Al-Hakim dalam cerpen ini, yaitu umat Islam yang berada pada tahapan awam, tidak mengetahui sekaligus tidak mau tahu mengenai keberadaan Allah; para ulama, seorang muslim yang memiliki pengetahuan tetapi belum tentung mencapai pengalaman terhadap pengetahaunnya terutama dalam kaitnanya dengan keberadaan Allah; seseorang yang dianggap sampai pada al-mukasyafah dan al-musyahadah.

Lebih lanjut, pandangan mengenai seseorang yang mendapat rahmat Allah berupa persaksian dalam cerpen ini sebagai bagian dari tema utamanya, tetapi tampak masih rancu. Misalnya dapat dilihat pada diri tokoh si kakek yang dianggap sebagai waliyullah, tetapi ia sendiri meragukan pencapaiannya setelah melihat pencapaian sang ayah, seperti yang ia bisikkan pada dirinya sendiri, “Apakah kamu dapat melihat? Cahaya Allah yang hanya seberat setengah biji jagung telah mampu menghancurkan struktur tubuh manusia dan menghancurkan susunan jaringan saraf manusia!”. Lantas siapakah sebenarnya yang sudah sampai pada diri yang sejati, sang ayah atau si kakek?

Kopas, Yogyakarta, 19 Januari 2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.