Puisi adalah Takdirku (Nizar Qabbani)

0
686

Aku adalah bagian dari masyarakat yang bernafas dengan puisi, menyisir rambut dengan puisi dan berpakaian dengan puisi. Setiap anak-anak kami yang dilahirkan, dalam susu mereka sudah mengandung lemak puisi. Di negeriku semua pemuda menuliskan surat cinta pertama mereka dengan puisi. Semua manusia yang wafat, terbaring di bawah mermer yang digoreskan dua bait puisi.

Di negeri Arab, menjadi penyair bukanlah mukjizat. Justru yang tidak menjadi penyair adalah mukjizat.

Kami dikepung oleh puisi, dipaksa menulis puisi. Sebagaimana bumi Mesir dikelilingi dengan kapasnya, bumi Syam dengan gandumnya dan bumi Irak dengan kurmanya.

Kami diperkokoh dengan puisi. Sebagaimana negeri Belanda diperkokoh dengan lautan dan pegunungan Himalaya diperkokoh dengan salju.

Oleh karena itu, aku tidak beranggapan bahwa menulis puisi adalah aktivitas percuma dan tiba-tiba. Ketika aku menulis, aku tunduk pada setiap hukum nasab dan keturunan, aku jalankan tinah sejarah, aku kebingungan saat menyeberangi jalan Regent Street di London, atau Champs-Elysees di Paris, seperti orang badui yang sedang jatuh cinta dan tak memiliki harta selain sebuah mantel dan kerongkongan.

Apakah pita suara yang terbentuk dalam kerongkongan bangsa Arab adalah nikmat? Atau ia adalah laknat yang terus menerus memburu mereka?

Ada kalangan yang meyakini bahwa puisi merupakan laknat bagi bangsa Arab. Bahkan puisi (gulma) telah melemahkan mereka, melumpuhkan saraf mereka dan menghalangi mereka untuk menyusul kereta modern.

Aku menolak logika ini. Sebaliknya, aku setuju dengan pernyataan Al-Jahidz[1] bahwa puisi merupakan keutamaan bangsa Arab. Keutamaan di sini maksudnya adalah sesuatu paling suci dan paling mulia yang dimiliki manusia.

Puisi adalah citra dan pola masyarakat. Puisi bersinar dengan cahayanya, kemudian layu dalam pudarnya. Tidaklah benar bahwa kami terbelakang karena puisi kami tidak maju-maju. Justru karena kami telah memasuki fase gerhana, maka puisi kami juga mengalami gerhana.

Masa-masa gemilang sejarah Arab melahirkan puisi yang gemilang. Dan masa-masa suram juga turut menghadirkan puisi-puisi suram.

Gambaran masa itu juga terjadi dalam sastra Yunani dan Romawi. Bahwa puisi sangat terikat dengan otoritas sebuah negara dan segala ambisinya.

Maka yang salah bukanlah puisi, tetapi para penyair yang menuliskannya.

Orang-orang Jahiliyah menulis puisi yang serupa dengan mereka, orang-orang Umayyah menulis puisi yang serupa dengan mereka dan orang-orang Abbasiyah juga menulis puisi yang serupa dengan mereka. Arak selamanya akan menjadi arak. Yang berbeda adalah cawannya.

 

[1] Al-Jahidz bernama lengkap Abu ‘Amr bin Bahr bin Mahbub bin Fazarah (159-255 H.). Sastrawan terbesar di masa Dinasti Abbasiyah. Salah satu masterpiece-nya adalah Kitab Al-Hayawan, karya tentang bangsa Arab, fiqh, sastra dan kritik. (penerjemah)

Diterjemahkan oleh Musyfiqur Rahman dari buku prosa pertama Nizar Qabbani, Qishshati Ma’a Al-Syi’ir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.