Puisi Arab Modern: Dari Abad Ke-19 Hingga Abad Ke-21 (Bagian III)

0
478
Gerakan neo-klasik ini kemudian disusul dengan perubahan baru yang dibawa oleh Khalîl Mathrân (1872-1949), seorang penyair Lebanon yang kemudian menetap dan mengembangkan kreativitas sastranya di Mesir. Sikap yang berbeda diambil oleh Mathrân. Jika para penyair neo-klasik bertumpu pada puisi-puisi klasik sebagai landasan perkembangan puisi yang murni, maka Mathrân berupaya menciptakan bentuk puisi modern. Bentuk puisi-puisi Mathrân merupakan transformasi dari pengabaian terhadap visi pribadi menuju ke arah pengungkapan visi pribadi yang mantap, individualistis, introspektif, dan ekspresif. Pengalaman dan persentuhannya dengan khasanah kesusasteraan Prancis seperti karya Hugo, Musset, serta Baudelaire, membuat Mathrân menjadi penyair liris dan merupakan pemuka aliran romantik dalam tradisi perpuisian Arab. Mathrân telah menjadi jembatan penghubung antara Arab dan Barat dengan mempublikasikan produk sastra Arab diaspora di al-Majallah al-Mishriyyah yang terbit perdana pada tahun 1902 dengan memuat puisi-puisi dari kalangan sastrawan emigran Arab-Amerika.

Gerakan romantik di Mesir yang dipelopori oleh Khalîl Mathrân ini kemudian diikuti pula oleh beberapa penyair lainnya. Di antara mereka adalah Abdur Rahmân Syukri (1886-1958), Abbas Mahmûd Al-‘Aqqad (1889-1964), Ibrahim Abdul Qâdir Al-Mâzini (1890-1949), Ahmad Zâkî Abû Syâdî (1892-1955), Ibrâhîm Nâji (1898-1953), dan ‘Ali Mahmûd Thâhâ (1902-1949).

Pasca Perang Dunia I, berbagai komunitas sastra Arab mulai bermunculan, baik di wilayah Arab maupun di luar Arab. Momentum terbesarnya adalah lahirnya Ar-Râbithah Al-Qalamiyyah di New York pada tahun 1920 yang diketuai oleh Jubrân Khalîl Jubrân (1883-1931). Meski berada jauh di perantauan, karya penyair dari kelompok ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat imigran secara khusus, tetapi juga dikenal dan memberikan pengaruh yang kuat ke berbagai penjuru wilayah Arab.

Lebih dari itu, bahkan kelompok ini telah menjadi inspirasi atas terbentuknya komunitas-komunitas sastra di wilayah Arab. Di Mesir, misalnya, karya-karya mereka mendapatkan respons yang luar biasa. Beberapa karya sastra masyarakat diaspora yang pada masa sebelumnya telah terbit di beberapa majalah milik kelompok mereka sendiri, kemudian dicetak ulang di Mesir. Di antaranya adalah beberapa karya Jubrân seperti al-Ajnihah al-Mutakassirah (1920) yang pada tahun 1908 pernah dimuat dalam majalah al-Hilâl dan pada tahun 1911 pernah dimuat dalam majalah al-Muqtataf. Sebagian besar penyair yang terkumpul dalam kelompok ini mendapatkan pengaruh sastra romantik, sastra kaum transendentalis Amerika, terutama Emerson, dan juga pengaruh dari penyair-penyair seperti Longfellow, Whittier, dan Withman.

Jubrân adalah tokoh yang paling terkemuka dan berpengaruh di antara para sastrawan Arab di Amerika. Karya sastra Jubrân banyak dipengaruhi oleh gagasan dari Barat, seperti Nietzche, Blake, Rodin, dan beberapa sastrawan Amerika yang beraliran romatik. Selain itu, Jubrân juga mendapat sentuhan dari Injil maupun peninggalan-peninggalan dari mistisisme Timur.

Selain Jubrân kelompok yang berada di Amerika Utara ini juga diperkuat oleh Michael Nu’aima (1889-1988) (Lebanon), Elia Abû Mâdhî (1889-1957) (Lebanon), Nasîb ‘Arîdha (1887-1946) (Suriah), Amîn Ar-Raihânî (1876-1940) (Lebanon), Rasyîd Ayyûb (1872-1941) (Lebanon), dan Abdul Masîh Haddâd (1890-1963) (Suriah). Para sastrawan tersebut menerbitkan karya sastra mereka di majalah as-Sâ’ih milik Abdul Masîh Haddâd yang terbit setiap tahun.

