Membangun Literasi Al Quran di Tanah Air

0
353

Sejarah mencatat, metode belajar baca huruf Al-Qur’an di tanah air selama beberapa dekade atau bahkan lebih satu abad sebelum tahun 1970-an “didominasi” oleh metode turutan (al-Qa’idah al-Baghdadiyah). Materi dalam metode ini dimulai dari pengenalan nama-nama huruf hijaiyah, harakat, hingga bacaan surat Juz Amma (juz 30 Al-Qur’an).

Pengalaman belajar penulis sewaktu kecil juga menggunakan metode belajar itu. Hampir bisa dipastikan, metode ini digunakan oleh sebagian besar umat Islam di tanah air sebelum tahun 1970 atau 1980-an. Di banyak daerah terutama di luar Jawa Tengah, dominasi metode al-Baghaddi itu bahkan berlangsung lebih panjang, menembus tahun 1990-an.

Ciri metode ini adalah penekanan yang kuat terhadap ilmu atau pengetahuan, bukan pada keterampilan (maharah/skill) membaca. Oleh karena itu, pelajaran paling awal dari metode ini adalah pengenalan nama-nama huruf Arab (hijaiyah), bukan dengan cara praktik membaca huruf itu. Materi selanjutnya juga demikian, nama-nama harakat juga dikenalkan secara rinci bergandengan dengan huruf itu (mengeja).

Ketika anak atau pembelajar membaca kata-kata yang ada dalam buku itu maka mereka akan mengeja nama-nama setiap huruf beserta nama harakatnya. Baru kemudian dipelajari bagaimana hasil bacaannya. Sekali lagi, ciri paling khas dari metode ini adalah pendekatan yang kuat terhadap obyek sebagai pengetahuan, bukan sebagai kemampuan.

Implikasinya tentu mudah ditebak. Anak-anak hasil “didikan” metode ini mengetahui dan bisa menyebutkan nama-nama huruf berikut nama-nama harakat yang sedang dibaca dengan baik.Tetapi mereka memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kemampuan membaca. Singkatnya, mereka banyak mengetahui tentang huruf-huruf Al-Qur’an tetapi sedikit kemampuan untuk bisa membaca, itu pun setelah belajar cukup lama. Tak sedikit, mereka akhirnya berhenti belajar dan tak mampu membaca Al-Qur’an selama hidupnya.

Kendati demikian harus diakui, jasa metode ini bagi perjuangan melek baca Al-Qur’an di tanah air begitu besar. Betapapun berbagai kelemahan itu, metode ini dicatat dalam sejarah telah melahirkan ulama-ulama besar, para kiai dan tokoh agama, para muallif kitab, para ahli tafsir dan penghafal Al-Qur’an dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.

Popularitas Qaidah Baghdadiyyah tak terbatas di Indonesia. Di sebagian dunia Islam di luar Indonesia, Qa’idah Baghdadiyyah juga sangat dominan, dan di sebagian dunia Islam yang lain Qa’idah Makkiyah yang banyak digunakan.

Revolusi Qira’ati

Di sisi lain, “dominasi” panjang metode ini mencerminkan suatu keprihatinan yang dalam. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tak kunjung melahirkan metode-metode “besar” yang bisa menjadi alternatif atau bahkan pengganti dari metode itu. Tiga puluh tahun paska kemerdekaan RI, muslim Indonesia belum mampu melahirkan metode baca baru yang revolusioner hingga kemudian lahir metode Qiraati.

Lahirnya metode Qiraati pada tahun 1960-70-an di Jawa Tengah menandai sejarah baru dalam perjalanan metode belajar baca Al-Qur’an di tanah air. Metode ini menawarkan paradigma baru yang begitu tegas bahwa membaca Al-Qur’an itu adalah maharah, skill atau keterampilan, bukan wawasan, ilmu atau pengetahuan semata. Kedua hal ini harus dibedakan.

Oleh karena itu, metode ini pada praktiknya tidak memperkenalkan di awal nama-nama huruf hijaiyah berikut harakatnya sebagaimana metode lama, al-Baghdadi. Dalam metode ini, anak-anak langsung diajari cara membaca huruf berikut harakat itu tanpa mengejanya. Implikasinya memang benar anak kadang kurang tahu pada waktu awal nama-nama huruf hijaiyah dan nama harakat. Akan tetapi mereka sangat cepat dan tangkas membaca deretan kata-kata itu.

