Keautentikan Hasrat Dalam Puisi Nizar

79
Nizar Qabbani
foto: google.com

SASTRAARAB.COM Sastra tercipta dari hasil pencerapan pengarang atas realitas dan kemudian diolah dengan sedemikian rupa dengan pikiran dan perasaannya secara kreatif. Sastra menjadi semacam cermin kreatif realitas dengan wujud baru yang berbeda dengan realitas yang sebenarnya. Meskipun berbeda, sastra tetap tidak bisa terpisah dari realitas karena pencerapan sastra bukan sekedar pencerapan bentuk karena pencerapan sastra adalah pencerapan esensi realitas. Pencerapan seperti ini berimplikasi pada hubungan sastra dan realitas bukan sekedar hubungan pantulan/refleksi tetapi hubungan homologis.

Pola penciptaan karya sastra tersebut dialami oleh semua sastrawan, termasuk Nizar Qabbani. Penciptaan sastra Nizar Qabbani (pikiran dan perasaan) tidak bisa dilepaskan dari realitas yang mengitarinya. Masyarakat adalah cermin yang dia gunakan untuk melihat dimensi wajahnya. Tanpa masyarakat dia menjadi tak berwajah. Bagi dia, puisi adalah ciuman antara dua orang, penyair dan masyarakat, sehingga penyair yang menafikan masyarakatnya adalah penyair yang mencoba untuk mencium dirinya sendiri (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 25). Dia mengatakan bahwa dalam menciptakan puisi dia menarik kecemasan dan emosi masyarakat yang dia rasakan dengan semangat futuristik, dia memposisikan dirinya sedang berada pada tanah harapan dan masa depan (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 9). Dia dengan puisinya mencoba menciptakan tatanan dunia imajinatif dan futuristik dengan pencerapan esensi realitas (kecemasan dan emosi yang dialami masyarakat).

Realitas dan Nizar adalah kesatuan pengalaman yang tunggal dan ekuivalen. Dia menolak anggapan Munir al Aksy bahwa ada pengalaman minor (pengalaman Nizar) dan pengalaman mayor (pengalaman umat manusia). Nizar mengatakan bahwa pengalaman minornya pada waktu yang sama adalah pengalaman mayor. Ketika dia berbicara tentang cinta dan kesedihannya, sebenarnya dia sedang berbicara tentang cinta dan kesedihan segenap umat manusia. Bagi Nizar, dirinya adalah bagian dari tanah air, masyarakat, sejarah, warisan budaya dan psikologis yang mengitarinya (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 10).

Meski Nizar menjadi sebuah kesatuan realitas dan mencerap esensi realitas tersebut kemudian mengolahnya menjadi puisi, puisinya tetap merupakan puisi yang otentik dan khas Nizar. Dengan kata lain, Nizar tidak kehilangan identitasnya sebagai subjek pencipta puisi. Tak ada satupun entitas yang menekan dan mendiktenya. Di atas kertas, dia menjadi sastrawan yang merdeka. Dia memiliki kebebasan Tuhan dan bertindak seperti Tuhan. Status inilah yang membuatnya keluar sebagai subjek (Tuhan) yang muncul dihadapan manusia untuk membacakan apa yang telah dia tulis. Menurut  Nizar, kitab suci hanyalah ekspresi dari hasrat ilahi untuk berkomunikasi. Jika tidak, Tuhan akan menyendiri. Oleh karena itu, puisi yang bersembunyi di menara gading dan tidak turun menemui manusia seperti ikan yang mati atau bunga batu, puisi yang kehilangan esensinya (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 12).

Transformasi puisi Nizar adalah transformasi yang otentik. Dia menolak pandangan bahwa transformasi puisinya dari puisi cinta ke puisi politik adalah hasil paksaan masyarakat dan merupakan komodifikasi perasan masyarakat. Dia menegaskan bahwa transformasi tersebut sama sekali bukan hal yang menguntungkan baginya secara material. Tidur di mata para wanita lebih menenangkan dari pada tidur di kawat berduri. Persoalan cinta adalah persoalan yang paling menyenangkan. Orang yang cerdas semestinya tidak jatuh ke dalam dunia politik dan meninggalkan percintaan (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 13). Dia bisa saja bermuka dua seperti yang dilakukan para penakut. Namun, Nizar memilih masuk ke dunia politik dan memilih jalan kematian. Dia percaya bahwa tulisan adalah varian dari kesyahidan dan penyair sejati adalah penyair yang mati karena tajamnya kata-kata yang dia lontarkan seperti yang dilakukan Socrates dan al Hallaj (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 14).

