Rubaiyat al-Khayyam

0
668

سمعتُ صوتاً هاتفاً في السحر
نادى من الغيب غفاة البشر
هبوا املأوا كأس المنى
قبل أن تملأ كأسَ العمر كفُ الَقَدر

Kudengar sebuah bisikan di tengah malam,
memanggil-mangil kealpaan manusia, dari balik kegaiban
bangkit dan penuhilah gelas karunia
Sebelum cawan usia segera dituangi oleh tapak suratan

لا تشغل البال بماضي الزمان
ولا بآتي العيش قبل الأوان
واغنم من الحاضر لذاته
فليس في طبع الليالي الأمان

Jangan sibukkan benak dengan masa silam
atau pada masa yang belum terjadi; masa depan
renggut saja lezatnya masa kini
karena ketenteraman bukanlah sifat alami daripada malam

غَدٌ بِظَهْرِ الغيب واليومُ لي
وكمْ يَخيبُ الظَنُ في المُقْبِلِ
ولَسْتُ بالغافل حتى أرى
جَمال دُنيايَ ولا أجتلي

Esok hanya bayangan, kumiliki hari ini
Betapa banyak rasa kecewa sebab masa nanti
Tiada kusadari itu hingga aku melihat
Bahwa tak pernah kuamati indahnya dunia ini

القلبُ قد أضْناه عِشْق الجَمال
والصَدرُ قد ضاقَ بما لا يُقال
يا ربِ هل يُرْضيكَ هذا الظَمأ
والماءُ يَنْسابُ أمامي زُلال

Hati menyempit sebab rindu Keindahan
dada sesak, menahan yang tidak terkatakan
Oh, Tuhan, relakah Engkau diri ini dirundung haus
sementara air bening mengalir di hadapan?

أولى بهذا القلبِ أن يَخْفِقا
وفي ضِرامِ الحُبِّ أنْ يُحرَقا
ما أضْيَعَ اليومَ الذي مَرَّ بي
من غير أن أهْوى وأن أعْشَقا

Biarlah jantung ini tetap berdebar
Senyampang dalam api cinta ia terbakar
Dan alangkah sempit hari yang kulalui
Tanpa mencintai dan liput kerinduan

أفِقْ خَفيفَ الظِلِ هذا السَحَر
نادى دَعِ النومَ وناغِ الوَتَر
فما أطالَ النومُ عُمرأ
ولا قَصَرَ في الأعمارَ طولُ السَهَر

Bangunlah, wahai si lena, di tengah malam gulita
Bangun, tinggalkan tidur, sapalah yang Esa
Sebab tidur tak akan memperpanjang umur
Demikian juga ia tak akan mengurangi usia

فكم تَوالى الليل بعد النهار
وطال بالأنجم هذا المدار
فامْشِ الهُوَيْنا إنَّ هذا الثَرى
من أعْيُنٍ ساحِرَةِ الاِحْوِرار

Entah sudah berapa malam mengganti siang
Dan bintang-bintang tetap berada di garis edar
Waspadalah engkau berjalan di bentala ini
yang tercipta dari mata elok nan menawan

لا توحِشِ النَفْسَ بخوف الظُنون
واغْنَمْ من الحاضر أمْنَ اليقين
فقد تَساوى في الثَرى راحلٌ غداً
وماضٍ من أُلوفِ السِنين

Jangan penuhi jiwa dengan cemas dugaan
Renggutlah masa kini yang berupa kepastian
Kita akan sama saja, dikubur di tanah ini
seperti yang kan mati esok atau yang telah ribuan tahun berpulang

أطفئ لَظى القلبِ بشَهْدِ الرِضاب
فإنما الأيام مِثل السَحاب
وعَيْشُنا طَيفُ خيالٍ فَنَلْ
حَظَكَ منه قبل فَوتِ الشباب

Padamkan api cinta dengan embusan
hari-hari laksana pawai awan-gemawan
hidup kita hanyalah bayang-bayang khayali
raih jatahmu sebelum masa remaja menghilang

لبست ثوب العيش لم اُسْتَشَرْ
وحِرتُ فيه بين شتى الفِكر
وسوف انضو الثوب عني ولم
أُدْرِكْ لماذا جِئْتُ أين المفر

Kukenakan gaun kehidupan tanpa ditanyakan
aku bimbang, di sana, di antara beragam pikiran
hingga suatu saat, aku akan melepasnya jua
bahkan tanpa kutahu, mengapa aku datang. Di manakah jalan keluar?

