Puisi Arab Modern: Dari Abad Ke-19 Hingga Abad Ke-21 (Bagian IV)

0
337

Seiring dengan perkembangan politik di Mesir yang tak menentu yang juga berdampak pada bubarnya Madrasah Ad-Dîwân, maka kemudian Abû Syâdî berinisiatif untuk membentuk sebuah komunitas sastra yang  memiliki  tujuan untuk: (1) mengangkat puisi Arab dan mengarahkan kegiatan para penyair kepada arah yang lebih progresif, (2) membantu membangkitkan seni di dunia perpuisian, (3) mengangkat derajat puisi baik di ranah sastra itu sendiri, sosial, maupun ekonomi, serta menjauhkan puisi dari eksklusivitas, (4) menumbuhkan solidaritas di kalangan para sastrawan, (5) menentang monopoli dan menciptakan kebebasan berekspresi dalam puisi.[1]

Akhirnya, pada tahun 1932 berdirilah Jamâ’ah Apollo di Mesir yang ditandai dengan terbitnya majalah Apollo edisi pertama pada bulan September 1932. Tak dipungkiri, bahwa berdirinya Apollo pada hakikatnya juga terinspirasi dari Ar-Râbithah Al-Qalamiyyah, meskipun sebenarnya pada tahun 1931 secara kelembagaan Ar-Râbithah Al-Qalamiyyah sudah “tutup usia” karena satu per satu para penyokongnya meninggal dunia. Di antara mereka yang tergabung dalam Jamâ’ah Apollo ini adalah Ahmad Syauqî yang menjabat sebagai ketua, Khalîl Mathrân,  Ahmad Muharram, Ahmad Zâkî Abû Syâdî, dan Ibrâhîm Nâjî (1898-1953), Sayyid Ibrâhîm, ‘Alî Mahmûd Thâhâ, Hasan al-Qâyâtî, dan Hasan Kâmil al-Sayrafî. Tak berselang lama, pada tanggal 13 Oktober 1932, Syauqî meninggal dunia dan kepemimpinan kemudian diambil alih oleh Mathrân.

Para pendiri Jamâ’ah Apollo di atas merupakan penyair-penyair berpengaruh di masanya. Kebanyakan dari mereka tetap merawat kebudayaan Arab, dan tidak menutup mata terhadap kebudayaan Barat. Hal itu dibuktikan oleh Ibrâhîm Nâjî yang dengan baik mampu memadukan antara karya klasik Arab dengan aliran romantisme Barat. Sebagai kritikus, ia telah memberikan kritik yang tajam terhadap puisi dan prosa yang ada, sembari mengemukakan gagasannya untuk memperbaharuinya. Baginya, susunan bahasa puisi dan prosa yang penuh hiasan tak berisi perlu diarahkan pada susunan kata yang penuh makna dan padat isi. Selain Ibrâhîm Nâjî, angota Jamâ’ah Apollo yang juga termasuk deretan penyair beraliran romantik terkemuka di zamannya adalah ‘Alî Mahmûd Thâhâ. Puisi-puisinya sangat halus, romantis, dan religius. Beberapa pengamat beranggapan bahwa ia banyak terpengaruh oleh para penyair romatik Perancis abad ke-19, terutama Lamartine.

Atas pengaruh Ar-Râbithah Al-Qalamiyyah dan Jamâ’ah Apollo, Abul Qâsim Asy-Syâbî (1909-1934) mengembangkan aliran romantik di Tunisia. Bersama kawannya, Muhammad Basyrûsy (1911-1944) dan Muhammad Al-Halyawiy, Asy-Syâbî mendirikan sebuah komunitas yang dinamai Jamâ’ah Ats-Tsâlûts Ar-Rûmansiy. Dari namanya saja sudah sangat jelas bahwa mereka mengambil romantisme sebagai mazhab dan juga tren.

