Surat Kahlil Gibran untuk May Ziyadah: New York, 2 Januari 1914

0
1533
Wanita pujangga yang mulia…

Banyak persoalan yang aku pikirkan selama bulan-bulan bisu yang telah berlalu tanpa suatu kabar atau surat balasan. Namun sama sekali tidak tebersit dalam benakku bahwa engkau adalah wanita “jahat”. Tapi sekarang engkau telah berterus terang bahwa roh jahat telah menyelinap dalam dirimu. Maka aku tidak punya alasan selain percaya begitu saja padamu. Aku percaya dan juga turut membenarkan setiap perkataan yang engkau ucapkan kepadaku. Jelas engkau bangga sekali dengan ucapanmu “aku wanita jahat”. Engkau memang layak berbangga diri karena roh jahat adalah kekuatan yang mampu menandingi kebaikan, baik hasrat dan pengaruhnya. Akan tetapi perkenankan diriku berterus terang padamu bahwa kendati dirimu terus bersikukuh dengan kejahatanmu itu, engkau belumlah sampai pada separuh kejahatanku. Sebab aku jahat bagaikan hantu-hantu yang berdiam dalam rongga-rongga neraka, bahkan aku kejam seperti roh kegelapan yang menjaga pintu neraka. Dan engkau pasti percaya ucapakanku ini!

Sampai saat ini aku belum paham apa sebenarnya yang mendorongmu melawanku dengan kejahatan, tidakkah engkau memberi penjelasan padaku? Aku telah membalas setiap surat yang engkau kirimkan padaku dan aku hayati setiap makna kata demi kata yang engkau bisikkan dengan mesra di telingaku. Lalu adakah hal lain yang mesti aku lakukan? Atau tidakkah engkau melampaui dosaku, seorang “yang tidak ada apa-apanya”, supaya engkau menjelaskan padaku bahwa engkau kuasa mengkisas? Engkau sungguh beruntung dan bisa menjelaskan dengan baik. Sedangkan aku percaya pada Hipostasis-muyang baru, universal, absolut dan mampu mengumpulkan antara pedang Kali, dewi India dan panah Diana, dewi Yunani.

Kini, setelah kita saling mengetahui kejahatan dan kecenderungan satu sama lain untuk mengkisas, mari kita kembali untuk menuntaskan percakapan yang kita mulai sejak dua tahun silam. Bagaimana dirimu dan bagaimana kondisimu? Apakah engkau sehat dan baik-baik saja (sebagaimana yang dikatakan orang-orang Libanon)? Apakah lenganmu terkilir lagi pada musim panas lalu? Ataukah ibumu melarangmu menunggangi kuda agar saat kembali ke Mesir kedua tanganmu baik-baik saja? Sementara kesehatanku, serupa igauan pemabuk. Berulang kali aku melewati musim panas dan musim gugur sambilmengembara di antara puncak gunung dan pinggiran pantai, kemudian kembali ke New York dengan wajah pucat dan tubuh kerempeng demi mengejar pekerjaan dan bergumal dengan impian—impian aneh yang menerbangkanku ke puncak gunung lalu melemparkanku ke dasar lembah.

Aku sangat bahagia karena engkau suka majalah Al-Fonoun[1], majalah terbaik dalam jenisnya yang pernah ada dalam dunia Arab. Pemiliknya adalah pemuda yang baik dan punya pemikiran kritis. Dia juga punya dua buku berjudul Lathîfahdan Qashâid Mubtakirah yang terbit dengan nama pena “Alief”. Yang menarik dari pemuda ini adalah dia tidak hanya mempelajari semua yang ditulis oleh orang-orang Barat, bahkan ia benar-benar menguasainya. Sedangkan temanku, Amin Al-Raihani[2]mulai menerbitkan novel barunya yang panjang di majalah Al-Fonoun. Ia memperlihatkan padaku hampir keseluruhan bab-babnya. Dan kesimpulanku, novel tersebut sangatlah indah. Lantas aku beri tahu pemilik majalah Al-Fonoun bahwa dirimu akan mengirimkan artikel melaluiku, ia sangat menunggu dengan riang gembira.

Sayang sekali aku tidak bisa memainkan alat musik apapun, meski demikian aku sangat mencintai musik sebagaimana aku mencintai kehidupan. Aku punya kegemaran tersendiri dalam mempelajari dasar-dasar, struktur dan mendalami sejarah kemunculan musik berikut perkembangannya. Jika belum tutup usia, aku akan menulis esai panjang tentang berbagai aspek musik Arab dan musik Persia, mulai dari asal-usulnya, perkembangannya dan hubungan antar keduanya. Kecenderunganku pada musik Barat menyamai kecenderunganku pada lagu-lagu Timur. Sehingga dalam seminggu bisa satu atau dua kali aku pergi ke opera. Kendati demikian, aku lebih menyukai musik Eropa yang dikenal dengan sinfoni, sonata dan kantata dari pada opera. Sebab bagiku, opera itu tak sesuai dengan seleramusikku.Ia jauh dari seni sederhana. Kali ini perkenankan aku cemburu pada tanganmu yang begitu erat memegang kecapi. Kumohon sebutlah namaku sebagai bentuk penghargaan bagiku setiap engkau membunyikan nada Nahawand pada dawai kecapimu. Sebab Nahawand adalah nada yang paling aku suka. Dan aku sependapat dalam hal ini dengan Carlyle[3] dalam  hal memuji Nabi Muhammad.

