Ahmad Mathar: Lambang Resistensi Rakyat Irak

64
Sastra Arab Iraq
foto: archnet.org
Sebagai penyair yang tumbuh di lingkungan konflik, puisi Ahmad Mathar tidak lepas dari tema-tema politik dan nasionalisme. Mathar terkenal sebagai penyair yang tajam dalam berpuisi. Bahasa puisinya tegas dan pedas saat mengkritik barat. Lingkungan sekitar mendorongnya untuk setia pada tema nasionalisme dan perlawanan. Puisi-puisinya tak mampu menyembunyikan rasa nasionalisme dan kebanggaan pada identitas kearaban. Jika kita masukkan kata Ahmad Mathar (أحمد مطر)  dalam mesin pencarian google, maka sederet puisi bertemakan politik dan perlawanan akan muncul di layar.
Puisi Ahmad Mathar memang seringkali mencuri perhatian khalayak karena kata-katanya yang lugas dan berani. Bahkan Mathar tak segan memaki Barat dengan sebutan anjing berkali-kali, dan tak malu mengungkapkan penderitaan kaumnya dan kerinduan mereka akan sepotong roti empuk.
أمريكا تطلق الكلب علينا
و بها من كلبها نستنجد
أمريكا تطلق النار لتنجينا من الكلب
فينجو كلبها… لكننا نستشهد
أمريكا تبعد الكلب…
! و لكن بدلا منه علينا تقعد
Amerika melemparkan anjing kepada kami
Lalu membuat kami memohon untuk menyingkirkan anjing itu.
Amerika menembakkan peluru berdalih menyelamatkan kami dari anjing itu
Si anjing selamat… kami yang mati syahid..
Amerika membuang anjing itu…
Imbalannya kami harus tunduk!
Potongan puisi tersebut berjudul Al Hashad (الحصاد)  yang berarti “panen”. Masa panen yang dinantikan oleh penduduk desa, masa panen yang ramai dengan pasar rakyat, masa panen yang penuh dengan riuh senandung kebahagiaan, terpaksa harus dihiasi dengan jerit tangis anak-anak yang kehilangan taman bermainnya dan air mata para janda yang kehilangan suami dan anak-anaknya akibat tertembak senapan tentara sekutu.
Tidak berhenti di situ saja, Mathar kembali mengeksplorasi sisi penderitaan rakyat Irak akibat kolonialisme. Dalam puisinya yang lain Mathar menyebutkan kerinduan rakyatnya akan kemerdekaan dan kesejahteraan, kerinduan pada kampung halaman yang damai dan sarat tradisi. Seperti dalam puisi Mafqudat di bawah ini.
Setelah satu tahun berlalu, dia datang lagi mengunjungi kami
Sekali lagi di berkata:
“Apa keluhan kalian? katakan dengan jujur dan lantang
Dan jangan takut pada siapapun”
Masa itu telah berlalu.
Tak ada yang mau mengadu!
Kini giliranku bicara:
Di mana roti dan susu itu?
Di mana ketentraman rumah itu?
Di mana lapangan pekerjaan itu?
Di mana orang
Yang memenuhi kebutuhan obat-obatan bagi fakir miskin yang cuma-cuma itu?
Maaf, Tuan
.. di mana temanku, Hasan?!
Sebenarnya puisi di atas cukup panjang, dan terdiri dari dua bagian. Pada bagian pertama puisi tersebut, Mathar menceritakan sahabatnya, Hasan yang menyampaikan aduan kepada seorang penguasa. Setelah penguasa itu berhasil meyakinkan bahwa aduan itu tak akan berujung celaka, tokoh Hasan menyampaikan sesuatu yang seolah-olah nyata dirasakan oleh rakyat Irak masa itu. Kerinduan akan kesejahteraan dan kebahagiaan masa lalu, sebuah tatapan nanar penuh harap bisa mencercap kembali makanan masa kecil dan bermain di halaman tanpa rasa takut pada bedil-bedil dan rudal. Bagian kedua merupakan penekanan sekaligus jawaban dari keresahan yang disampaikan pada bagian pertama. Narator (Mathar) menyampaikan keluhan yang sama dengan bagian pertama. Di bait terakhir, Mathar berusaha menegaskan bahwa si penguasa itu ingkar janji pada rakyatnya sendiri. Si penguasa tidak berhasil memenuhi janjinya untuk mensejahterakan rakyatnya, sekaligus memberi rasa aman pada rakyatnya.
Dua puisi Ahmad Mathar tersebut menjadi saksi kebiadaban kolonialisme dan penguasa yang tak mampu melepaskan diri bahkan mengabdi pada kolonialisme. Rakyat menjadi korban, masa depan bangsa menjadi taruhan.
Ahmad Mathar adalah seorang penyair berkebangsaan Irak yang dibesarkan oleh pengalaman diaspora di Barat. Realitas yang terjadi di tanah kelahirannya bertolak belakang dengan gagasan kemanusiaan dan HAM yang setiap saat digaungkan oleh Barat, bahkan Barat mengklaim bahwa bangsanya adalah bangsa yang paling menjunjung tinggi HAM dan nilai-nilai kemanusiaan. Tentu tanda tanya besar terlontar dari benak masyarakat timur yang selama ini hak-haknya terpasung oleh kolonialisme Barat. Alhasil, gagasan-gagasan dan janji-janji palsu kemanusiaan itu hanya dianggap isapan jempol belaka dan bualan yang tak ada habisnya.
Ahmad Mathar ingin menyampaikan kepada dunia bahwa di sini, di tanah ini (Irak) gagasan kemanusiaan yang digaungkan oleh barat itu sama sekali tak berbekas bahkan tak diindahkan oleh kolonialisme yang dengan seenaknya merenggut welas asih dan kepedulian penguasa kepada rakyatnya. Penguasa dijadikan boneka untuk merampas kesejahteraan rakyat demi kesejahteraan kolonial.
Demikianlah Ahmad Mathar mengisi hari-harinya, dengan puisi sebagai ekspresi kekesalannya kepada penguasa dan keprihatinannya sebagai bagian dari rakyat Irak yang terjajah. Hingga akhir hayatnya, sikap politik perlawanan Ahmad Mathar dikenang dalam kekuatan kata pada puisi-puisinya. Lalu, sebagai penyair berpengaruh, ia dijuluki Malik As Syu’ara (Raja para Penyair) sebagai simbol perlawanan rakyat Irak pada kejamnya kolonial dan acuhnya penguasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.