Elegi untuk Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki

foto: sastraarab.com

Duhai, engkau yang hidup di bawah tanah
Suaramu masih saja terngiang di antara kami

Engkau masih datang dan duduk bersama kami
Lalu berkata: “Allah telah berfirman dan Rasul telah bersabda!”

Seakan-akan wajahmu malam dengan rembulannya
Yang cahayanya terus bertambah pada tiap masa

Seakan-akan kuburmu taman hijau yang asri
tanahnya bak mutiara, debunya bak zamrud

Pakaianmu yang putih pun bertambah putih
Seakan-akan ia diperbaharui, dari bawah tanah

Belum pernah ada yang datang dari lubang dan galian
Sepertimu,  yang kelopak matanya masih terhias celak hitam

Apakah engkau hidup, namun mata kami tak melihatnya
Atau telah mati, namun terlahir setiap hari?

Duhai sang pemimpin baik hidup dan matinya
perpisahan ini, sungguh api yang tak mau padam

Duhai, yang singgah pada setiap hati
Syair dan qasidah akan ikut mati, setelah tiadamu

يا أيها الحيُ الذي تحتَ الثرى
مازالَ صوتُكَ بيننا يتردد

مازلتَ تأتينا وتجلسُ بيننا
وتقول: قال اللهُ قالَ محمد

وكأنَّ وجهكَ ليلةٌ قمريةٌ
النورُ من أنوارها يتزود

وكأنَّ قبركَ روضةٌ مخضرةٌ
فالطينُ درٌ والترابُ زُمرد

وثيابكَ البيضاءُ زادَ بياضُها
فكأنها تحتَ الثرى تتجدد

لم تأتِ من قبرٍ ولا من حُفرةٍ
مازالَ في عينيكَ كحلٌ أسود

هل أنتَ حيٌ لا تراهُ عيونُنا؟
أم ميتٌ في كلِّ يومٍ يولد

يا سيداً في موتهِ وحياتهِ
هذا وداعٌ نارهُ لا تبرد

يا من لهُ في كلِّ قلبٍ مرقد
والشعرُ بعدك ميتٌ .. فقصائدٌ
Diterjemahkan dari bait-bait syair elegi Syaikh Abdul Muhsin atas wafatnya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki.
Syaikh Abdul Muhsin: Seorang penyair dan penulis dari Saudi Arabia. Ia merupakan salah satu punggawa sastra di Kerajaan Saudi Arabia. Terkenal karena beberapa tulisan paper dan sajak-sajak yang menyuarakan tentang nasionalisme. Beberapa karyanya telah dipublikasikan di media massa, baik cetak maupun elektronik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.