يا من يِحارُ الفَهمُ في قُدرَتِك
وتطلبُ النفسُ حِمى طاعتك
أسْكَرَني الإثم ولكنني
صَحَوْتُ بالآمال في رَحمَتِك

Wahai Dzat, pemahaman meracau saat menalar qudrat
sedangkan jiwa mohon perlindungan, senantiasa bertaat
Dosa telah memabukkanku, namun sungguhnya
aku senantiasa menaruh harap akan Rahmat

إن لم أَكُنْ أَخلصتُ في طاعتِك
فإنني أطمَعُ في رَحْمَتِك
وإنما يَشْفعُ لي أنني
قد عِشْتُ لا أُشرِكُ في وَحْدَتِك

Mungkin aku tak ikhlas dalam mematuhi-Mu
Namun aku sungguh rakus mendamba rahmat-Mu
Yang sesungguhnya dapat menolongku hanyalah
bahwa kuhidup sama sekali tanpa pernah menyekutukan-Mu

تُخفي عن الناس سنا طَلعتِك
وكل ما في الكونِ من صَنْعَتِك
فأنت مَجْلاهُ وأنت الذي
ترى بَديعَ الصُنْعِ في آيَتِك

Kau sembunyikan gemilang wujud-Mu
padahal segenap sarwa adalah pancaran ciptaan-Mu
Kau sang pencipta dan Engkau pula yang menunjukkan
rumitnya keindahan adikarya dalam para lambang-Mu

إن تُفْصَلُ القَطرةُ من بَحْرِها
ففي مَداهُ مُنْتَهى أَمرِها
تَقارَبَتْ يا رَبُ ما بيننا
مَسافةُ البُعْدِ على قَدرِها

Tetesan air yang terpisah dari samudera
pada kala tertentu, akan tiba pula di hilirnya
Jarak “di antara kita”, ya Tuhan, kini semakin dekat
akankah sampai ke ujung keterpisahan ini pada akhirnya?

يا عالمَ الأسرار عِلمَ اليَقين
وكاشِفَ الضُرِّ عن البائسين
يا قابل الأعذار عُدْنا إلى

Duhai yang Mahatahu pada rahasia-rahasia
Duhai penguak nestapa dari hati mereka yang putus asa
Duhai Dzat yang menerima segala rupa alasan, kami pulang
menuju teduh naung-Mu, taubat ini hendaklah diterima

 

Keterangan: Kuatrin ini adalah kuatrin pilihan yang diterjemahkan dari bahasa Persia oleh Ahmad Ramy, sastrawan Mesir, ke dalam bahasa Arab untuk selanjutnya dinyanyikan oleh Ummu Kulsum (dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh M. Faizi dengan rujukan dari berbagai sumber). Menurut Ramy, dalam sebuah wawancara, ini adalah terjemahan rubaiyat (kuatrin) Umar Al-Khayyam pertama ke dalam bahasa Arab yang dinukil langsung dari bahasa Persia. Umar al-Khayyam (1048-1131) adalah seorang filsuf, ahli astronomi, komposer, matematikus, juga penyair. Ia terlahir dengan nama Ghiyatsuddin Abul Fath Umar Ibrahim al-Khayyam di Nisaburi, sebuah kota yang kini terletak di Iran. Versi awal lagu yang diaransemen oleh komposer kawak Riyad Sunbathi ini adalah 37 menit. Dalam versi pertunjukan langsung (live) di Maroko pada tahun 1968, Ummu Kulsum menyanyikannya dengan durasi 84 menit. Dalam konser ini, vibrasi dan suara Sang Bintang Timur, biduanita yang dianggap paling berjasa memperkenalkan lagu Arab kepada dunia, tampak begitu mempesona dan berwibawa.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.