Amîn ar-Rîhânî dalam khasanah sastra dikenal sebagai “Bapak Sastrawan Arab-Amerika”. Oleh para pembaca sastra Arab-Amerika, ia juga dikenal dengan julukan “Bapak Puisi Prosa”. Dalam pembentukan proses kreatifnya ia pertama kali bersentuhan dengan dua penyair besar yaitu William Shakespeare dan Victor Hugo. Pada proses selanjutnya kemudian ia mulai berkenalan dengan tulisan-tulisan Darwin, Huxley, Spencer, Whitman, Tolstoy, Voltaire, Thoreau, Emerson, dan Byron. Sebagai seorang penggemar karya Walt Whitman dan sajak bebas, ia bersenandung untuk dirinya dan Amerikanya dalam banyak karyanya.

Ia memperkenalkan sajak bebas kepada puisi Arab yang masih cenderung sangat kaku dan kental dengan aturan tradisi lama di awal-awal tahun 1905, yang juga membuat Ar-Rîhânî mampu mempertahankan posisinya sebagai figur penting di tempat asalnya. Sebagai seorang Arab-Amerika, identitas Arab ar-Rîhânî tidak tertutup ketat hanya satu, tapi meliputi sebuah dimensi yang universal. Selama di Amerika, ia mengikuti beberapa kelompok sastra dan seni yang ada di New York, seperti The Poetry Society of America dan The Pleiades Club. Ini adalah awal karirnya di bidang sastra yang menghubungkan dua dunia, antara Timur dan Barat.

Tak bisa dipungkiri bahwa munculnya komunitas-komunitas sastra menjadi salah satu faktor penting terhadap perkembangan model puisi Arab. Pada sekitar tahun 1921, Al-‘Aqqad dan Syukri menerbitkan sebuah buku bertajuk Ad-Dîwân fi Al-Adab wa An-Naqd yang kemudian melahirkan sebuah kelompok yang menamakan diri “Madrasah Ad-Dîwân”. Kelompok yang lahir di Mesir ini digawangi oleh tiga serangkai: Syukri, Al-‘Aqqad, dan Al-Mazini. Ketiganya sangat dipengaruhi oleh romantisme dalam kesusastraan Inggris.

Kemunculan kelompok tersebut sebenarnya merupakan reaksi dan kritik terhadap aliran neo-klasik yang berkembang saat itu dan meneguhkan aliran romantik yang bermula dari Mathrân yang kemudian disokong oleh para penyair diaspora Arab-Amerika, khususnya mereka yang terkumpul dalam Ar-Râbithah Al-Qalamiyyah. Syukrî mengkritik Syauqî dan Hâfizh dengan menyatakan bahwa karya-karya mereka hanya terbatas pada bentuk-bentuk penyerupaan yang telah ada saja. Ia pernah mengatakan bahwa puisi adalah ungkapan emosional, di mana konsepsi emosional tentang citra rasa menjadi faktor yang penting dalam menentukan hakikat dan fungsi puisi. Dan hal tersebut tidak diperhatikan oleh para penyair Arab di zamannya, karena mereka hanya mengadopsi karakter puisi yang telah ada. Tampaknya Al-‘Aqqad juga memberikan pandangan yang serupa.

Pada tahun 1930, di Lebanon berdiri sebuah komunitas sastra yang dinamai ‘Ushbah Al-‘Asyrah (Liga Sepuluh). Sebagaimana namanya, kelompok ini digawangi oleh sepuluh orang, yakni Michael Abu Syahla (1898-1959), Elyâs Abû Syabakah (1903-1947), Khalil Taqiyyuddin, Fu’ad Hubaisy, Karam ‘Ali, Yusuf Ibrahim Yazbak, Taqiyyuddin Ash-Shalah, Taufiq Yusuf ‘Awwad, ‘Abdullah Luhud, dan Michael Asmar. Elyâs Abû Syabakah yang juga memiliki nama pena “Rassam” dipandang sebagai salah seorang di antara penyair romantik terkemuka dalam perpuisian Arab. Seruannya terhadap pembaharuan dan modernisasi puisi Arab telah mengilhami para penyair pada generasi setelahnya. Jika kita tilik karyanya, puisi-puisi Abû Syabakah sarat dengan kemuraman, sangat personal, dan terkadang mengandung nuansa Al-Kitab ketika berbicara tentang konflik-konflik moral dalam dirinya. Beberapa karyanya juga dianggap kontroversial di masa itu karena puisinya dianggap mengandung muatan seksual yang vulgar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.