Ini tentu sangat menggembirakan sebab tujuan pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah membuat anak mampu membaca Al-Qur’an, bukan membuat anak mampu menghafal nama-nama huruf, harakat, dan mengejanya.

Pencetus metode itu yaitu K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang memiliki komitmen begitu kuat untuk menjaga ketepatan dan kefasihan bacaan Al-Qur’an di tanah air. Oleh karena itu, di tangan dingin beliau, metode ini melahirkan tradisi dan sistem pembelajaran yang begitu ketat baik dari sisi guru, institusi, maupun disiplin dan tatakrama (adab) santri dalam belajar.

Pada titik itulah, metode yang semula menyebar sangat lambat akibat ketatnya “disilplin” pengajaran Al-Quran itu kemudian lambat laun tersebar. Cabang-cabang Qiraati menjalar di berbagai wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan kemudian di kenal luas di tanah air dan beberapa negara manca. Namun, pada titik itu pula persoalan krusial muncul dan sempat memengaruhi penyebaran metode itu. Banyak dari para wakil di berbagai daerah itu kemudian mengaku telah melahirkan metode baru. Mereka menulis ulang metode Qiraarti tersebut, mencetak sendiri buku-buku itu, lalu  disebarkan di kalangan mereka dan masyarakat umum dengan nama selain Qiraati.

Ketatnya sistem pengajaran dan organisasi dan mungkin aspek-aspek lain di luar itu (misalnya ekonomi) seringkali menjadi alasan mereka “memutus” ikatan organisatoris dengan Qiraati pusat dan membangun sistem tersendiri. Faktanya, metode-metode lokal yang jumlahnya sangat banyak itu kecenderungannya merupakan susunan ulang dari Qiraati dengan nama yang berbeda.

Pada umumnya, metode-metode “lokal” ini lebih ringkas daripada Qiraati. Menurut penulis, itu justru kekeliruan paling fatal dari para “penerjemah” ulang metode Qiraati, sebab ruh dasar metode ini adalah latihan dan latihan secara berulang (tikrar).

Kita mencacat, jasa dan pengaruh metode ini bagi pembelajaran baca Al-Quran di tanah air dalam tiga atau empat dekade ini begitu kuatnya. Metode ini adalah pelopor, dan sebagian besar metode-metode lain yang lahir sesudahnya memiliki kesamaan prinsip bahkan kemiripan dalam hal detil dengan metode ini, baik itu diakui ataupun tidak. Oleh karena itu, penulis harus memberikan tribute yang besar kepada gagasan besar dari penulis metode ini dan para pemimpin organisasi pembelajaran ini dalam kepeloporannya dalam metode baru baca Al-Qur’an dengan pendekatan skill.

Penghargaan yang tinggi juga patut kita berikan sebab upaya keras mereka untuk menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an di Tanah Air.  Penulis tak ragu-ragu untuk menyebut tiga dekade terakhir dari sejarah pembelajaran baca Al-Quran di tanah air sebagai era Qiraati, menggantikan era al-Baghdadi yang telah berjalan begitu lama.Wallahu a’lam. Bersambung ke Booming Iqra’.

Booming Iqra’

Setelah Qira’ati, metode Iqra’ datang kemudian. Metode ini disusun oleh KH. Asad Humam yarhamuhullah dari Kota Gede Yogyakarta. Dari sisi materi dan pendekatan, kedua metode ini, Iqra’ dan Qiraati, bisa dikatakan sama. Namun, metode Iqra’ lebih sederhana dan tak mensyaratkan hal-hal yang detil dan dipandang tidak mudah bagi kalangan awam dalam sistem pembelajaran.

Di tengah ketatnya aturan dari Qiraati, metode Iqra’ yang ditulis sekitar 10 tahun kemudian mencuri perhatian khalayak di tanah air. Popularitas metode ini terutama di luar Provinsi Jawa Tengah menjalar sangat cepat. Iqra jelas menyalip qiraati dalam hal popularitasnya. Inilah jasa sangat besar dari penulis dan penyebar metode ini yaitu gerakan masif pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di tanah air.

Hasil anak-anak didik baca Al-Qur’an di era al-Baghdadi dan di masa popularernya Iqra’ sangat berbeda. Kita menyaksikan gejala baru terkait baca Al-Qur’an di tanah air. Anak-anak perkotaan yang mampu membaca Al-Qur’an jumlahnya menjadi sangat besar, berlipat dari masa sebelumnya. Gairah terhadap Al-Qur’an dan kegiatan keislaman juga menguat dengan menjamurnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ, pada awalnya TPA) di berbagai pelosok negeri.

