Adonis: Islam dan Puisi

0
504

Pada mulanya Ali Ahmad Sa’id—selanjutnya ditulis Adonis—adalah penyair, dan masih sebagai penyair, bahkan barangkali akan senantiasa sebagai penyair. Kalaupun dia dipandang sebagai pemikir, hal itu merupakan keniscayaan dirinya sebagai penyair yang memiliki karakter pemikir. Sebab dia meyakini puisi tidak boleh lepas dari pemikiran. Puisi bukan sekadar luapan emosi yang bersifat individualistik. Lebih dari itu, puisi adalah cara pandang yang utuh atas manusia, dunia dan segala sesuatu.

Dalam diri Adonis, aktivitas berpikir menyatu dengan aktivitas berpuisi, dalam arti ketika mencipta puisilah pemikiran otentiknya lahir, lalu dinarasikan secara lebih luas dalam karya non puisi. Jika diibaratkan air laut dan gelombang ombaknya, maka kepenyairan Adonis ibarat air laut, sedangkan pemikirannya ibarat gelombang ombak. Pemikirannya tidak terpisah dari kepenyairannya, sebagaimana gelombang ombak tidak terpisah dari air laut. Hal itu terlihat dari keterlibatannya sebagai penyair dalam khazanah pemikiran Arab-Islam kontemporer, terutama dalam perdebatan terkait tradisi (turâts) dan pembaruan (tajdîd). Sehingga dia layak dikategorikan sebagai pemikir seperti Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, ‘Abid al-Jabiri dan lainnya. Namun perbedaan Adonis dengan mereka adalah pemikiran Adonis berangkat dari kepenyairannya.

Salah satu contoh paling gamblang adalah upayanya menelusuri akar kejumudan sastra (puisi) dalam bingkai kebudayaan Arab-Islam, yang kemudian melahirkan sebuah karya penting di jagat pemikiran Arab-Islam, yaitu ats-Tsâbit wa al-Mutahawwil (yang mapan/statis dan yang berubah/dinamis). Upaya tersebut berawal dari pembacaannya atas puisi-puisi Arab terbaik lintas zaman. Dia menemukan puisi-puisi Arab, baik dari sisi bentuk maupun makna, secara dominan dilandasi oleh estetika yang stagan dan hanya berkutat dengan masa lalu. Ada semacam otoritas yang memaksa sebagian besar penyair untuk menjadi peniru model dan format yang telah dibakukan/dimapankan sebelumnya.

Atas dasar itu, Adonis melakukan telaah fenomenologis atas sejarah pemikiran dan kebudayaan Arab-Islam sebagai payung besar perpuisian Arab, untuk menemukan problem utamanya. Telaah Adonis tersebut bersifat kritis dan menyeluruh, karena secara umum dia memotret cara pandang manusia Arab-Islam pasca berakhirnya era kenabian, hingga era kodifikasi, dan era modern, berdasarkan data-data yang dieksplorasi secara mendalam.

Bagi penulis, ats-Tsâbit wa al-Mutahawwil menjadi pijakan awal dalam menggali pemikiran Adonis tentang puisi (sastra) dalam kaitannya dengan (kebudayaan) Islam. Oleh karena itu, penulis akan memulai diskusi ini dengan mengurai pandangan Adonis tentang puisi dalam ats-Tsâbit wa al-Mutahawwil, sebelum masuk ke pembahasan utama makalah ini

Puisi dalam Kebudayaan Arab-Islam yang Dominan

Adonis menemukan di dalam kebudayaan Arab-Islam terdapat kelompok yang mapan/statis dan kelompok yang berubah/dinamis. Kelompok yang mapan sangat mendominasi, sehingga membentuk mentalitas yang dominan. Adonis mengilustrasikan kebudayaan yang mapan sebagai kebudayaan kekuasaan, karena dikendalikan oleh mazhab yang mapan dan (secara kebetulan) berjaring-temali dengan politik kekuasaan. Mazhab ini memiliki kecenderungan pemahaman agama yang tekstual, terutama dalam memahami wahyu. Sehingga pengetahuan agama yang seharusnya bersifat dinamis, justru berubah menjadi instruksi preskriptif yang menetapkan hukum bagi semua.