Pada bulan Januari 1933, masyarakat sastra Arab yang tinggal di Brazil mendirikan sebuah kelompok yang terkenal dengan nama Al-‘Ushbah Al-Andalusiyyah. Penggagas ide munculnya kelompok ini adalah Syukrullah al-Jarr. Kemudian dilanjutkan oleh penyair diaspora asal Lebanon Michael al-Ma’luf. Ia mengokohkan kelompok ini dengan pengorbanan keras dan penuh perhatian. Selain Syukrullah al-Jarr, di antara para sastrawan yang bergabung adalah Rasyîd Salim Al-Khûrî, Nazhîr Zaitûn, George Ma’lûf, Taufîq Qurbân, Iskandar Karbâj, Elyâs Farhât, ‘Aql al-Jarr, Habîb Mas’ûd, Anî al-Râsî, Jarjas Karam, Najîb Ya’qûb, Syafîq al-Ma’lûf, Taufîq Dha’ûn, Qaishar al-Khûrî, Nashr Sam’ân, Yûsuf As’ad Ghanim, Yûsuf al-Ba’ainai, dan George Hassûn al-Ma’lûf. Sebagaimana namanya, kelompok ini berusaha menghidupkan kembali kejayaan puisi Andalusia. Dari segi bentuk dan tema mereka banyak mengadopsi dari puisi Andalusia.

Pada pertengahan tahun 1930-an, aliran romantisme terlihat masih terdengar gaungnya meskipun tidak begitu nyaring. Di Lebanon aliran ini masih diikuti oleh Sa’îd ‘Aql (1912-2014) sebelum kemudian beralih ke aliran simbolisme di akhir tahun 1930-an. Penyair Suriah Umar Abû Raisyah (1910-1989) pada tahun 1930 mengembara ke Inggris dan pulang kembali ke Suriah pada tahun 1932. Saat berada di Inggris, ia berkenalan dengan aliran-aliran sastra Barat, terutama aliran romantik Inggris. Para penyair lainnya pada masa ini yang juga cenderung beraliran romantik di masa ini di antaranya adalah Ibrâhîm Thûqân (1905-1941) (Palestina), Fadwa Thûqân (1917-  ) (Palestina), dan Salmâ Al-Khadrâ’ Al-Jayyûsi (1926-  ) (Palestina), Kamal Nasy’ât (1923-  ) (Mesir), Nizar Qabbani (1923-  ) (Suriah), Nâzik al-Malâikah (1923-2007) (Irak), Luthfi Ja’far Amân (1928-1972) (Yaman), dan Munawwar Shamadih (1931-1998) (Tunisia), dan Yusuf Basyir At-Tijani (1912-1937) (Sudan).

Pada akhir tahun 1930-an, tampaknya aliran simbolisme –sebagai pengaruh dari simbolisme Prancis- mulai dilirik oleh para penyair Arab. Aliran simbolisme ini diyakini muncul sebagai protes terhadap kejumudan bahasa dan retorika aliran neo-klasik dan sebagai reaksi terhadap kelemahan romantisme yang dianggap hanya melahirkan puisi-puisi yang kosong, sentimentil yang berlebihan, muram, dan terlalu mengungkapkan subyek pribadi yang berlebihan.

Di Lebanon, Sa’îd ‘Aql (1912-2014) yang sebelumnya beraliran romantik, mulai beralih ke aliran simbolisme ini. Dalam karyanya pada masa ini, ia berupaya merumuskan sarana-sarana simbolik dan filsafatnya. Sebagai penyair simbolis, ia banyak dipengaruhi oleh penyair Prancis Stephane Mallarme. Di Mesir, gerakan simbolisme ini dipelopori oleh Basyar Fâris (1907-1963). Penyair lain yang juga turut berperan membawa simbolisme ke ranah perpuisian Arab adalah Shalah Labaki (1906-1955) (Lebanon), dan Yusuf Ghusub (1893-1971) (Lebanon).


[1] Musthafâ Razaq, “Jamâ’ah Abûlû wa Atharuhâ fî al-Syi’r al-Mu’âshir” dalam Majalah Kulliyah al-Syarî’ah wa Ushûl al-Dîn wa al-‘Ulûm al-‘Arabiyyah wa al-Ijtimâ’iyyah, No. 2/1401-1402 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.