Puisi Arab Modern: Dari Abad Ke-19 Hingga Abad Ke-21 (Bagian II)

0
736

Puisi Arab Abad Ke-20 (1901-2000)

Pada awal hingga pertengahan abad ke-20, isu nasionalisme berkembang di berbagai belahan wilayah Timur Tengah. Hal ini berdampak pada munculnya berbagai macam perlawanan terhadap kolonialisme. Di Mesir, perlawanan dilakukan oleh orang-orang seperti Mustafa Kamil, Muhammad Farid dan Saad Zaglul. Setelah itu muncul gerakan revolusi 1919 hingga menghasilkan kemerdekaan yang tidak utuh. Kemudian  perjuangan tersebut disempurnakan melalui perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh angkatan muda Mesir dalam pertempuran Suez tahun 1951 hingga sampailah pada bentuk kemerdekaannya di masa revolusi.

Di Aljazair, Gubernur Abdul Qadir dan para pendukungnya melakukan perlawanan terhadap tentara Prancis. Di Libya, perlawanan terhadap tentara Italia dilakukan oleh Umar Mukhtar dan para pengikutnya. Di Maroko perlawanan dilakukan Abdul Karim al-Khathabi dan pendukungnya. Di Palestina,  Izzuddin al-Qassam bersama para pejuangnya dan mufti besar Palestina Haji Amin al-Husaini juga melakukan perlawanan. Mereka semua telah menorehkan sejarah dalam upaya melawan kolonialisme.

Kebangkitan nasionalisme di berbagai wilayah Arab pasca Perang Dunia I berdampak cukup signifikan terhadap perkembangan sastra. Dengan semangat kemerdekaan dan kebebasan, para penulis dan sastrawan Arab mengungkapkan suara hati mereka dengan tinta “darahnya”. Pada abad sebelumnya, budaya penulisan di Arab benar-benar mulai tampak, dengan berpusat di Mesir, Irak, Lebanon, dan Suriah. Surat kabar, ensiklopedia, dan buku-buku telah dipublikasikan dalam bahasa Arab oleh para penulis dan sastrawan Arab yang pada masa itu mencoba untuk menyatakan perasaannya dan menunjukkan eksistensinya di dunia modern. Dinamika pemikiran intelektual pun semakin terasa. Dalam kesusastraan, mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok yang memiliki latar belakang pendidikan Barat yang cenderung pada sastra Prancis dan kelompok yang lebih cenderung pada sastra Inggris.

Di Mesir, gagasan neo-klasik Al-Bârûdî yang muncul pada abad sebelumnya, dilanjutkan oleh beberepa penyair setelahnya seperti Ahmad Syauqî (1868-1932), Hâfizh Ibrâhîm (1871-1932), Ismâ’îl Shabri (1854-1923), dan Waliyyuddîn Yakan (1873-1921). Tema-tema puisi yang diangkat oleh mereka sebagian besar adalah isu-isu politik, sosial, dan budaya. Di antara mereka ada pula yang menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan. Sehingga, muncul para penyair nasionalis seperti Hâfizh Ibrâhîm yang menentang keras pemerintahan Turki dan Inggris.

Ahmad Syauqî (1868-1932), oleh rekan-rekannya dijuluki Amir asy-Syu‘ara’ (Pemimpin Para Pujangga). Puisi-puisinya selalu membangkitkan rasa nasionalisme, melahirkan gairah kebangsaan dan jiwa patriotik. Sesuai dengan masa itu, puisinya banyak mencerminkan cita-cita bangsa Arab, mendukung gerakan kemerdekaan nasional, dan menentang kelaliman penjajahan Barat. Gagasan yang terkandung dalam kumpulan puisinya itu dianggap mengilhami kebangkitan bangsa-bangsa Arab lainnya.

Kepenyairan Syauqi tidak hanya terkenal di Mesir saja bahkan sampai di seluruh kawasan Timur Tengah. Banyak penyair terkenal Timur Tengah yang datang dan berbaiat kepadanya dan menjadi pengikutnya (muridnya). Hal ini dapat kita lihat dalam puisi yang diucapkan oleh Hafidz Ibrahim (Iskandari, 1979: 404) berikut ini:

Duhai Amirul Qawafi!

Aku datang untuk berbaiat

Dan aku datang bersama utusan dari Timur

Untuk berbaiat”. 