Arus kebudayaan semacam itu menjadikan agama bersifat formalis dan institutif. Bagi Adonis, penyebab utama terciptanya kondisi itu adalah cara pandang mayoritas masyarakat Islam yang cenderung mengafirmasi kemapanan pengetahuan Islam pasca berakhirnya era kenabian dan kemudian dikuatkan pada era kodifikasi/formatif (‘ashr at-Tadwîn). Sehingga mereka senantiasa merujuk pada format dan konsep pengetahuan yang telah dibakukan, bahkan ketika menghadapi realitas-realitas baru. Kalaupun mereka menciptakan sesuatu yang baru, namun sesuatu yang baru itu tetap sebagai cabang (far’) dari apa saja yang telah dibakukan (‘ashl).

Dalam kebudayaan yang mapan tersebut, puisi kehilangan karakter esensialnya. puisi justru hanya berkutat pada masa lalu, baik dari segi bentuk, format, gaya bahasa dan estetika. Kebudayaan tersebut menciptakan kondisi yang memaksa para penyair untuk meniru (ittibâ’) proses kepenyairan yang telah dibakukan oleh pakar bahasa dan sastra sebelumnya. Bahkan dari segi isi, puisi menjadi sarana ideologis; digunakan untuk membela dan menyerang mazhab tertentu. Tidak jarang, baik-buruknya puisi hanya diadili oleh doktrin agama (pemahaman dan konsep agama).

Sementara menurut Adonis puisi itu (seharusnya) dinamis dan kreatif (ibtidâ’). Dengan begitu, puisi mampu menyingkap tatanan dunia baru sebagai respon atas realitas kekinian, atau bahkan merubah realitas itu sendiri untuk membuka ruang masa depan. Puisi selalu berkaitan dengan perenungan intuitif (al-Hads), pengamatan (al-Istibshâr) dan penyingkapan (al-Kasyf). Dan tugas penyair adalah menyingkap yang tampak (al-Mar’î) dan yang tersembunyi (al-Lâ Mar’î) dari realitas melalui puisi. Menyingkap yang tampak merupakan aktivitas perasaan dan emosi, sedangkan menyingkap yang tersembunyi merupakan aktivitas pemikiran dan perenungan intuitif dalam memandang realitas.

Telaah Adonis terhadap kebudayaan Arab-Islam mengarah pada dua tujuan. Pertama, menemukan problem utama statisnya kebudayaan Islam, kemudian mendengungkan kembali semangat perubahan dan pembaruan dalam masyarakat Islam. Kedua, mengembalikan karakter esensial puisi, yaitu dinamis dan kreatif, serta menyelamatkannya dari doktrin agama yang institutif.

Sebagian orang menilai Adonis membenturkan agama Islam dan puisi. Karena dia tampak sering mengkritik agama dan membela puisi. Dia juga pernah berbicara terkait kebenaran agama dan kebenaran puisi di mana keduanya tampak saling berbenturan. Dia mengatakan, “Agama adalah jawaban. Sedangkan puisi adalah pertanyaan. Sebab itu agama tidak akan bisa menjadi rujukan puisi. Bahasa puisi adalah dialog antara yang terlihat dan yang tak terlihat, antara alam nyata dan alam gaib. Puisi adalah objek pertanyaan dan keraguan, bukan objek keimanan dan kepasrahan. Oleh karena itu, kita melihat kebenaran puisi dicari dalam yang tak diketahui dan non-rasional, berbeda dari kebenaran agama.”

Namun kritik Adonis terhadap agama sebenarnya tertuju pada pemahaman keagamaan yang berkembang secara dominan, yaitu pemahaman konservatif yang berkutat pada masa lalu; berorientasi pada formalitas syariat sehingga menjadikan agama bersifat formalis-institutif; dan meyakini kebenaran tunggal untuk semua orang. Jika diamati lebih dalam, pemahaman keagamaan yang dikritik oleh Adonis adalah pemahaman yang hanya menyentuh sisi eksoterik agama (zhâhir ad-Dîn).

Lantas, bagaimana relasi antara Islam (agama) dan puisi (sastra) dalam prespektif Adonis? Ihwal petanyaan inilah yang menjadi pembahasan utama dalam makalah ini.

Islam dan Puisi dalam Bingkai Perubahan

Adonis meyakini al-Quran, sebagai wahyu berupa teks, mengandung modernitas. Karena al-Quran, baik dari segi isi, gaya bahasa, bentuk, estetika dan pemikiran, membawa kebaruan yang bersifat revolusioner dan melampaui zamannya. Kebaruan yang dibawa al-Quran tidak ditemukan di dalam teks-teks sebelumnya, atau teks-teks lain yang semasa dengannya. Al-Quran sangat visioner, karena membuka ruang untuk masa depan. Teks al-Quran semacam genre teks baru, yang bagi Adonis, bisa membangkitkan kreativitas dan inovasi.

