Puisi Arab Modern: Dari Abad Ke-19 Hingga Abad Ke-21 (Bagian I)

401

Ketika kita berbicara tentang perkembangan puisi Arab modern, setidaknya ada dua fenomena besar, yang menurut Halim Barakat perlu diamati. Pertama, perubahan konvensi puisi. Kedua, perubahan orientasi puisi. Perubahan konvensi puisi merupakan efek langsung dari pertentangan antara gaya lama dan gaya baru atau antara bentuk puisi klasik dan bentuk puisi baru. Sementara itu, fenomena perubahan orientasi bisa kita amati dari kecenderungan pemilihan tema yang bergeser menjadi lebih personal, humanis, dan sekuler. Kedua fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor yang dipicu oleh keterbukaan hubungan dengan Eropa yang selanjutnya menyebabkan peningkatan intensitas persentuhan para sastrawan Arab dengan sastra Barat, perubahan prilaku produksi media cetak yang dipicu oleh masuknya mesin cetak, dan tumbuhnya kelas menengah terdidik dalam struktur masyarakat Arab.

Pada masa modern, pusat-pusat kebudayaan kuno–Damaskus, Baghdad, Kairo, Lebanon–merupakan tempat para penyair bergelut dalam diskusi mengenai upaya untuk melepaskan diri dari konvensi lama yang kaku dan rigid serta beralih pada suatu bentuk ekspresi baru yang lebih bebas dan sesuai dengan konteks kekinian mereka. Berbagai sikap dan gerakan pun muncul sebagai reaksi nyata dari itu semua. Dan pada nyatanya, puisi Arab modern ini tidak muncul sebagaimana yang kita saksikan saat ini kecuali lahirnya gerakan-gerakan penting seperti; penghidupan dan kecintaan terhadap warisan nenek moyang, penerjemahan atas karya-karya sastra Barat dan keterpengaruhannya, seruan pembaharuan dan penyerangan terhadap tradisi, pemberontakan atas realitas dengan tujuan membangun masyarakat modern yang berperadaban, dan modernisasi bahasa puisi dan fungsinya.

Gerakan-gerakan inilah yang kemudian melahirkan berbagai macam aliran dalam puisi Arab yang masing-masing mencerminkan sikap dan strategi estetika mereka. Di antaranya seperti Aliran Klasik (al-klâsikiyyah/ al-ittibâ’iyyah), Aliran Romantisme (ar-rûmansiyyah), Aliran Realisme (al-wâqi’iyyah), dan Aliran Simbolisme (ar-ramziyyah).

Untuk meneropong bagaimana tumbuh-kembang puisi Arab di masa modern, berikut akan dipaparkan secara periodik perkembangan puisi Arab mulai dari Abad ke-19 hingga Abad ke-21. Pemaparan meliputi latar belakang sosio-politik, tren puisi yang berkembang, dan tokoh-tokoh berpengaruh yang telah turut andil mewarnai khasanah perpuisian Arab.

Puisi Arab Abad Ke-19 (1801-1900)

Sebuah era akan disebut dengan “Masa Kebangkitan” (‘Ashr an-Nahdhah) tatkala didahului oleh masa “Masa Kemunduran” (‘Ashr al-Inhithâth). Tentang kapan berakhirnya masa kemunduran ini, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa berakhirnya masa kemunduran ini ialah ketika Napoleon memasuki Mesir (1798) dan ada juga yang berpendapat bahwa saat Dinasti Utsmani mengalami kekalahan pada PD I (1918). Sastra Arab, secara umum mengalami kemunduran di akhir zaman-zaman pertengahan, dan telah mencapai titik kulminasi terendahnya pada abad ke-19, yaitu masa sulit bagi masyarakat Arab karena merebahnya buta huruf, tersendatnya ekonomi, munculnya intimidasi dari pihak luar dan adanya pengasingan agama dari diri mereka.

Puisi Arab pada awal abad ke-19 secara berangsur-angsur sebenarnya mulai terpengaruh oleh Eropa, meskipun dalam praktiknya menghadapi berbagai hambatan dari kaum tradisionalis yang ingin menjaga konvensi mono-rima klasik. Para kaum tradisionalis yang berorientasi pada tradisi puisi Arab klasik ini kemudian sering disebut sebagai gerakan neo-klasik. Motif munculnya gerakan ini sebenarnya adalah mengangkat dan mengukuhkan eksistensi dan karakter budaya Arab untuk melawan kekuatan asing yang masuk dengan didasarkan pada peran imajinasi dan nilai lokalitas.