Estetika di dalam puisi Nizar adalah estetika yang dinamis dan transformatif. Nizar menolak kemandekan estetis yang dialami oleh para penyair sebelumnya. Nizar mencoba mencari keotentikan puisinya dengan tidak bergantung pada memori estetis para penyair Arab. Nizar menolak pandangan bahwa dia menggubah puisi berdasarkan pada memori estetika Arab atau memori estetika apapun. Dia mengkalim dirinya sebagai penyair yang telah kehilangan ingatan. Sejak awal dia mencoba untuk keluar dari bentuk puisi cinta orang Arab yang sudah ada sebelumnya. Dia adalah penyair pertama yang memasuki ruang cinta yang sempit dan menggambarkan hal-hal kontemporer yang berkaitan dengan cinta dengan gambaran yang detail (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 21). Berikut adalah puisi Nizar “Madkhal” yang kurang lebih dapat merepresentasikan pembaharuannya dalam puisi cinta (Qabbani, Ar Rasmu Bil Kalimat, hal. 1).

Oh violaku
Jika suatu hari aku membaca
Buku ini, buku yang tiada duanya
Maka berkatilah luka bakarku..setiap fasilah
Yang ku gubah tentangmu suatu hari nanti..menjadi sastra..
Ku gubah kedua matamu dengan cahaya. Apakah ada selainku yang telah menggubahkan kedua matamu dengan cahaya?
Aku tak tau sampai aku benar-benar
Melemparkan bintang dan meteor ke dadamu
Aku..Aku..dengan perasaan dan imajinasiku
Adalah debu kedua payudaramu yang ku ubah menjadi emas

Meskipun begitu, Gagasan Nizar tentang tranformasi estetis puisinya tidak sepenuhnya terlepas dari puisi Arab. Yang dikehendaki Nizar dari transformasi tersebut adalah munculnya kesadaran bahwa kultus terhadap tradisi bukanlah hal yang baik bagi sastra. Nizar menyadari bahwa kesusastraan Arab adalah kesustraan yang besar dan tidak semestinya estetika kesusastraan tersebut dibatasi dengan estetika tertentu atau tokoh tertentu. Dia mengatakan bahwa pengalaman sastrawi Umar bin Abi Rabiah dan Sakhim tidak diragukan lagi merupakan pengalaman yang menakjubkan. Namun, pengalaman tersebut tetap saja oase kecil di padang puisi Arab yang besar. Tidak semestinya pengalaman tersebut menjadi dasar untuk penilaian yang objektif (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 23).

Puisi dan estetikanya adalah entitas yang berproses (entity in process). Nizar tidak menganggap prosa sebagai bentuk akhir puisi. Dia sama sekali tidak percaya bahwa puisi memiliki titik akhir. Dia hanya beranggapan bahwa prosa adalah sebuah pintu untuk mengakhiri fase transisi antara fase jahiliyah dan peradaban[1]. Dengan prosa, dia bisa keluar dari botol sejarah yang sempit. Sebagai penyair, dia mengatakan bahwa dia sedang bermain di atas lembaran kebebasan dan dia tidak tahu sampai mana permainan itu akan membawanya.

Bermain” dalam pengertian Nizar membawa pada penyatuan dengan alam  (realitas) dan kemudian sang pemain (sastrawan) mengambil jarak dengan alam dan merenungkannya sehingga muncullah estetika. Namun, bermain yang dikehendaki Nizar adalah kebebasan yang berpihak dan memiliki dunia ideal yang dinanti. Dengan kata lain, dalam puisi Nizar memang menghendaki bentuk puisi yang baru tetapi dia sama sekali tidak mengabaikan muatan. Melalui puisi dia menghendaki kemajuan bangsa Arab. Dia mengatakan bahwa bangsa Arab adalah kehormatannya. Dia harus bersama bangsa Arab, bersyair bersama bangsa Arab dan menulis untuk bangsa Arab. Dia menanti kebudayaan bangsa Arab menjadi kebudayaan Harvard yang merupakan komitmennya di dalam puisi, budaya dan kebenaran (Qabbani, An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh, hal. 45).

Referensi

Madi, F. (2012). Dauru ‘Alamiyyah al Adab Wa Madzahibihi Fi Tathowwuri al Adab Wa Dzuhuri Ajnasihi al Adbiyyah. Bouira: Al Markaz al Jami’i Bil Bouira.

Qabbani, N. (t.thn.). An as Syi’ri wa al Jinsi wats Tsauroh.

Qabbani, N. (t.thn.). Ar Rasmu Bil Kalimat.

[1] Puisi Arab mengalami beberapa perubahan dari puisi jahiliyah (yang berpegang teguh pada aturan ilmu Arudh) (Madi, 2012, hal. 118), puisi muwasysyahat andalusiyyah (pada Abad 9 M) (Madi, 2012, hal. 118), puisi handasi (pada masa inkhithat) (Madi, 2012, hal. 119), puisi taqlidi (pada masa modern, nahdhah, dan diusung kelompok neo-klasik) (Madi, 2012, hal. 119), puisi maqtha’i (pada masa modern) (Madi, 2012, hal. 119), puisi prosais atau juga disebut puisi model Jibran (masa modern) (Madi, 2012, hal. 121), puisi lepas/mursal (masa modern) (Madi, 2012, hal. 124), dan puisi bebas (masa modern) (Madi, 2012, hal. 128).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.