Mengena(ng)l Rim Banna

0
153

Rusa putihku telah pergi
Melepaskan pakaian derita, lalu pergi
Namun masih ia sisakan bagi kami senyuman
Wajah cantiknya bercahaya, menghapus getirnya perpisahan

~Zuhaira Sabbagh

24 Maret 2018, dunia Arab, terlebih Palestina dikejutkan dengan kabar duka atas meninggalnya seorang seniman, penyanyi perempuan Palestina, juga seorang aktivis yang tak kenal lelah melawan penjajahan dengan suaranya yang merdu, dengan  lagu-lagu syahdu sekaligus sendu. Di Indonesia tak banyak yang mengenal sosok ini, namun sekali saja mendengarkan lagu-lagunya, di saat itu pula kita akan mabuk kepayang dibuatnya. Barangkali beginilah kodrat seseorang, akan dikenal, dikenang dan dikagumi setelah ia tiada.

Rim Banna (Bahasa Arab: ريم بنا)  lahir di Nazareth pada 6 Desember 1966, adalah seorang penyanyi, komposer, arranger, dan aktivis Palestina. Ia begitu terkenal karena interpretasi modernnya terhadap lagu-lagu dan puisi tradisional Palestina. Sehingga gaya khas dalam musiknya adalah gabungan lagu-lagu tradisional Palestina dengan musik modern. Dia tinggal di Nazareth bersama ketiga anaknya. Ia bertemu dengan suaminya, seorang gitaris Ukraina, Leonid Alexeyenko, ketika belajar musik bersama di Higher Music Conservatory di Moskow dan mereka menikah pada tahun 2001,  dan bercerai pada tahun 2010. Banna adalah putri penyair Palestina Zuhaira Sabbagh.

Banna pertama kali mencapai popularitas pada awal 1990-an, setelah merekam beberapa lagu anak-anak Palestina tradisional yang hampir terlupakan dengan versinya sendiri. Tidak sedikit lagu dan sajak yang dinyanyikan kembali oleh orang-orang Palestina hari ini berkat karya yang diciptakan oleh Banna dalam melestarikan membumikan kebudayaannya yang hampir terlupakan.

Semua lagu dan puisi-puisi tentang Palestina adalah karya yang ia gubah sendiri. Seringkali pesan-pesannya terfokus pada penderitaan rakyat Palestina, khususnya mereka yang berada di perbatasan Tepi Barat (perbatasan yang memisahkan antara Palestina dan Israel). Ia menggambarkan musiknya sebagai sesuatu yang “menghantui dan emosional” Ia menggambarkan musiknya sebagai sarana penegasan diri dari budayanya. Banna dan kawan-kawannya mengumpulkan teks-teks tradisional Palestina yang tanpa melodi. Kemudian agar teks-teks itu tidak hilang, ia mencoba membuat melodi sehingga bisa diterima oleh orang-orang modern, namun hal tersebut tetap diilhami oleh musik tradisional Palestina.

Ia tampil langsung di Tepi Barat Palestina dan menjangkau audiensi dari Gaza melalui siaran langsung di webnya. Ia melakukan konser pertamanya di Suriah pada 8 Januari 2009 dan juga tampil di Tunisia pada 25 Juli 2011. Konser pertamanya di Beirut berlangsung pada 22 Maret 2012.

Popularitas Banna di Eropa dimulai setelah produser musik Norwegia Erik Hilestad mengundangnya untuk berpartisipasi dalam CD Lullabies dari Axis of Evil (2003) dan penyanyi Norwegia Kari Bremnes, yang juga mengambil bagian duet dengan Rim Banna dalam produksi ini.

The Mirrors of My Soul atau Maraya al-Ruh yang didedikasikan untuk semua tahanan politik Palestina dan Arab di penjara-penjara Israel, adalah titik awal gaya baru dari karya-karyanya yang sebelumnya. Album ini diproduksi dalam kerjasama dengan Quintet Norwegia, ia menampilkan “gaya pop Barat” menyatu dengan model Timur Tengah dan struktur vokal dengan lirik Arab.  Meskipun gayanya berbeda dari rekaman sebelumnya, materi dasarnya tetap konstan. Album ini termasuk “lagu-lagu keputusasaan dan harapan tentang kehidupan orang-orang yang berjuang, dan bahkan sebuah lagu tentang almarhum pemimpin Palestina Yasser Arafat dengan cara yang bijaksana.

Lirik dalam lagu-lagunya banyak diambil dari puisi-puisi Penyair seperti Mahmoud Darwish, Samih Qasim, Taufiq Zayyad, Badr Syakir al-Sayyab dan beberapa puisi sufistik seperti puisi-puisi Al-Hallaj, Rabiah al-Adawiyah, Ibn Faridl dan Ibn Arabi.

Di antara album-album Rim Banna: Jafra (1985), Dumu’uk Ya Ummi (Air Matamu, Ibu, 1986), al-Hilm (Impian, 1993), Qamar Abu Lailah (Album anak, 1995), Mukaghah (Album Anak, 1996), Wahdaha Yatabaqqa al-Quds (Hanya al-Quds yang tersisa, 2001), Taratil Miladiyyah (2003), Lullabies from the Axis of Evil (2003), Maraya al-Ruh (Cermin Jiwa, 2005), Lam takun tilka hikayati (Itu bukan ceritaku, 2006), Mawasim al-Banafsaj (Musim-Musim Ungu, 2007), Songs across Walls of Separation (2008), Nuwwar Nisyan (2009), Sharkhat min al-Quds (2010), Bukra (hari esok, 2011), Tajalliyat al-wajd wa al-tsaurah (2013),  Songs from a Stolen Spring (2014) Shaut al-Muqawamah (Suara Perlawanan, 2018).

Rim Banna tutup usia pada usianya yang ke-52 di kampung halamannya, Nazareth, pada 24 Maret 2018 setelah sebelumnya ia berjuang melawan kanker payudara selama 9 tahun. Dialah pejuang perempuan Palestina yang mampu melawan penjajahan dengan segala bentuk keindahan suara dan senandung musiknya, dengan tanpa senjata atau pun senapan, dan di waktu yang sama ia pun harus melawan kepungan kematian dari dalam dirinya sendiri. RIP, Rim Banna!

(Diolah dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.