Sajak-Sajak Farouq Juwaidah: Setelah Keberangkatan Matahari

109
foto: pinterest.com
Setelah Keberangkatan Matahari

waktu adalah mata malam yang berenang
di pantai-pantai tak dikenal
adalah jalan yang memakai baju-baju perang di sekitar kita
waktu adalah seorang tua yang tidur di jalan berbatu

waktu adalah kucing yang memangsa sisa-sisa tikus
kemudian berputar, kemudian menari, dalam ketetapan
waktu adalah seorang renta yang menjerit-jerit kelaparan
lalu mengadu:

“duhai tuhanku, inilah masa kelaparan,
orang-orang berguguran bagai belalang.
dan usia, oh usia, hanyalah saat yang sirna
setahun berlalu, dua tahun berlalu, hingga sepuluh tahun berlalu
aku tak tahu berapa tahun telah berlalu
usia hanyalah kaki angin
malam menjelma pagi
luka disembuhkan oleh luka”

waktuku adalah waktu di mana orang-orang berkata
aku tiba di zaman yang murung
namun bagiku, waktu adalah waktu
di mana aku tiba di masa yang keliru

kebenaran macam apa yang dapat diharap
bila dunia dan manusia ibarat angka-angka yang salah
kita melangkah pada sebuah jalan
di mana jiwa-jiwa kita kebingungan dalam diri

kita hidup dalam kegundahan
sedangkan kita tetap bersanding
bersama zaman yang keliru

kutulis alamat hari-hariku pada sebuah amplop
dengan nama jalan yang kemarin masih kukenang
sebab tak kuingat lagi nama jalan yang baru
jalan yang memprihatinkan itu kini tinggal cerita
orang-orang telah mengubahnya, telah mengubahnya, mengubahnya
namanya sudah dilupa, namun aku masih mengenalnya

sedangkan padaku, orang-orang berkata pada suatu hari
bahwa aku adalah seorang pengenang masa lalu
meski usiaku telah menjadi sarang laba-laba
meski aku telah menjelma pemakaman
meski bumi ini telah mati
aku tetap tak mau mati

dan mereka
akan menjulukiku
sebagai pengenang yang tetap tak sudi mati!

ما بعد رحيل الشمس

الوقت

عين الليل يسبح في شواطئها السواد

والدرب يلبس حولنا ثوب الحداد

شيخ ينام على الرصيف

قط وفأر ميت القط يأكل في بقايا الفأر ثم يدور يرقص في عناد

والشيخ يصرخ جائعا ويصيح: يا رب العباد

هذا زمان مجاعة و الناس تسقط كالجراد

العمر

يا للعمر وقت ضائع

عام مضى.. عامان.. عشر

لست أعرف كم مضى..

فالعمر في قدم الرياح

والليل يلتهم الصباح

والجرح ينزف بالجراح

***

زمني

يقول الناس إني جئت في زمن حزين

وأنا أقول بأنني

قد جئت في الزمن الخطأ

ماذا يفيد صوابنا

إن صارت الدنيا و صارت الناس كالرقم الخطأ؟

خطواتنا الحيرى على هذا الطريق

تردد الأنفاس في أعماقنا

ونعيش في أوهامنا

لكننا نحيا مع الزمن الخطأ

***

عنوان أيامي

على المظروف أكتب اسم شارعنا القديم

ما عدت أذكر اسم شارعنا الجديد

الشارع المسكين صار حكاية..

قد غيروه.. وغيروه.. وغيروه

ما عاد يذكر اسمه

لكنني ما زلت أعرف اسم شارعنا القديم

***

أما أنا

قالوا بأني كنت يوما فارس العشق القديم

وبأن عمري صار بيتا

من بيوت العنكبوت

ولأنني رغم القبور.. ورغم موت الأرض

أرفض أن أموت

قالوا بأني فارس ما زال يرفض أن يموت

 

Farouq Juwaidah, seorang penyair Mesir yang lahir pada 10 februari 1946. karya ini diterjemahkan langsung dari kitab puisinya yang berjudul li anni uhibbuki (sebab aku cinta padamu).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.