Risalah Islam yang dibawa Muhammad juga membawa semangat perubahan dan pencerahan. Perubahan dari tatanan jâhilî menuju tatanan baru. Namun kebudayaan yang berkembang di masa-masa berikutnya, justru didominasi pemahaman agama yang konservatif dan cenderung memegang teguh pemahaman tektstual atas wahyu. Hal itu, bagi Adonis tidak selaras dengan semangat kebaruan dan perubahan yang dibawa oleh wahyu. Oleh karena itu, dia getol mengkritik konservatisme.

Ada hal yang menarik saat Adonis mengkritik pemahaman agama konservatif yang mendominasi kebudayaan Arab-Islam, yaitu di waktu yang sama dia mengapresiasi dan mengagumi para penyair sufi dan gerakan tasawuf.

Dia menyebut gerakan tasawuf dalam masyarakat Islam sebagai salah satu kekuatan yang dinamis (mutahawwil). Para sufi membawa semangat modernitas, yaitu kreativitas (ibdâ’) dan perubahan (tahawwul). Mereka bergerak menuju totalitas pengetahuan dalam memahami dua dimensi agama yang tak terpisahkan, yaitu eksoterik dan esoterik atau syariat dan hakikat. Mereka juga menciptakan sesuatu yang disebut sebagai prinsip identitas yang berubah (mabda’ al-Huwiyyah al-Mutaghâyirah). Mereka mendialogkan antara diri, yang lain dan realitas antar budaya yang beragam.

Di tengah-tengah kebudayaan Islam yang didominasi konservatisme, kaum sufi menawarkan perubahan pemikiran Islam tentang al-Haqq (Allah) serta memberikan cara pandang baru dalam melihat realitas dan semesta sebagai teofani al-Haqq. Mereka memahami Allah tidak terpisah dari alam semesta, sehingga Allah dan alam semesta berada dalam relasi berhubungan (ittishāl). Sementara paham konservatif meletakkan Allah terpisah dari alam semesta (infishāl). Apa yang ditawarkan oleh kaum sufi merupakan revolusi pemikiran dan pengetahuan yang besar dalam Islam. Karena menyentuh hal yang paling dasar, yaitu terkait relasi seorang hamba dengan Tuhan.

Kaum sufi juga melahirkan semacam genre penulisan puisi baru. Mereka mengkespresikan pengalaman sufistik melalui puisi-puisi kaya estetika. Gaya bahasa yang mereka gunakan tidak terpaku pada satu gaya pengungkapan. Puisi-puisi mereka tampak murni karena mengikuti pengalaman batin yang eksistensial dengan al-Haqq dan alam semesta. Mereka mencipta puisi tidak untuk dipuji oleh pakar bahasa dan sastra. Pengalaman batin mereka membebaskan mereka sendiri untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Sehingga mereka tidak meniru. Mereka mencipta. Inilah revolusi besar kebahasaan dalam kebudayaan Islam.

Apresiasi dan kekaguman Adonis kepada para penyair sufi, menandakan dia tidak membenturkan puisi dan Islam. Justru dia memberikan isyarat lain bahwa keduanya bertemu dalam dimensi dan karakter yang sama, yaitu dimensi esoterik dan karakter penyingkapan. Tasawuf lahir dari rahim agama Islam. Melalui jalan tasawuf, seorang sufi berjalan menuju penyingkapan dimensi esoterik agama (bâthin ad-Dîn) dengan tujuan merengkuh totalitas pengetahuan atas syariat dan hakikat (zahir dan batin).

Sementara puisi merupakan respon intuitif atas realitas. Dan realitas itu sendiri, menurut Adonis, bersifat universal; segala yang tampak (mâ yazhhur) dan yang tersembunyi (mâ yakhfâ) di alam semesta merupakan realitas (wâqi’). Melalui jalan puisi, seorang penyair berjalan menuju totalitas penyingkapan atas yang tampak dan yang tersembunyi di dalam realitas. Momen penyingkapan sufistik dan puitik bersifat dinamis; senantiasa menyublim tanpa henti. Penyingkapan makna-makna al-Haqq yang dirasakan oleh para sufi selalu berubah. Sebagaimana penyingkapan puitik memberikan pemaknaan yang dinamis atas realitas.