Puisi Hafidz Ibrahim di atas merupakan salah satu bukti akan kepenyairan Syauqi. Hafidz Ibrahim yang juga seorang penyair datang kepada Syauqi untuk menyatakan rasa penghormatannya dan penghormatan seluruh penyair di daerah Timur. Perlu diketahui bahwa Hafidz Ibrahim sendiri adalah penyair modern yang paling banyak dikenal luas di dunia Arab. Ia lebih dikenal sebagai penyair rakyat dan penyair nasionalis. Ia termasuk penentang penggunaan bahasa ‘amiyyah di dunia Arab. Ia sering menggunakan puisinya sebagai pembicaraan politik, dan keadaan masyarakat yang ada pada masa itu. Tidak jarang pula untuk mencela adat lama dan kebudayaan baru yang akan membawa bencana dalam masyarakat. Hafidz dan Syauqi kerapkali dianggap sebagai juru bicara rakyat Mesir, paling tidak kepada seluruh negara Arab.

Selain itu, kolonialisme dan penguasa yang membebani rakyat telah mendorong Bayram At-Tunisi (1893-1961) untuk melakukan perlawanan dan kritik melalui puisi. Dengan cara yang berbeda, sekitar tahun 1919 ia menggubah puisi zajal yang ditulis dengan menggunakan bahasa dialek (‘amiyah) yang populer. Ummi Kultsum telah menyanyikan beberapa sajaknya guna mempopulerkannya ke seluruh dunia Arab.

Tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di Mesir, para penyair di Irak  pada masa itu pun menyuarakan keinginan masyarakat untuk bebas dari kungkungan  kekuasaan Turki di satu sisi dan kekuasaan Inggris di sisi lain. Pada tahun 1920-an dan 1930-an, Ma’rûf Ar-Rushâfi (1877-1945), Jamîl Sidqî Az-Zahâwi (1863-1936), Ahmad Ash-Shâfi An-Najafi (1897-1977), dan Muhammad Mahdi Al-Jawâhiri (1900-1997) adalah para penyair Irak terkemuka di dunia Arab. Keempat-empatnya menulis mengikuti gaya neo-klasik dengan ramuan sajak yang indah sesuai aturan matra dan bait yang tegas. Di antara tema-tema yang berkembang di Irak pada masa itu adalah tema-tema sosial, ekonomi, emansipasi wanita, pendidikan, kemiskinan, dan problem masyarakat pedesaan yang muncul akibat ketegangan antara tuan tanah dan penggarapnya.

Ar-Rushâfi banyak menulis puisi tentang penderitaan orang-orang Irak dan perjuangan mereka ke arah kemerdekaan. Ia menggubah puisi-puisi sosial dan revolusi. Dengan mengusung tema-tema baru, isi dalam puisi Ar-Rushâfi boleh dikatakan bersifat kekinian, bahkan dalam bingkai historisnya dapat digambarkan sebagai puisi yang progresif-revolusioner. Meski demikian, bentuk puisinya masih bersifat tradisional. Jadi, jelas bahwa Ar-Rushâfi berusaha mengulang kembali pola retorika tradisional ala Khalilian (pola puisi klasik), meski ide-idenya bersifat revolusioner. Tak kalah dengan Ar-Rushâfi, demikian pula Al-Jawâhiri dalam puisinya juga menyatakan dengan keras sentimen anti-kolonialis.

Ash-Shâfi juga termasuk salah satu penyair yang sangat getol dan berani menantang kaum penjajah. Ia sudah beberapa kali terlibat dalam aksi revolusi melawan pendudukan kolonial Inggris. Lewat gubahan puisi-puisi nasionalismenya, ia berhasil membakar semangat juang di hati rakyat Irak. Atas sikap anti-kolonial inilah akhirnya Ash-Shâfi harus mendekam di penjara dalam Revolusi Rasyid ‘Ali Al-Kailani pada tahun 1941 pasca gagalnya revolusi. Selain mewariskan karya-karya puisi yang sarat dengan nuasa-nuansa nasionalisme, ia juga telah mewariskan karya terjemahan bahasa Arab dari Rubai’at Al-Khayyam.

Berbeda dengan ketiganya, Az-Zahâwi lebih dikenal sebagai penyair pembela hak-hak perempuan. Sehingga, tak heran jika dalam karyanya persoalan hak asasi perempuan merupakan salah satu konsentrasi puisinya meskipun terkadang tidak secara jelas ditampilkan. Meski lebih cenderung pada gaya neo-klasik, Az-Zahâwi ternyata pernah melakukan eksperimentasi dalam penulisan puisi ‘awarima’ (blank verses/al-syi’r al-mursal).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.