Sebagaimana neo-klasik Barat yang berusaha menghidupkan kembali sastra Yunani dan Latin Kuno, neo-klasik Arab berkeinginan kuat untuk menghidupkan keindahan puisi-puisi lama (terutama puisi-puisi masa Abasiyyah) dengan dibalut semangat dan tema baru meski tak begitu variatif. Secara sepintas, pembaharuan genre puisi yang dilakukan oleh gerakan neo-klasik pada masa ini tidak begitu kentara karena tidak memiliki banyak inovasi. Hal yang tampak justru hanyalah peniruan terhadap karya-karya klasik di masa sebelumnya. Puisi-puisinya cenderung mengikuti gaya-gaya lama, baik dalam hal perasaan, tujuan ideologis, dan juga bentuk ungkapan. Di antara penyair kenamaan yang mengusung gerakan ini adalah Boutrus Karâmah (1774-1851) (Suriah), Hasan Quwaidir (1789-1845) (Mesir), Nashîf Al-Yâziji (1800-1871) (Lebanon), Syihabuddîn Mahmûd Al-Alûsi (1803-1854) (Irak), Mahmûd Shafwat As-Sa’atiy (1825-1881) (Mesir), A’isyah Taimuriyyah (1840-1902) (Mesir), dan Mahmûd Sâmî Al-Bârûdî (1838-1904) (Mesir).

Dari nama-nama tersebut, Al-Bârûdî disebut-sebut sebagai pelopor kebangkitan puisi Arab modern. Ia digambarkan seperti seorang Mutanabbî di masanya. Tak ayal jika julukan “Sya’ir An-Nahdhah” (“Penyair Kebangkitan”) disematkan kepadanya. Dalam usaha mencairkan kebekuan di bidang puisi pada masa itu, ia melakukan berbagai macam usaha pembaharuan yang setidaknya memiliki dua tujuan, yaitu pertama, membebaskan puisi di zamannya dari keindahan yang dibuat-buat  dan arkaisme palsu, dan kedua, mencari selera atau cita rasa puisi yang murni dengan cara menghidupkan kembali puisi besar di zaman Abbasiyyah dan tradisi puisi Arab klasik yang kaya dan yang tak asing baginya, bukan malah mencari tumpuan pada sastra Barat yang sama sekali tak dikenalnya.

Produk puisi yang dihasilkan oleh para penyair neo-klasik pada masa ini merupakan lanjutan dari tradisi skolastik yang lebih mementingkan kepandaian berbahasa daripada visi pribadi sehingga sebagian besar dari puisi mereka lebih mengedepankan kemerduan dan keindahan bunyi ketika dibacakan sehingga lebih bersifat oratoris daripada bersifat akrab dan liris.

Namun demikian, karena para penyair neo-klasik berpedoman pada “selera yang baik”, “kehalusan”, dan “kecermatan” dalam struktur dan gaya, serta cenderung untuk -dengan penuh perasaan- mengungkapkan tema-tema sosial dan patriotik, maka jelas mereka itu telah menghidupkan kembali bahasa puisi yang sudah membatu, menghidupkan kembali kepekaan estetik yang sudah mati, sehingga pada dasarnya puisi mereka merupakan ungkapan otentik tentang gagasan-gagasan dan aspirasi-aspirasi yang berlaku di masa itu.

Mengenai “penghidupan kembali” tersebut secara nasionalisme-politik memiliki arti yang sangat penting. Melalui gerakannya ini, Al-Bârûdî mampu membangkitkan kesadaran nasional bangsa Arab, terutama Mesir. Jadi, tampak bahwa “penghidupan kembali” tersebut oleh sebagian kritikus dipandang sebagai sebuah kekurangan, namun oleh yang lainnya justru dipandang sebagai sebuah kelebihan.

Tema-tema lama—sepertial-washf (deskripsi), al-madh (madah/pujian), al-fakhr (pembanggaan/keperwiraan), ar-ritsa’ (ratapan/elegi), al-ghazal (cinta), al-hikmah (kebijaksanaan), dan al-hija’ (kebencian)— tampaknya juga masih cukup mendominasi dengan sedikit modifikasi. Di antara modifikasi yang dilakukan semisal tema al-fakhr yang dulu digunakan untuk membangga-banggakan kelebihan seorang penyair atau sukunya, kemudian bergeser menjadi pembanggaan terhadap bangsa/umat. Demikian pula al-ghazal yang dulu cenderung digunakan untuk mengungkapkan kecantikan seseorang secara fisik, kemudian bergeser pada senandung cinta yang melukiskan gelora jiwa. Namun bagaimanapun juga, dengan neo-klasik yang diusungnya, Al-Bârûdî telah memberikan warna dalam sejarah perkembangan puisi Arab modern. Ia setidaknya telah mengembalikan kepercayaan diri para penyair Arab di zamannya.

A. Atho’illah Fathoni Alkhalil
(Penulis, Leksikolog, dan Pendiri the Muallaqat Forum of Jogjakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.