Pada akhirnya penyingkapan sufistik dan puitik dalam diri sufi menjadi satu kesatuan. Karena bahasa sufistik adalah bahasa puitik; penuh simbol dan metafor. Pengalaman sufistik selalu berkaitan dengan al-Haqq yang tak terbahasakan secara utuh. Sehingga mereka mengkepresikannya dengan bahasa simbol dan metafor. Gaya bahasa sufistik yang semacam itu, selalu mengalami inovasi. Karena simbol dan metafor yang digunakan kaum sufi senantiasa berubah mengikuti perubahan kondisi spiritual yang mereka alami. Pada titik ini, bahasa sufistik berbeda dengan bahasa syariat murni yang menghendaki kejelasan secara tekstual. Dalam bahasa syariat, (hampir) segala sesuatu harus bisa dijelaskan dan dibahasakan secara utuh.

Lalu, bagaimana dengan puisi-puisi Adonis? Apakah kekagumannya pada tasawuf dan para penyair sufi menjadi inspirasi baginya dalam menulis puisi? Tampaknya demikian. Mari kita simak beberapa puisi Adonis berikut ini.

Rahasia-Rahasia

dengan kematian, kita akan mendekapnya
sebagai petualang, sebagai zahid
kematian membawa kita pada rahasia atas segala rahasianya
menetapkan yang tunggal dari kita yang plural

Adonis tidak sedang berbicara kematian sebagai berakhirnya kehidupan normal makhluk hidup. Dia berbicara kematian sufistik. Kematian yang dia maksud adalah kematian sebagai jalan menuju rahasia-rahasia ilahi dan mengarah pada kesatuan dengan al-Haqq. Agar menyatu dengan ­al-Haqq, seseorang harus mematikan ke-aku-annya. Itulah yang dalam tasawuf disebut momen keterpisahan manusia dengan ke-aku-nnya (al-Farq) menuju momen pertemuan dengan al-Haqq (al-Jam’). Ketika momen pertemuan tersebut telah terjadi, tidak ada lagi yang plural, yang ada hanya yang tunggal (al-Haqq).

Dalam puisi lain yang berjudul “Sang Pemberontak,” Adonis berbicara terkait kehidupan pasca kematian sufistik, yaitu kehidupan hakiki yang disinari hakikat. Dia mengatakan,

untukmu aku melantunkan hidupku
untukmu aku mengajari diriku pemberontakan
tiap huruf dalam nyanyianku
adalah tanah manusia baru
 yang—karenamu—mendapat asupan cahaya mentari purba
mendapat asupan hakikat

Dua puisi tersebut menunjukkan betapa kental nuansa sufistik dalam karya puisi Adonis. Karya puisinya menjadi semcam jalan spiritual (tharîqah) yang dilalui olehnya. Sebagai penutup, mari kita simak kembali puisi Adonis yang berbicara tentang konsep fanâ berikut ini.

Hilang

hilang… hilang…
hilang menyelamatkan kita
hilang menuntun langkah-langkah kita
hilang adalah cerlang, yang lain adalah topeng
hilang menyatukan kita dengan bukan diri kita
hilang menyematkan wajah lautan dalam mimpi kita
hilang adalah sebuah penantian

Dari uraian ini, terdapat beberapa poin yang perlu ditegaskan kembali oleh penulis. Pertama, pada dasarnya Adonis adalah penyair. Pemikirannya berawal dari kepenyairannya. Hal inilah yang membuatnya dipandang sebagai tokoh yang unik. Kedua, kritiknya atas kebudayaan Arab-Islam sebenarnya secara dominan mengarah pada konservatisme dalam beragama. Ketiga, Adonis menggali semangat modernitas justru dari masyarakat Islam itu sendiri, yaitu dari gerakan-gerakan perubahan (mutahawwil) yang muncul dalam masyarakat Islam klasik. Salah satunya adalah gerakan tasawuf dan kesusastraan kaum sufi. Keempat, Islam dan puisi sama-sama membawa semangat perubahan dan pencerahan. Islam dan puisi dipadukan oleh kaum sufi tanpa menghilangkan karakter esensial keduanya. Kelima, puisi-puisi Adonis cenderung bergaya sufistik, dan mengangkat tema-tema tasawuf.

Asmara Edo Kusuma
(Penulis dan Peneliti Adonis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.