Penulis merasa tak perlu membahas hal-hal sensitif mengenai ada atau tidaknya hubungan material dan metodis antara Iqra’ dan Qiraati, termasuk hubungan personal kedua pengarangnya. Yang pasti, penulis menegaskan keduanya memiliki jasa yang sama-sama besar dalam pembelajaran baca Al-Qur’an di tanah air. Penulis begitu terkesan saat menghadiri pemakanan KH. As’ad Humam. Beliau mengalami gerah fisik yang lama, tetapi justru beliau mengukir jasa besar buat umat yang bermanfaat hingga saat ini.

“Kematangan” Metode Yanbu’a

Metode Yanbu’a dikenal sebagai metode baca sekaligus tulis Al-Qur’an. Gagasan menyatukan baca sekaligus tulis itu dalam skala besar merupakan gagasan baru.  Metode ini kendati datang belakangan, sekitar tahun 2004-an begitu dihormati oleh siapapun. Hal ini disebabkan oleh kualitas dan juga “kelas” penulis dari metode ini. Metode ini ditulis (sesuai yang tercantum dalam buku itu) oleh KH. Mumammad Ulinnuha Arwani, KH. Ulil Albab Arwani, KH. M. Manshur Maskan, dkk kendati bisa saja nama besar itu sebenarnya hanya “dipinjam”. Kedua nama pertama adalah putra K. Arwani, “otoritas” dan mentor para huffadz al-Quran di tanah air. Keduanya adalah pengasuh pesantren Yanbu’a yang telah melahirkan puluhan ribu santri huffadz yang tersebar di berbagai wilayah di negeri ini. Banyak sekali pengasuh pesantren Al-Qur’an di Tanah Air merupakan murid dari pesantren ini, atau muridnya murid pesantren ini, bahkan muridnya murid dari murid pesantren ini.

Dari sisi isi, metode Yanbu’a jelas tak berbeda jauh dari Qiraati terutama dari aspek baca Al-Qur’annya. Kekuatan metode ini terletak pada detil pengetahuan dan informasi yang disampaikan terkait praktik tajwid termasuk materi “gharib” yaitu materi-materi terkait kasus “langka” dalam bacaan. Buku itu sepertinya sesuai dengan disiplin tinggi yang ditanamkan terhadap para santri Yanbu’a. Dari sisi materi atau isi, buku ini begitu matang.

Namun, harus pula diakui, materi yang diberikan dalam buku tersebut sangat padat jika di bandingkan metode lain. Implikasinya, porsi latihannya menjadi sangat berkurang sehingga tak mudah bagi kalangan awam, apalagi untuk anak-anak. Menurut hemat penulis, bagi anak didik pada umumnya, latihan itulah yang seharusnya perlu diperbanyak, bukan materi yang dipadatkan.

Statis

Namun, dari sisi paradigma besar, sejarah metode baca al-Qur’an sekitar tiga atau empat dekade terakhir tak mengalami perkembangan berarti. Semua sudah searah dengan Qiraati kecuali “Mutqin” yang mengembalikan prinsip ulum (ilmu) dulu baru maharah (skill) sebagaimana metode al-Baghdadi kendati dengan basis yang berbeda. Mutqin berbasis kuat pada uraian dan pembahasan Ilmu Tajwid.

Oleh karena itulah, penyusun berupaya mendorong metode baru yang bertujuan ke arah isi al-Qur’an yakni mendorong keterampilan baca sekaligus langsung belajar bahasa Arab.

Ini- kendati sangat sederhana- adalah kebaruan penting dalam tujuan. Penyusun berharap karya itu memberikan alternatif dan jangkauan baru dari metode baca Al-Qur’an. Di samping itu, penulis hendak mengembalikan semangat metode skill yang sesungguhnya yakni dengan memperbanyak latihan. Metode ini menjadi sangat ramah dan mudah bagi anak sebab latihan diperbanyak dan penambahan materi berjalan sangat gradual.

Kendati ada tujuan besar yang “menumpang” yaitu sekaligus belajar bahasa Arab, tetapi itu tidak memberatkan anak sebab dilakukan secara sangat gradual dan include dalam materi baca al-Qur’an. (tulisan ini pernah dimuat Majalah Bangkit edisi Maret dan April 2016).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.