Nizar Qabbani: Puisi Yang Mencari Bentuk

arsip pribadi: sastraarab.com
sastraarab.com – Sebagai manifestasi budaya, sastra bukanlah suatu entitas yang statis. Ia mirip dengan makhluk hidup yang bisa berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu. Bedanya, jika makhluk hidup bergerak menuju ambang kematian. Sastra justru bergerak secara dinamis. Ia tumbuh dewasa, menua, meninggal dan bangkit lagi. Bahkan, di masa tuanya, sebelum ia terkubur, ia akan bangkit menjadi baru lagi.
Nizar Qabbani salah seorang penyair Arab yang berusaha untuk menyegarkan kembali kesusastraan Arab, khususnya puisi. Nizar melakukan pemberontakan terhadap tradisi berpuisi sebelumnya. Menurut Nizar, para penyair Arab terdahulu acapkali berpuisi dengan cara yang stagnan. Nizar di dalam bukunya yang berjudul An As Syi’ri Wal Jinsi Wa ast Tsaurati berkata:
Sejak awal aku mencoba untuk keluar dari bentuk puisi cinta orang Arab yang sudah ada sebelumnya. Selama pembacaan pertama saya terhadap puisi, aku menyadari bahwa ada hal yang mengkhawatirkan, yaitu bahwa semua kekasih di dalam puisi Arab adalah satu. Kekasih Jarir sama dengan kekasih Farazdaq, kekasih Abi Tamam sama dengan kekasih Ahmad Syauqi, Kahlil Muthran, dan Sami Pasha al Baroudi. Standar tubuh wanita adalah satu dan emosi akan kecantikan wanita selalu gurun, dalam arti bahwa Syauqi tidak bisa terbebas dari gemerincing gelang kaki Badui dan tenda-tenda mereka meski Syauqi berada di Paris, Spanyol, Jordan dan Zamalek. Hal itu benar-benar menggangguku. Oleh karena itu, aku ingin masuk ke dalam puisi Arab dari pintu lain, dan saya menaruh gairah dan hasrat di atas kertas tanpa metafora cinta orang lain dan merekam hubungan cinta secara modern dengan cara saya sendiri.
Secara eksplisit, pernyataan Nizar di atas menunjukkan pada kita bahwa dia telah bosan dengan cara berpuisi para penyair Arab sebelumnya. Dia berhasrat besar untuk menggubah puisi dengan caranya sendiri.
Fase penciptaan estetika puisi kreatif dan inovatif di dalam puisi Nizar adalah model fase terpenting konstruksi imajinasi Nizar. Nizar telah merangkai citra dirinya sendiri dengan mengolah benih-benih imajinasi dari dunia perempuan dan kondisi mereka dengan bentuk baru dan disajikan dalam puisi yang khas dengan cinta sebagai titik tekannya tanpa meniru pola-pola yang sudah ada sebelumnya dan beralih pada model estetika imajinatif yang berdasar pada asas estetika tubuh yang memberontak.
Di dalam puisinya, Nizar acapkali menangani wanita sebagai elemen parsial yang berhubungan dengan warna, bentuk dan waktu dan terkadang berhubungan dengan penubuhan-penubuhan minor (aksesoris). Ihsan Abbas di dalam buku “Nizar Qabbani Sya’ir al Marah” berkata:
Orang yang meneliti puisi Nizar secara intensif akan menemukan bahwa ketidaklaziman  puisi Nizar awalnya berkaitan dengan alam, persoalan-persoalan perempuan dan warna-warna yang berhubungan dengan perempuan, kemudian Nizar mulai mengalihkan perhatiannya pada kondisi gerak perempuan (menyisir rambut, berjalan di kafe  dan turun dari mobil, berbaring, menari …) dengan menekankan pada banyak hal seperti (lipstik, stocking, baju merah muda, rok …) sehingga dapat kita katakan bahwa Nizar mengacaukan perempuan dan kemudian merangkainya kembali menjadi sebuah wujud dengan masuk ke dalam parsialitas perempuan, suatu hal yang tak banyak dilakukan oleh para sastrawan sebelum Nizar. Dia juga menciptakan keberanian dalam berbahasa dan menampilkan bentuk secara simultan yang merupakan karakteristik paling kuat dari estetika Nizar.
Puisi Nizar yang berjudul “Syaqiiqataani” barangkali dapat menggambarkan bagaimana imajinasi-imajinasi Nizar bertingkah sehingga mewujudkan puisi yang tak lazim yang menggambarkan bagaimana seorang wanita dikuasai hasrat untuk berjumpa dalam sebuah perjumpaan yang dijanjikan:
Lipstik merah…dua perempuan bersaudara…
Dalam benakku..ada janji antara aku dan dia
Mana pacarku..sisirku..dan perhiasanku?
Dalam diriku, hasrat mengamuk layaknya badai
Ambilkan aku baju dari gantungan itu
Bawakan padaku sutera terbaik
Sisir rambutku…percantiklah aku…warnai
kukuku yang pucat, aku bergegas
kaos kakiku berserakan…apakah engkau telah memilihnya?
Engkau hampir memastikannya
Aku tidak mendustai Allah atas apa yang aku dakwakan
Hatiku hampir meninggalkan rasa welas asih
Duhai perempuan nan mulia
Apakah aku meninggalkannya
Sedangkan aku pucat nan lesu
Diseminasi penubuhan minor perempuan di dalam puisi Nizar mulai dari lipstik, sisir, pewarna, perhiasan, pakaian, dan berakhir dengan kaos kaki yang berserakan adalah salah satu cara untuk menggambarkan model baru yang terbebas dari penindasan kebiasaan lama dalam berpuisi. Oleh karena itu, dapat kita ketahui bahwa mekanisme pembentukan estetika di dalam puisi Nizar adalah penolakan atas norma-norma yang dicerap oleh sastra yang mengganggu dan membelenggu indra kreatifnya.

Penulis : Mirza Syauqi Futaqi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.