Tidakkah kamu berkenan menyebut namaku di hadapan pemujaan Sphinx? Saat aku di Mesir, dua kali dalam seminggu aku pergi dan menghabiskan waktu duduk di atas pasir dengan memandangi piramida dan Sphinx. Saat itu aku masih belum dewasa dan usiaku masih delapan belas tahun. Di hadapan kemagahan seni, aku gemetar seperti rumput yang diterpa prahara. Namun Sphinx, ia tersenyum padaku dan mengisi hatiku dengan kesedihan dan luka yang diimpikan.

Sepertidirimu, aku juga menaruh rasa kagum kepada Dr. Schumayyil[4], dia adalah salah satu dari sedikit orang yang dilahirkan di Libanon untuk mengusung semangat renaisans baru di Timur Dekat. Dan menurutku, masyarakat Timur sangat membutuhkan orang-orang seperti Dr. Schumayyil, sebagai bentuk reaksi atas pengaruh yang dilahirkan oleh kalangan mistikus dan para agamawan di Mesir dan Suriah.

Apakah engkau sudah membaca buku berbahasa Prancis yang ditulis oleh Khairullah Efendi Khairullah[5]? Aku belum pernah melihatnya. Hanya saja seorang teman memberitahuku bahwa dalam buku tersebut ada satu bab tentang diriku dan satu bab lain tentang dirimu. Jika engkau memiliki dua eksemplar buku itu, kuharap engkau berkenan mengirimkan satu untukku. Semoga Allah membalas kebaikanmu.

Sudah mulai larut malam, semoga malammu kian indah dan semoga engkau dalam lindungan Allah demi orang yang setia.

New York, 2 Januari 1914

Gibran Kahlil Gibran


[1] Al-Fonoun adalah majalah berbahasa Arab yang dirintis oleh sastrawan berkebangsaan Suriah, Prof. Nasib Arida (1887-1945) dan terbit di New York pertama kali pada tahun 1913. Prof. Nasib Arida merupakan salah satu pendiri komunitas para sastrawan diaspora di New York yang dikenal dengan Al-Rabitah Al-Qalamiyah dan salah satu ikon kebangkitan intelektual diaspora. Beberapa karyanya adalah Al-Arwâh Al-Hâirah (kumpulan puisi) dan Dîk Al-Jinn Al-Himmashî (kumpulan cerpen).

[2] Amin Al-Raihani (1876-1940) sastrawan besar Libanon yang lahir di kawasan Freika, bagian utara Libanon, kemudian pindah ke New York. Memiliki banyak karya hebat dalam bahasa Arab dan Inggris. Beberapa yang paling terkenal; Mulûk Al-‘Arab, Târîkh Najd Al-Hadîts, Qalb Al-Irâq, Qalb Lubnân, Nûr Al-Andalus dan Al-Raihâniyât. Amin mendapat julukan “filsuf Freika” dan merupakan teman Gibran dan May Ziyadah.

[3]Thomas Carlyle (1762-1805) sastrawan dan sejarahwan Inggris. Mempelajari tentang Arab di Universitas Cambridge pada tahun 1795. Dia menulis buku yang salah satu babnya berisi tentang kekagumannya pada pribadi nabi Muhammad yang heroik dalam karyanya On Herois Hero-Worship, and the Heroic in History.

[4] Dr. Schibli Schumayyil (1860-1917), seorang dokter dan penulis Libanon. Salah satu karyanya, Falsafah Al-Nasyau’ wa Al-Irtiqâ’, Syukwâ wa Âmâl, surat Al-Mu’âthis, beberapa komentar dan ulasan buku-buku kedokteran klasik seperti Aphorism karya Hippokrates dan ulasan puisi-puisi kedokteran karya Ibnu Sina. Dr. Schibli salah satu teman May Ziyadah yang juga kagum pada kejeniusannya. Ia juga menguasai dan menulis dalam bahasa Prancis.

[5] Khairullah Efendi Khairullah (1882-1930), penulis Libanon yang hidup di Paris. Dia pernah menjadi direktur koran “Zaman” untuk biro Timur dan menulis buku dalam bahasa Prancis dengan judul Syria.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.